Informasi penting
Study abroad: Before you leave

LANGKAH PERTAMA MENUJU KULIAH DI LUAR NEGERI

9513

Setelah petugas imigrasi membubuhkan stempel di paspor dan menyambutmu dengan, “Welcome to the United States! ” kamu pun menyadari bahwa kamu telah benar-benar menginjakkan kaki di negeri orang.

 

Ketika terbesit pertanyaan di benakmu, “Kenapa aku harus kuliah ke luar negeri?” maka kamu harus membuatnya jadi kenyataan untuk mengerti alasannya.

Bukan karena gelar yang kamu dapatkan dari luar negeri bisa membuktikan bahwa kamu memiliki kapasitas yang sama dengan para pemikir cerdas internasional lainnya di luar sana. Bukan pula karena gelar yang kamu raih di luar negeri menjamin tingginya pendapatanmu di kemudian hari. Tidak juga karena teman-temanmu kamu kuliah di luar negeri, sehingga kamu pun harus ikut-ikutan.

Saat kamu mengepak koper untuk meninggalkan negeri tercinta ini pertama kalinya, kamu bisa jadi merasa senang atau sedih, “Asyik, nanti bisa melihat salju,” atau “ah, nanti nggak bisa makan nasi tiap hari!”. Mungkin kamu juga berpikir bahwa kamu sudah siap berangkat, karena kamu sudah berjuta kali memikirkannya. Namun, kenyataan, sebagian besar, selalu berbeda dengan apa yang sudah direncanakan...

Di bandara Soekarno-Hatta, saat ditimbang, kopermu terlalu berat. Kamu pun panik, tetapi setelah kamu memberikan tatapan wajah memelas pada petugas check-in, akhirnya mereka pun membiarkan kopermu kelebihan 1 kg.

Kemudian, kamu harus melewati bagian imigrasi. Petugas di sana akan memberikan beberapa pertanyaan dengan nada datar, “Mau pergi ke mana? Apa yang akan kamu lakukan di sana?”, dan petugas tersebut pun mengizinkanmu lewat, setelah semua pertanyaan terjawab.

Kamu segera menuju pintu gerbang, menunggu waktu naik pesawat. Kamu menatap setiap sudut ruang tunggu. Kamu pun bertanya-tanya kapan kamu akan kembali lagi ke ruang tunggu ini. Kamar kecil pun menjadi tempat bergantungmu untuk meredakan gelisah.

“Sebentar lagi, aku akan meninggalkan Indonesia.”

Lalu, kamu kembali ke ruang tunggu. Menelepon keluargamu, atau membalas pesan singkat dari sahabat-sahabat yang kebanyakan mengucapkan, “Semoga sukses di Amerika! Jangan lupa bawa oleh-oleh waktu pulang, ya.”

Petugas maskapai penerbangan pun mulai memanggil nomor-nomor kursi tertentu untuk segera naik ke pesawat. Kamu terus melihat boarding pass untuk memastikan, lalu berdiri dan menarik tas kabintergesa-gesa. Dan kamu pun berada di dalam kabin pesawat yang besar untuk pertama kalinya. Para pramugari menyambutmu dengan senyuman, “Welcome on board. What’s your seat number, Madam? 21B? Right here.”

Pengalaman ‘pertama’mu tidak berhenti di situ. Kamu memperhatikan dengan seksama demonstrasi keselamatan penumpang, bahkan membaca kartu tentang keselamatan penumpang yang berada di depan tempat dudukmu. Kamu mengintip penumpang yang duduk di sebelahmu, untuk melihat cara mereka memakai fasilitas hiburan dalam pesawat. Saat pramugari bertanya “what would you like to have, chicken or fish?”, dengan canggung kamu menjawab, “Chicken, please.” Ini adalah titik awal bagimu, karena kamu akan terus memakai bahasa Inggris sampai akhir tahun. Bukan untuk kursus, bukan untuk ujian IELTS. Namun untuk kehidupan sehari-hari.  

Saat itu, kamu terlalu lelah untuk menyadarinya. Ketika kamu tiba di tempat transit pertama, kamu tidak akan berhenti membandingkan perbedaan waktu setempat dengan Waktu Indonesia Barat. Tentu saja ini bukan hal yang aneh, karena bumi berputar, tetapi ini pertama kalinya kamu mengalami perbedaan waktu tersebut secara langsung. Sangat membingungkan. 

Hal yang sama terjadi berkali-kali, sampai akhirnya kamu tiba di negara tujuan. Saat kamu menunggu di antrian imigrasi, kamu berkeringat dan was-was. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Gimana nanti kalau petugasnya nggak ngijinin aku masuk?” atau, “Ada dokumen yang ketinggalan gak ya?” terus muncul di pikiranmu, tidak peduli seberapa kuat kamu berusaha untuk menenangkan diri. Namun setelah petugas imigrasi membubuhkan stempel di paspor dan menyambutmu dengan hangat, “Welcome to the United States!” kamu pun menyadari bahwa kamu telah benar-benar menginjakkan kaki di negeri orang.    

Semua proses tersebut hanyalah secuil perjalananmu menuju ke negara tujuan kuliahmu. Bayangkan berapa banyak hal baru yang akan kamu hadapi, setiap hari, sampai akhirnya kamu merasa nyaman dengan lingkungan baru? Hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sama sekali sebelumnya. Hal-hal sepele seperti “Ukuran kue di Amerika ternyata jauh lebih besar,” atau “Orang Inggris sangat menghargai tradisi mereka.”

“Kenapa aku harus kuliah ke luar negeri?” jawabannya adalah,

Bagi saya, paling tidak, untuk menemukan rumah baru di perantauan. Teman baru. Toko buku yang berbeda. Kafe es krim terenak. Pojok meja belajar ternyaman di perpustakaan. Taman untuk tempat jogging. Makanan lokal yang belum pernah kucoba sebelumnya. Pemandangan matahari terbenam yang tidak ada duanya.

Tanyakan pada dirimu,

“APAKAH AKU SIAP UNTUK MENCARI JATI DIRI DAN MENGHADAPI TANTANGAN BARU?”

 

Kisah nyata ini ditulis oleh Noor Titan Hartono

Noor Titan adalah mahasiswa tahun ketiga di Institut Teknologi Massachussetts (MIT) Amerika Serikat. Saat ini sedang menjalani pertukaran pelajar di Universitas Cambridge, Inggris, selama 1 tahun.

Musim panas tahun lalu, Noor Titan mendapatkan kesempatan untuk melakukan magang penelitian di Jerman. Pengalaman kuliah di luar negeri telah membantu Noor Titan untuk mendapatkan kesempatan magang dan melakukan penelitian di institusi bergengsi dan berkualitas. 

Kunjungi blog Noor Titan di www.noortitan.blogspot.com.

Mencari jurusan

Pilih negara
Sarjana
TENTANG PENULIS

Hotcourses Indonesia menyediakan informasi dan membantu proses melamar kuliah di luar negeri.

Coba lihat...