Informasi penting
Study abroad: Before you leave

KUNCI MENDAPATKAN BEASISWA LUAR NEGERI

41967

Mungkin, pertanyaan ini tidak hanya terjadi pada saya, tetapi juga pada mereka yang telah berhasil ke luar belajar di belahan bumi lainnya, utamanya karena mendapat beasiswa.

KOK BISA? BAGAIMANA CARANYA?

Sebagian mungkin merasa pertanyaan ini sangat mengesalkan karena, hey, kalau kamu beneran ingin tahu, sebenarnya kamu bisa mencari sendiri informasi di Google tanpa bertanya pada saya. But no, saya sendiri mungkin termasuk orang yang pernah mengajukan pertanyaan yang sama. Padahal prosesnya ya sudah jelas dan pasti yaitu mencari informasi, mendaftar, lengkapi persyaratan, berdoa, dan tunggu hasilnya. Tetapi, pertanyaan ini berulang kali muncul di kepala. Karena jujur saja, kadang saya masih heran dan setengah tidak percaya bisa mendapat beasiswa Fulbright ke Amerika, di salah satu universitas yang menurut saya cukup bergengsi pula, yaitu University of Arizona. Bear Down!

Saya pribadi merasa beruntung, tetapi banyak juga yang membesarkan hati saya kalau itu bukan tentang keberuntungan semata, tetapi juga karena perjuangan serta doa saya dan orang tua. Saat saya medapatkan beasiswa ini, saya tidak berada pada tahap ambisius seperti saat di bangku kuliah, di mana saya terobsesi harus mendapat nilai yang paling baik dan lulus sebagai yang terbaik.

Saat melamar beasiswa ini, saya pasrah, saya sudah bersungguh-sungguh dan telah berusaha sebaik-baiknya, jadi seandainya tidak berhasil, saya tidak akan terlalu kecewa karena setidaknya saya sudah mencoba. Namun, kemudian saya pun sadar, itu juga akumulasi dari usaha saya selama sekolah dan kerja, yang pada awalnya bukan untuk menciptakan CV yang bagus agar mendapatkan beasiswa. Kenyataannya, saat melamar kerja atau beasiswa, jejak langkah itu akan diperhitungkan juga. Seberapa sungguh-sungguh kamu dalam belajar atau berkarya sebelumnya, sehingga kamu berhak mendapatkan beasiswa ini? Seberapa bertanggungjawabkah kamu akan sekolah dan pekerjaan sebelumnya sehingga kamu pasti tidak akan menyalahgunakan beasiswa ini? Saya sengaja menuliskan ini karena saya ingin adik-adik yang mungkin masih sekolah atau kuliah bersungguh-sungguh dengan apa yang dikerjakan atau dipelajarinya. Berusahalah mendapatkan record yang bagus saat sekolah dan kuliah, karena prestasi yang kamu buat itu pasti akan berguna untukmu di suatu hari nanti. 

Saya berani mengatakan hal ini karena saya sudah membuktikannya. Saya tidak merasa sangat pintar sehingga bisa pergi ke Amerika. Saya dulu memang pernah bermimpi untuk keliling dunia, tapi saya merasa itu hanya sebatas angan belaka. Saya ingat juga pernah berdoa agar saya diberi kesempatan ke luar negeri walaupun saya tidak begitu merasa jelas apa tujuannya. But it did come true.

Saya hanya anak Indonesia biasa yang datang dari sebuah desa yang mungkin tidak ada gaungnya. Orang tua saya hanya petani kecil biasa. Bahkan tidak ada satu pun di keluarga saya yang menjadi pegawai kantoran, ataupun PNS. Saya adalah generasi pertama yang melanjutkan sekolah hingga jenjang SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Mungkin karena itu lah saya bersungguh-sungguh karena saya tidak ingin jerih payah orang tua saya sia-sia. Namun demikian, saya sendiri merasa kalau pemikiran saya, bahkan sampai saat ini, sangat sempit karena memang dunia saya kecil, dan saya hanya menerima apa yang disuguhkan pada saya, sebuah pemikiran yang masih berusaha saya ubah. Jadi kalau sebagian orang merasa saya rendah hati, itu tidak sepenuhnya benar, karena saya memang tidak punya yang bisa disombongkan. Ketika dulu di sekolah saya juara atau saat kuliah mendapat IPK yang baik, saya tahu saya bisa mempertanggungjawabkannya, karena saya benar-benar belajar, berusaha dan tidak sekedar berleha-leha, apalagi mencontek agar dapat nilai ‘A’. Everything comes with a price, jangan dikira saya begitu karena memang pintar dari sononya. So, this is what I want you to think:

SUDAH BERSUNGGUH-SUNGGUH DAN JUJURKAH KAMU DENGAN APA YANG KAMU LAKUKAN SAAT INI?

Bisa kuliah di Amerika memang sebuah anugerah bagi saya, apalagi saya jadi punya kesempatan untuk menyalurkan hobi ‘mbolang’ saya ke tempat-tempat yang indah. Saya bisa merasakan sendiri rasanya bermain salju saat musim dingin, menatap daun-daun di pohon yang berubah warna saat musim gugur, semua yang tidak ada di negeri saya, Indonesia. Namun yang saya dapat lebih dari itu. Ke Amerika dengan beasiswa, bukan hanya tentang mutual understanding antara Amerika dan budaya kita, tapi lebih jauh lagi: it’s about the world! Saya bertemu dengan banyak orang dari lintas benua dengan latar belakang yang berbeda. Hal yang menarik adalah saya bisa bertukar pikiran dengan mereka dan kadang saya terkesima dengan cara pandang mereka yang selama ini tidak pernah terbesit di benak saya. Saya jadi tahu budaya mereka dan alih-alih menghakimi, hal itu membuat saya lebih mengerti, memahami, dan menghargai mereka. Jadi sebenarnya pergi ke Amerika (atau negara lainnya) bukan semata-mata untuk check-in di tempat berbeda, lebih dari itu adalah untuk membuka pikiran kita.

THAT’S BECAUSE WHEN YOU KNOW MORE, YOU’LL UNDERSTAND MORE, AND BECOME WISER AND LESS JUDGMENTAL.

Hal lain yang saya senangi dengan kuliah di Amerika adalah saya jadi tahu rasanya menjadi minoritas. Sebagai seorang muslim, saya termasuk dalam kelompok mayoritas di Indonesia. Meskipun saya selalu berhubungan baik dengan teman-teman yang berbeda agama, menjadi minoritas di negeri orang itu menantang sekali. Awalnya saya khawatir akan banyak orang yang tidak menyukai saya, terutama karena saya memakai jilbab, sangat terlihat identitas keislaman saya. Kita sendiri sering mendengar banyak media memberitakan citra buruk Islam di dunia. Guess what, sejauh ini, Alhamdulillah saya merasa aman dan tenang. Saya bertemu banyak orang yang sangat baik dan ramah pada saya. Mereka sangat menghargai dan selalu siap membantu saya. Saya merasa terlindungi. Saya jadi berpikir, mungkin kelompok minoritas di Indonesia merasakan kebahagiaan yang sama saat kita menghormati dan menghargai perbedaan yang ada. Dan mungkin, mereka merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang sama saat kita berusaha mencurangi hak-hak mereka. Kekhawatiran saya sebelumnya memang wajar tapi toh tidak perlu terlalu dirisaukan, karena dalam hidup ini prinsip dasarnya adalah:

YOU TREAT PEOPLE WELL, THEY TREAT YOU WELL. IF YOU TREAT THEM WELL BUT THEY TREAT YOU BADLY, THEN THE PROBLEM IS WITH THEM, NOT YOU.

Selain bertemu dengan orang Amerika dan teman dari negara lain, saya tentunya juga bertemu dengan teman seperantauan dari Indonesia yang tidak semuanya dibawah naungan Fulbright, tapi program beasiswa yang berbeda-beda. Saya jadi malu karena tidak mengetahui program-program itu sebelumnya. Ternyata kesempatan beasiswa itu jauh lebih banyak dari yang saya duga. Dan keterbatasan informasi ini, masih menjadi masalah bagi sebagian wilayah di bumi Indonesia. Sekalipun kesempatan beasiswa itu banyak, tidak semuanya mempunyai akses yang sama terhadap informasi tersebut dan tidak semuanya terbiasa mencari tahu sendiri.

Bukan bermaksud memanjakan tipe-tipe orang yang masih suka ‘disuapi’ dengan informasi semacam ini, tetapi setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda untuk membuka pikirannya sebelum akhirnya mereka bisa mandiri. Akan lebih baik jika sekolah atau jajaran yang ada mengekspos sebanyak mungkin informasi tentang beasiswa kepada siswa atau mahasiswa sambil melatih mereka untuk mencari informasi secara mandiri. Kadang mereka tidak mencoba bukan karena mereka takut tidak berhasil, tapi justru karena mereka tidak tahu kalau mereka punya kesempatan untuk mencoba. Dan jika mereka tidak mencari tahu, mungkin karena mereka belum terbiasa dengan hal-hal di luar apa yang disuguhkan pada mereka. Tugas kita semua lah untuk merubah hal ini. Berikan mereka exposure pada kesempatan yang ada, latih mereka untuk mencari kesempatan ini, dan jika satu atau dua orang berhasil, kita bisa berharap hal tersebut bisa menginspirasi dan memotivasi yang lainnya, bukan hanya pada tempat atau kota besar saja, tapi kita juga perlu menunjukkan kesempatan yang sama di kota kecil atau pelosok lainnya.

Dan jika pada akhirnya memang ada yang takut mencoba walaupun mereka sudah tahu akan kesempatan yang ada, sekalipun keberuntungan dan faktor eksternal itu juga berkontribusi pada keberhasilan/kegagalan kita, kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak mencoba. Kalau saya tidak mencoba melamar beasiswa ini, saya 100% pasti tidak akan mendapatkannya kan? Kalau saya tidak mencoba, kemungkinannya hanya 1: saya gagal. Dengan mencoba, kamu mempunyai dua kemungkinan: berhasil dan gagal. Dan kamu bisa terus berusaha, berdoa, dan jangan lupa mohon restu orangtua.

SO, GIVE IT A TRY! IF YOU WANT IT, START DOING SOMETHING ABOUT IT!

Saya berharap tulisan meracau saya ini ada manfaatnya. Dan saya berharap tulisan saya ini dibaca oleh adik-adik saya di sekolah saya dulu atau di sekolah-sekolah lainnya.

KALAU SAYA BISA, MEREKA PUN PUNYA KESEMPATAN YANG SAMA.

 

Kisah nyata ini ditulis oleh Siti Juwariyah

Siti Juwariyah adalah mahasiswa program S2 Fulbright jurusan English as A Second Language di University of Arizona. Sebelum mendapatkan beasiswa, Siti adalah dosen bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Malang. Salah satu moto hidup favorit Siti adalah "We might have been born to lose, but we are never born to give up. We never were." Moto ini diambil dari film Thailand yang berjudul "Suckseed".

Ikuti petualangan seru Siti Juwariyah di https://juwaisme.wordpress.com/.

 

Mencari jurusan

Pilih negara
Pascasarjana
TENTANG PENULIS

Hotcourses Indonesia menyediakan informasi dan membantu proses melamar kuliah di luar negeri.

Coba lihat...