Informasi penting
Study abroad: Info Negara Tujuan

9 Universitas Paling Fleksibel di Amerika

1216

Pernahkah kamu mengikuti kelas Introduction to Statistics di dalam auditorium yang penuh dengan 300 mahasiswa yang mengantuk, melamunkan serentetan mata kuliah yang menarik yang mungkin saja dapat kamu ambil, seandainya kamu tidak perlu mengambil mata kuliah eksakta wajib?

Aku sendiri pernah mengalaminya; aku melamunkan mata kuliah fantasi bernama “Anthropology of Food” dan menganalisa efek budaya dari crème brûlée. Sementara kenyataannya, professor yang di mataku terlihat seperti semut kecil di depan auditorium sedang menggumamkan sesuatu mengenai pengetesan hipotesa.

Jelas-jelas aku tidak terlalu menyukai matematika (meskipun masak-memasak juga sebenarnya tidak), namun apapun bidang keahlianmu, kamu sendiri mungkin mengerti rasanya harus mengambil mata kuliah atau pelajaran yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tujuan pembelajaran atau pun minat studimu.

 

Kecuali kamu berada di salah satu dari sekolah-sekolah yang cukup mempercayai murid-muridnya sendiri untuk menentukan mata kuliah apa yang mau mereka ambil—misalpun ada mata kuliah wajib yang perlu mereka ambil sebagai syarat kelulusan, kewajiban ini sekadar berupa tugas menulis dan satu mata kuliah di bidang humanities, sains, dan matematika—mata kuliah yang masih cukup berhubungan dengan jurusanmu dan tidak mencakup kuliah-kuliah “Pengantar”; bahkan tujuan utama sekolah-sekolah tersebut adalah untuk membentuk murid-murid yang dipenuhi rasa ingin tahu yang kuat yang berani mendobrak batasan-batasan antara jurusan yang ada.

 

Banyak dari kita mengasosiasikan istilah “fleksibilitas” dengan kekuatan fisik dari seorang pesenam Olimpiade dan bukannya kurikulum akademik sekolah kita. Namun di 9 sekolah berikut, istilah ini merupakan bagian inti dari nilai-nilai akademik mereka:

 

1. Brown University

Ini mungkin salah satu sekolah yang terkenal paling “fleksibel”(mungkin ini berkat Emma Watson, alias si Hermione Granger). Brown tidak memiliki ketentuan mata kuliah wajib (terlepas dari tugas menulis). Begitu tiba di Providence, kampus mereka di Rhode Island, para murid memiliki kebebasan untuk langsung menentukan mana mata kuliah yang mencakup minat mereka dan mana yang tidak.

Emma Watson di upacara kelulusannya

Persyaratan:

Satu persyaratan umum yang diharuskan oleh universitas ini hanyalah keharusan untuk mengambil mata kuliah menulis—Writing Course. Setiap siswa wajib memenuhi ketentuan ini untuk menempuh jurusan yang mereka minati. Dan ketika akhirnya mereka memilih spesialisasi mereka, para murid perlu mendeskripsikan esai macam apa yang telah mereka tulis di Brown dan karya tulis macam apa yang mereka ingin lakukan di jurusan mereka.

Para murid “didorong” untuk menulis satu research paper, seminar paper, atau pun honor thesis di jurusan mereka secara independen.

(Tertarik? Yuk cek universitasnya di sini!)

 

2. Carnegie Mellon University

Carnegie Mellon menawarkan program-program yang telah didesain secara spesifik untuk para murid yang memiliki minat di lebih dari satu jurusan. Salah satu contohnya adalah BXA Intercollege Degree Program yang mereka miliki, yang mencakup Bachelor of Humanities and Arts, the Bachelor of Science and Arts, dan Bachelor of Computer Science and Arts Programs.

Konsultan Akademik BXA di Carnegie Mellon, Stephanie Murray, berkata bahwa para murid di program ini “terkadang membuatku kelelahan hanya dengan melihat ke arah mereka; mereka sangatlah bersemangat dan terlibat dalam apapun yang sedang mereka lakukan.” Bisakah kamu bayangkan si Rachel Berry dari film Glee berjalan-jalan di ruang-ruang BXA?

 

Salah satu murid BXA yang sangatlah antusias, Julie Mallis, saat ini sedang menempuh S1 di bidang Art & Anthropology. “Aku sudah lama tahu bahwa aku ingin bisa terjun di bidang seni, dan aku pun ingin melakukan sesuatu yang berhubungan dengan manusia pada umumnya,” kata Mallis. “Untuk masuk ke program [BXA] ini, kamu perlu benar-benar menginginkannya, jadi aku langsung mengambil kelas-kelas yang ingin aku ambil—dan berhubungan dengan minat studiku.”

 

Ketika ditanya mengenai tanggapannya akan peluang untuk mendesain gol studinya sendiri, Julia berkata: “Aku tidak memiliki waktu untuk ‘dibuang’ untuk melakukan hal-hal yang tidak menarik perhatianku. Memiliki kebebasan semacam ini—mempelajari dua bidang yang berbeda sangatlah mempengaruhi karya-karyaku dan bahkan menjadikannya semakin bagus. Aku tidak memiliki formula atau rumusan tertentu, dan aku sekadar mengikuti instingku.” Salut untuk Julie Mallis!

 

Persyaratan:

Masing-masing program BXA memiliki satu set persyaratan kurikulum yang unik berdasarkan kecenderungan akademik masing-masing siswanya. Persyaratan yang ada cukup bervariasi; mulai dari kuliah Bahasa dan ilmu sosial, sampai ke matematika dan sains.

Para murid juga diharuskan untuk menempuh seminar riset tahun pertama, proyek capstone di tingkat senior dan lokakarya skill komputer.

 

Tiap-tiap murid harus memilih spesialisasi di bidang seni rupa di satu dari lima sekolah dalam College of Fine Arts: Arsitektur, Seni, Desain, Drama, atau Musik.

Mereka pun harus mengambil spesialisasi lain dalam jurusan yang mereka ambil (Humaniora, Sains, atau Ilmu Komputer).

Tertarik? Yuk cek universitasnya di sini!

*PENTING:

Carnegie Mellon University juga hadir di Australia! Kalau suka dengan negara yang lebih dekat di Australia, info lengkapnya di sini!

 

3. Amherst College

Para murid di Amherst diberikan kebebasan untuk mendesain program studi mereka sendiri karena sekolah ini memiliki kurikulum terbuka tanpa persyaratan mata kuliah atau pendidikan wajib. Amherst pun menawarkan Independent Scholar Program untuk mahasiswa yang tidak ingin mengikuti pola tradisional di universitas dalam memilih jurusan tertentu. Program ini ditujukan untuk mahasiswa yang direkomendasikan oleh staff dari fakultas mereka, dan mahasiswa yang bersangkutan berkesempatan untuk mendesain program studi mereka sendiri dengan bantuan seorang tutor.

Persyaratan:

Di tahun pertama mereka, para murid harus mengikuti Seminar Tahun Pertama. Mereka harus memenuhi persyaratan ini untuk menempuh jurusan yang mereka pilih.

(Tertarik? Yuk cek universitasnya di sini!)

 

 

4. NYU Gallatin School of Individualized Study

Tahukah kamu bahwa ada lebih dari 10 sekolah dan kampus di New York University? Namun Gallantin yang hanya memiliki 1.200 murid-murid S1 adalah kampus yang paling fleksibel. Murid-murid di kampus Gallantin mendesain program studi mereka sendiri sesuai dengan minat studi mereka. Di Gallantin tidak ada jurusan atau spesialisasi tertentu—semuanya ini merupakan tanggung jawab yang dibebankan ke masing-masing siswa agar mereka dapat mendesain kurikulum yang menarik sesuai dengan kreativitas dan kapasitas akademik mereka.

Menurut Director of Academic & Student Affairs Gallantin, Lauren Kaminsky, Gallantin menawarkan “interdisciplinary, dan bukan multidisciplinary. Para murid didorong untuk menggapai potensi mereka secara maksimal dengan menanyakan apa yang akan terjadi ketika bidang-bidang yang berbeda digabungkan/dipadukan.”

 

“Gallantin tidak hanya menyokong para murid untuk memiliki mindset bebas semacam ini, namun juga untuk menciptakan hal-hal baru serta kesempatan,” ujar Kaminsky. “Saat kamu mengajar di Gallantin, kamu bisa jelas-jelas melihat bahwa para murid berada di kampus tersebut karena mereka ingin berada di sana dan karena mereka sangatlah menyukai apa yang sedang mereka tempuh, dan ini mengubah mood keseluruhan ruangan.”

 

Persyaratan:

Murid-murid Gallantin harus mendesain spesialisasi mereka berdasarkan minat, biasanya dengan mengkombinasikan karya-karya mereka dengan mengkombinasikan dua atau lebih bidang studi dan mengambil mata kuliah di beberapa departemen di NYU.

Masing-masing harus menyelesaikan setidaknya 32 sks di jurusan liberal arts dalam humaniora, ilmu sosial, matematika atau sains, dan esai eksposisi, baik di Gallantin maupun di kampus-kampus lain di NYU.

Murid-murid harus mengambil Senior Colloquium, “tes oral” yang mana masing-masing murid akan merefleksikan spesialisasi yang mereka ambil dan membagikan apa yang telah ia pelajari di Gallantin.

(Tertarik? Yuk cek universitasnya di sini!)

 

5. Hamilton College

Hamilton College yang terletak di desa di Clinton, NY, adalah sekolah liberal arts kecil yang membanggakan warisannya dalam mengedukasi siswa/i-nya untuk menjadi penulis-penulis dan pemikir-pemikir hebat yang suksees. Di Hamilton tidak ada persyaratan kurikulum. Murid-murid di Hamilton mengejar minat dan tujuan belajar mereka dengan bantuan seorang konsultan pendidikan.

Persyaratan:

Hamilton “mendorong” murid-muridnya untuk menempuh setidaknya 4 Proseminars yang berfokus pada writing, speaking, dan diskusi.

Murid-murid pun diharuskan untuk lulus dari setidaknya 3 mata kuliah menulis.

Dimulai dengan murid-murid angkatan 2014, sekarang masing-masing mahasiswa diharuskan menempuh satu matakuliah “quantitative and symbolic reasoning.”

Masing-masing siswa diharuskan memilih spesialisasi dan menyelesaikan persyaratan kuliah ini sebagai persyaratan kelulusan.

(Tertarik? Yuk cek universitasnya di sini!)

 

6. University of Massachusetts-Amherst

Murid-murid di UMass-Amherst memiliki kesempatan untuk mendaftar di program S1 dengan program Individual Concentration (BDIC), yang khusus didesain untuk mereka yang ingin mengeksplorasi mata kuliah yang tidak ditawarkan oleh kurikulum dalam departemen mereka.

Madeleine Guthrie Ashton yang sedang menempuh tahun keduanya di UMass-Amherst dan berencana untuk mengambil jurusan Fashion Design & Advertising sedang mendaftar untuk program BDIC untuk semester musim semi nanti. “Program ini benar-benar membantuku untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar ingin kulakukan, dan ada banyak sekali kebebasan untukku untuk mengeksplorasi hal-hal yang aku minati,” kata Madeleine. “Aku merasa benar-benar frustrasi ketika aku memutuskan untuk mempelajari fashion dan menyadari bahwa bidang ini bukanlah salah satu jurusan yang ditawarkan. Namun aku merasa lega ketika menyadari bahwa aku memiliki kesempatan untuk menjalani bidang yang aku sukai,” katanya.

“Aku akan merekomendasikan program ini ke orang lain,” kata Madeleine. “Menurutku ini adalah salah satu pilihan yang sangat bagus untuk membantuku melakukan hal-hal yang aku minati dan pada saat yang bersamaan aku tidak perlu berpindah fakultas atau universitas,” katanya.

 

Persyaratan:

Murid-murid BDIC harus mengumpulkan proposal minat spesialisasi mereka secara formal, dan ini biasanya ditulis selagi mereka menempuh kelas Proposal Writing—salah satu mata kuliah wajib bagi para siswa/i di program yang mereka ambil.

Masing-masing siswa/i harus menempuh setidaknya 12 mata kuliah yang berhubungan dengan spesialisasi mereka. Pengalaman di luar kelas seperti kesempatan magang dan studi secara independen dapat juga dilakukan untuk menempuh persyaratan sks mereka.

Para murid harus mengambil mata kuliah dari setidaknya dua departemen yang ada di tiap semester.

Di tahun terakhir mereka di BDIC, masing-masing perlu mengumpulkan Ringkasan Senior sebanyak 6 halaman dan satu halaman Abstrak.

(Tertarik? Yuk cek universitasnya di sini!)

 

7. Smith College

Smith College merupakan sekolah liberal arts kecil di Northampton, Massachusetts, dan ia tidak memiliki persyaratan tetap untuk kelulusan. Malahan murid-murid diberikan kebebasan untuk mendesain kurikulum mereka sendiri dibantu oleh seorang konsultan untuk meyakinkan bahwa mata kuliah yang mereka ambil dapat memenuhi persyaratan di jurusan yang mereka tempuh. Murid-murid juga boleh menempuh spesialisasi minor. Smith menawarkan spesialisasi di berbagai macam bidang seperti Ilmu Biomatematika, Museum, Puisi, dan Pengarsipan sekaliber Tomb-Raider.

Persyaratan:

Para murid harus memenuhi semua persyaratan di jurusan yang mereka ambil.

Masing-masing perlu mengambil setidaknya 64 sks mata kuliah di luar departemen atau program jurusan mereka.

(Tertarik? Yuk cek universitasnya di sini!)

 

8. University of Rochester

“Kurikulum terbuka yang mereka tawarkan adalah alasanku memilih Rochester—aku berasal dari California, jadi ini merupakan faktor penentu yang cukup kuat,” kata Margaret Close yang mengambil jurusan Psikologi dengan minor di bidang Brain and Cognitive Sciences. “Memilih jurusan Psikologi di tahap awal memberiku kesempatan untuk mengembangkan area studi yang sangatlah spesifik di masa studiku di sini,” katanya. “Aku dapat memulai mengembangkan konsep yang kuperlukan untuk risetku di tahun-tahun awalku, dan di tahun terakhirku sekarang aku menghabiskan satu tahun untuk menyelesaikan thesisku dan mengeksplorasi minatku: efek dari kesehatan mental para ibu pada kondisi jantung dan perkembangan fisiologi bayi,” ucap Margaret.

“Murid-murid yang menginginkan kebebasan semacam ini-lah yang biasanya mendaftar di universitas kami,” ujar Suzanne O’Brien, Associate Dean of The College di University of Rochester. “Murid-murid yang menginginkan seorang tutor yang terus mendiktekan apa perlu mereka lakukan mungkin tidak akan tertarik menempuh kuliah di sini,” kata beliau.

Margaret pun setuju dengan O’Brien, dan ia menekankan program-program yang memiliki banyak fleksibilitas yang mungkin tidak selalu cocok bagi semua orang. “Seperti yang kamu lihat, aku menyukai sistem kurikulum terbuka ini—dan aku tidak memiliki masalah sama sekali,” katanya. “Namun ini mungkin bukanlah sesuatu yang tepat untuk semua orang. Aku rasa sekolah-sekolah dengan sedikit batasan atau ketentuan sangatlah cocok bagi mereka yang sangat independen dan sudah tau pasti akan apa yang ingin mereka lakukan. Tidak semua orang tau pasti apa yang ingin mereka pelajari saat mereka baru memulai kuliah mereka, dan tidak ada yang salah juga dengan itu. Sekolah-sekolah yang memiliki persyaratan yang lebih terstruktur mungkin justru akan lebih membantu mereka karena mata kuliah umum terkadang dapat membantu mereka mencari fokus yang tepat.”

 

Persyaratan:

Murid-murid di University of Rochester perlu menempuh persyaratan writing.

Masing-masing murid memilih jurusan mereka sendiri-sendiri di bidang apapun yang termasuk dalam 3 departemen di universitas ini: Humaniora, Ilmu Sosial atau Natural Science & Engineering.

Murid-murid perlu menempuh setidaknya satu set berisi tiga mata kuliah yang berhubungan dengan minat mereka di tiap-tiap divisi di luar jurusan mereka.

(Tertarik? Yuk cek universitasnya di sini!)

 

9. Vassar College

Karena sedikitnya sekolah-sekolah liberal arts yang memiliki kurikulum terbuka di daftar ini, Vassar termasuk diantara serentetan sekolah yang “fleksibel.” Meskipun Vassar memiliki persyaratan tertentu di kurikulum mereka, persyaratan ini tidaklah banyak dan ini tidak akan membuang waktu murid-murid selagi mereka mencapai tujuan dan minat akademik mereka.

Persyaratan:

Para murid perlu Menempuh Seminar Menulis di Tahun Pertama mereka.

Mereka pun perlu menyelesaikan persyaratan mata kuliah kuantitatif.

Syarat ketiga (dan terakhir) adalah ketentuan Bahasa asing. Murid-murid perlu menempuh kriteria-kriteria tersebut di masing-masing jurusan yang mereka ambil.

Murid-murid di Vassar dapat menempuh satu jurusan melalui spesialisasi yang mereka ambil di departemen, atau interdepartemental yang ada, atau melalui program multidisciplinary, dan bisa juga melalui studi mata kuliah yang didesain sendiri di program independen.

(Tertarik? Yuk cek universitasnya di sini!)

 

Narasumber:

  • Stephanie Murray, Academic Advisor, Carnegie Mellon BXA Intercollege Degree Programs
  • Julie Mallis, Carnegie Mellon student
  • Lauren Kaminsky, Director of Academic and Student Affairs, NYU Gallatin SchoolGallatin 
  • Caroline Bagby, UMass-Amherst student
  • Madeline Guthrie Ashton, UMass-Amherst student
  • Suzanne O’Brien, Associate Dean of The College, University of Rochester
  • Margaret Close, University of Rochester student

 

(Sumber: http://www.hercampus.com/life/9-most-flexible-colleges-country?page=3)

Mencari jurusan

Pilih negara
Sarjana
TENTANG PENULIS

Dian Wijayanti adalah penulis dan editor Hotcourses Indonesia. Ia juga berprofesi sebagai tutor privat Bahasa Inggris dan penerjemah freelance. Dian baru saja dipilih sebagai salah satu kandidat di the Graduate School of Asia Pacific di Waseda University Jepang. Ia juga memiliki pengalaman bekerja di konsultan pendidikan di Indonesia yang bertanggung jawab membantu mahasiswa Indonesia meneruskan pendidikan mereka ke luar negeri, dan sekarang ia ikut membantu dalam proyek Beasiswa untuk Mahasiswa/i Kebidanan yang berbasis di Australia.