Informasi penting
Study abroad: Info Negara Tujuan

CULTURE SHOCK SEWAKTU KAMU KULIAH KE LUAR NEGERI

2505

Saat kuliah di negara-negara barat (baca: Inggris, Amerika, Kanada, Irlandia, Swedia, Belanda dan Selandia Baru), kamu pasti menemukan hal-hal yang tidak biasa. Beberapa diantaranya yang mengagetkan adalah:

 

 

1. Ukuran baju kamu tiba-tiba menyusut

 

Kalau biasanya di Indonesia kamu pakai ukuran M, L atau bahkan XL, di negara barat ukuran kamu turun drastis menjadi S atau bahkan XS! Banyak juga yang akhirnya memilih ke ukuran anak-anak

 

 

2. Toilet kering tanpa air

 

Di Indonesia, setelah buang air kecil dan besar, sudah menjadi kebiasaan yang mengakar kita membersihkan diri dengan air. Namun di negara-negara barat, mereka membersihkan diri dengan tisu toilet. Jadi, kamu harus berusaha membiasakan diri dengan kebiasaan ini selama kuliah di luar negeri

 

 

3. Konsep cantik/tampan bukan lagi putih tapi ‘gelap’

 

Kalau di Indonesia, kamu dibilang sama teman ‘eh kamu kok tambah hitam sih’, pasti kamu tersinggung. Pujian yang sering diharapkan dari teman atau pasangan adalah ‘kamu tambah putih ya’. Tapi kalau kamu berada di negara-negara barat, terutama yang iklimnya dingin sekali, seperti Inggris, Irlandia, Swedia dan Kanada, berkulit sawo matang merupakan hal yang sangat eksotis. Dan kulit warna ini telah menjadi konsep kencantikan di negara barat.  Jadi, kalau kamu belanja produk kecantikan, jangan kaget kamu tidak bisa menemukan produk kosmetik yang mengandung whitening, yang ada malah ‘self tanning’.  Karena hal ini pula, jangan memberikan pujian kepada mahasiswa dari negara barat kalau kulit mereka terlihat putih, karena mereka tidak suka terlihat putih (pucat).  ‘You look so white’ menjadi komentar haram.

 

 

4. Berat badan bukan hal pertama yang patut dikomentari

 

Sudah menjadi hal yang lazim kalau bertemu teman setelah lama tidak jumpa atau melihat foto terbaru mereka di situs jejaring sosial, kita memberikan komentar tentang berat badan. Contohnya seperti ‘ih tambah gemukan’, ‘kamu kok kurusan sih’. Di negara barat, komentar ini dianggap sangat tidak sopan.

Pada umumnya, pertanyaan yang bersifat personal/pribadi, menjadi what-not-to-do list kamu ketika kuliah di negara-negara barat, contoh lainnya adalah:

  • ‘Are you married?’
  • ‘Do you have children/husband/wife/girlfriend/boyfriend?’
  • ‘How old are you?’
  • ‘What’s your religion?’

 

 

5. Kurs mata uang membuat kamu kaget beberapa bulan pertama

 

Biasanya di rumah, dengan uang 20rb kamu bisa makan semangkok bakso, jangan berharap dengan uang yang sama kamu bisa makan sepiring nasi di negara barat. Apalagi dengan mata uang Rupiah yang sedang bertarung saat ini:

£1= Rp. 22.000

€1= Rp. 16.000

US$1= Rp.14.000

CAN$1= Rp. 10.900

AUS$1= Rp. 10.000

NZ$1= Rp. 9.000

Harga bubble tea/kopi di kota London antara £2-£3, sekitar  Rp. 60rb an, harga sewa satu kamar seperti kos, antara £400-800 (Rp. 8-18 jt an). Hal-hal seperti ini harus diantisipasi sebelum kamu berangkat kuliah di negara barat, karena bisa membantu beradaptasi dengan cepat di tempat baru.

 

 

6. Sinar matahari tiba-tiba menjadi barang yang sangat berharga

 

Di negara 4 musim, musim panas menjadi musim yang paling dinantikan. Di Indonesia, sepanjang tahun kita bisa melihat matahari. Di negara-negara Eropa, Kanada, dan Amerika Serikat, matahari sering tertutup mendung sepanjang minggu bahkan ada yang berbulan-bulan. Musim salju/dingin, matahari terbit antara jam 8-9 pagi, dan terbenam sekitar jam 3-4 sore (waktu malam lebih lama). Ketika kamu berada di Indonesia, hal ini terdengar bagus, karena banyak dari kita tidak suka panas terik matahari. Namun, iklim yang seperti ini tidak bagus untuk mereka yang berkulit gelap. Kulit gelap (hitam dan sawo matang) memerlukan lebih banyak sinar matahari karena membutuhkan lebih banyak pigmen. Kalau kekurangan sinar matahari dan pro vitamin D, salah satu efek sampingnya adalah moody/depresi ketika musim dingin tiba. Untuk itu, mahasiswa Indonesia yang berada di negara-negara tersebut dianjurkan untuk mengkonsumsi suplemen vitamin D3 dan segera berjemur ketika matahari sedang muncul, meskipun kurang dari 1 jam/sehari.

 

 

7. Tidak semua orang tersenyum dan perlu basa-basi untuk menunjukkan keramahan

 

Bagi kita, tersenyum dan memulai pembicaraan dengan orang asing bukanlah hal yang aneh. Ketika kamu berada di salah satu negara barat tersebut, ada baiknya kamu mengenal orang tersebut dahulu. Ada negara-negara yang mendapatkan reputasi tidak humoris, seperti negara-negara Skandinavia (Denmark,Norwegia, Swedia, dan Finlandia).

 

 

8. Bahasa Inggris yang kamu pelajari di Indonesia ternyata tidak ada apa-apanya

 

Bahasa Inggris menjadi bahasa ketiga untuk mayoritas pelajar Indonesia, karena kita punya bahasa local (Bahasa Bali, Batak, Jawa, Banjar, Papua, dll) dan bahasa Indonesia. Untuk itu, banyak di antara mereka mengambil kursus (selain yang diberikan di sekolah). Tidak jarang kita bergantung pada buku atau apa yang diberikan guru kita (guru yang bukan penutur asli). Dan hal ini berdampak pada bahasa Inggris yang sangat formal. Ketika tiba di negara-negara berbahasa Inggris, ternyata banyak sekali istilah/ungkapan yang tidak pernah kita pelajari di Indonesia, contohnya:

  • ‘How are you?’ menjadi ‘How you doing?’
  • ‘I have finished’ menjadi ‘I am done’ atau ‘I am all set’
  • ‘I love you so much’ menjadi ‘I love you to bits’

Dan masih banyak sekali istilah-istilah yang jarang kita dengar sewaktu kita belajar di Indonesia. Belum lagi aksen yang kadang tidak kita pahami. Di Inggris, aksen yang sering kali susah dipahami adalah aksen Skotlandia, Wales dan Irlandia.

 

 

 

 

Baca juga:

Apa itu Culture Shock dan bagaimana cara mengatasinya?

Mencari jurusan

Pilih negara
JenjangPendidikan*
TENTANG PENULIS