Informasi penting
Study abroad: Once you arrive

6 Pidato Orientasi Mahasiswa Baru yang Paling Berkesan

1064

“Waktumu terbatas, jadi jangan menghabiskannya dengan menjalani hidup orang lain.”

 

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, menyambut tepuk tangan saat ia dikawal oleh Presiden Rutgers, Robert Barchi di High Point Solutions Stadium di 250 tahun upacara orientasi mahasiswa baru di Universitas Rutgers di New Brunswick, New Jersey, di 15 Mei 2016 lalu.

 

Bapak Presiden dianggap cukup pantas dan sudah sangat cocok menghantarkan tradisi kelulusan ini setelah beberapa kali berpidato sepanjang 8 tahun menghuni Gedung Putih.

 

Beberapa pidato kelulusan yang memang ditujukan untuk terus menginspirasi dan menyemangati, terkadang lebih berkesan dibanding lainnya. Beberapa bahkan menorehkan memori dalam satu generasi.

 

Berikut adalah enam yang paling mencolok di beberapa tahun terakhir.

 

Sheryl Sandberg

Pidato kelulusan Sheryl Sandberg berisi kisah duka yang penuh haru dan motivasi setelah kematian suaminya Dave Goldberg tahun lalu.


CEO Facebook itu memberitahu angkatan 2016 di Berkeley mengenai dukanya, dan harapannya agar yang lain pun belajar dari pengalamannya.

 

“Kamu tidaklah dilahirkan dengan sejumlah ketahanan tertentu. Seperti halnya otot, kamu dapat membentuk ketahananmu sendiri dan sewaktu-waktu menggunakannya saat kamu perlu. Dalam proses tersebut kamu akan menemukan kembali jati dirimu—dan kamu perlu menjadi versi dirimu sendiri yang terbaik.

 

“Kematian Dave telah mengubahku dengan luar biasa. Aku belajar mengenai kesedihan yang amat mendalam dan kebrutalan dari rasa kehilangan. Namun aku juga belajar bahwa saat kehidupan menarikmu ke dalam jurang, kamu dapat menendang ke dasarnya, mendobrak ke permukaan, dan bernafas kembali. Aku belajar bahwa di tengah-tengah kehilangan—atau dalam tantangan macam apapun—kamu selalu dapat mencari hikmahnya.

 

“Bulan lalu, 11 hari sebelum peringatan kematian Dave, aku menangis di depan temanku. Ada banyak tempat di dunia ini, tapi kami memilih untuk duduk di lantai kamar mandi. Aku berkata, “Sebelas hari. Setahun yang lalu ia hanya memiliki 11 hari untuk hidup, dan tak satupun dari kami yang tahu.” Kami menatap satu sama lain selagi bertangisan dan bertanya-tanya ke diri kami sendiri apa yang akan terjadi apabila kami sendiri menyadari bahwa kami hanya memiliki 11 hari untuk hidup.

 

“Di waktu kelulusanmu ini, bisakah kamu mengandaikan apabila kamu hanya memiliki 11 hari untuk hidup? Tentu maksudku bukan berarti kamu harus meninggalkan semuanya dan berpesta setiap saat—meskipun malam ini memang pengecualian ya—tapi cobalah hidup dengan pengertian akan betapa berharganya tiap harimu apabila kamu hanya memiliki waktu 11 hari.

 

“Ketika terjadi suatu tragedi ataupun sesuatu yang membuatmu kecewa, ketahuilah bahwa kamu selalu memiliki ketahanan untuk bertahan melalui apa pun juga.”

 

 

(Klik di sini untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai UC Berkeley)

 

 

Steve Jobs

"Hari ini aku ingin memberimu tiga kisah hidupku. Itu saja. Sesuatu yang biasa-biasa saja. Tiga kisah saja.”

 

Itu mungkin adalah pidato paling sederhana dan paling tidak dilebih-lebihkan dalam sejarah pidato kelulusan, yang dibawakan oleh Steve Jobs, salah seorang pendiri Apple, di Stanford University di tahun 2005.

Tiga kisah tersebut berkisar mengenai pengalamannya dengan kematian.

 

“Mengingat waktuku telah dekat adalah suatu fakta yang paling penting di hidupku yang membantuku untuk membuat keputusan-keputusan penting di dalam hidup. Karena hampir semua—semua harapanku, kebanggaanku, ketakutan akan rasa malu atau kegagalan—kesemuanya ini menjadi sangatlah tidak penting, dan hanya hal-hal yang memang sungguh-sungguh penting lah yang menjadi nyata. Ketika waktumu sudah dekat, kamu justru belajar untuk menghindari jebakan pemikiran bahwa kamu memiliki sesuatu yang tak bisa hilang. Nyatanya, kamu sudah lama telanjang. Karenanya tidak ada lagi alasan untuk tidak mengikuti kata hatimu.

 

 

“Sekitar setahun yang lalu aku didiagnosa dengan penyakit kanker. Aku melakukan scan pukul 7.30 pagi, dan hasilnya menunjukkan sebuah tumor di pankreas-ku. Aku bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Kemudian para dokter memberitahuku bahwa ini sudah dipastikan sebuah jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan aku hanya akan hidup selama sekitar 3-6 bulan lagi.

 

"Ini merupakan momen-ku yang terdekat dalam menghadapi kematian, dan aku harap inilah yang terdekat yang akan aku alami dalam satu dekade berikutnya. Setelah bertahan hidup melaluinya, aku sekarang dapat memberitahumu dengan lebih pasti bahwa kematian adalah konsep yang berguna dan murni intelektual: Tak seorang pun ingin mati. Bahkan orang-orang yang ingin masuk ke surga tidak ingin mati untuk mencapainya. Namun kematian adalah satu tujuan dimana kita semua akan bertemu. Tak seorang pun dapat lari daripadanya. Dan memang demikian seharusnya, karena kematian mungkin adalah penemuan hidup yang paling jenius. Kematian adalah agen pengubah hidup, dan ia membentuk jalan baru di dalam hidup kita, menggantikan yang lama.

 

“Saat ini kamu adalah generasi baru, namun tak lama dari sekarang, kamu akan perlahan menjadi yang tua dan akan segera digantikan. Maaf aku terlalu dramatis, namun ini fakta.

 

“Waktumu terbatas, jadi jangan habiskan waktumu untuk menjalani hidup orang lain. Janganlah terjebak dengan dogma—yaitu hidup menjalani pemikiran orang lain. Jangan sampai kebisingan dari opini orang-orang lain menenggelamkan suara hatimu. Dan yang terpenting, beranilah untuk mengikuti hati dan intuisimu. Entah bagaimana caranya, mereka sudah mengerti dan tahu aspirasi terbesarmu. Lainnya belakangan.”

 

 

(Klik di sini untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai Stanford University)

 

 

Ira Glass

Ira Glass, pembawa acara This American Life, yang disiarkan di radio publik di Amerika dan merupakan podcast yang juga populer, memberikan pidato di upacara orientasi di Goucher College di Baltimore di tahun 2012.

Dalam pidatonya, beliau menjelaskan betapa ia tidak setuju dengan adanya pidato di acara orientasi.

 

“Menurutku ini merupakan cara yang tidak efektif. Kebanyakan pembicara memberikan banyak sekali saran yang kemudian akan dihiraukan. Misi utama dari pidato semacam ini pun cukuplah konyol, yaitu untuk memberikan inspirasi di ajang ketika inspirasi sebenarnya justru tak diperlukan. Lihatlah dirimu sendiri saat ini, sesuatu yang luar biasa sedang terjadi.”

 

Setelah menyingkapkan rahasia bahwa ia merelakan keperjakaannya di Goucher, ia menyampaikan pesan terakhirnya.

 

“Kamu akan melakukan kebodohan. Kamu akan membuat orangtuamu khawatir, seperti halnya aku dulu. Kamu akan mempertanyakan keputusan-keputusan yang kamu ambil. Kamu akan mempertanyakan pertemananmu, pekerjaanmu, teman-temanmu, tempatmu tinggal, apa yang kamu pelajari selama kuliah—dan takjub sendiri bahwa kamu bisa mencapai universitas—dan yang ingin aku katakan adalah: Tidak apa-apa. Mempertanyakan kesemuanya itu merupakan sesuatu yang normal. Kalau hal ini terjadi, kamu sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun."

 

 

(Klik di sini untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai Goucher College)

 

 

J.K. Rowling

Ketika ia berbicara di Harvard di tahun 2008, J.K. Rowling memutuskan untuk memfokuskan pidatonya ke kegagalan, sesuatu yang sering ia alami sebelum akhirnya ia mendapat sukses di skala internasional.

 

“Jadi mengapa aku justru berbicara mengenai manfaat kegagalan? Karena kegagalan berarti mengeliminasi hal-hal yang tidaklah penting. Aku berhenti berpura-pura menjadi sesuatu yang bukanlah bagian dari diriku sendiri dan mulai mengarahkan energiku untuk menyelesaikan satu-satunya pekerjaan yang sungguh-sungguh berarti untukku. Seandainya saja aku justru sukses di bidang lainnya, aku mungkin tak akan pernah menemukan motivasi untuk mencari kesuksesan di bidang tempat keahlianku berada. Aku merasa dibebaskan, karena ketakutan terbesarku justru telah menjadi nyata, dan aku masih bertahan hidup, dan memiliki seorang putri yang aku puja, dan aku memiliki sebuah mesin ketik tua dan sebuah ide yang luar biasa besar. Dan landasan yang berbatu-batu menjadi sesuatu yang solid, tempatku membangun hidupku.”

 

 

(Klik di sini untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai Harvard University)

 

 

Arnold Schwarzenegger

Salah satu tema pidato Arnold Schwarzenegger yang ia sampaikan kepada angkatan 2010 di Emory University adalah perlunya untuk melanggar peraturan dan mengacuhkan mereka yang penuh keraguan.

 

Aktor dan politikus tersebut membagikan banyaknya keraguan yang ia terima ketika ia mencoba memasuki Hollywood.

 

“Bayangkan apa kata para agen tersebut. Semuanya mengatakan hal yang sama: Bahwa ini merupakan hal yang mustahil, bahwa ada peraturan yang berbeda di sini. Mereka berkata, ‘Lihatlah tubuhmu. Kamu memiliki tubuh yang luar biasa besar. Ini tidak akan pas di film mana pun. Kamu tak mengerti.’

 

“Dan mereka juga mengomentari aksenku. Mereka berkata, ‘Tak ada satu pun bintang film yang memiliki aksen seperti itu, apalagi aksen Jerman seperti yang kamu miliki.’

 

“Dan bayangkan saja, nama Arnold Schwartzenschnitzel, atau apalah itu, tercantum di billboard. Mana mungkin ada yang akan membeli tiketnya.’ Dan inilah sikap-sikap negatif yang kerap muncul.

 

“Namun aku menolak untuk mendengarkan. Itu adalah peraturan mereka dan bukan peraturanku. Aku yakin aku dapat melakukannya apabila aku bekerja keras, seperti yang kulakukan dalam bodybuilding, lima jam tiap hari. Dan aku mulai bekerja, aku mulai mengambil kelas-kelas akting. Aku mengambil kelas Bahasa Inggris, kelas pidato, dan kelas berdialog. Aku bahkan mengambil kelas-kelas untuk membantu menghilangkan aksenku.

 

“Dan akhirnya aku berhasil. Aku memasuki Hollywood dan mulai mendapatkan peran pertamaku di televisi: Streets of San Francisco; Lucille Ball mempekerjakanku, aku berperan di Pumping Iron, Stay Hungry. Dan kemudian aku meraih kesuksesan dalam Conan the Barbarian.

 

“Dan kemudian sutradara pun mulai berkata, ‘Kalau tidak ada Schwarzenegger, kita perlu membentuknya.’ Coba bayangkan. Kemudian, ketika aku main di Terminator, ‘I’ll be back,’ menjadi salah satu dialog yang paling terkenal dalam sejarah perfilman, semua karena aksenku."

 

 

 

 

(Klik di sini untuk mencari informasi mengenai Emory University)

 

 

Ellen DeGeneres

Komedian Ellen DeGeneres memberitahu mahasiswa/i di Tulane University di tahun 2009 bahwa yang terpenting adalah menjadi diri sendiri.

Beliau membagikan pengalamannya saat ia pertama kali mengaku bahwa ia seorang lesbian di tahun 1997, sesuatu yang membuatnya kehilangan perannya di sitkom-nya sendiri, dan tawaran-tawaran lain pun menghilang selama beberapa tahun ke depannya.

 

“Kalau aku mengingat kembali masa-masa itu, aku sungguh tak ingin mengubah satu hal pun. Maksudku adalah, kehilangan segalanya ketika itu merupakan sesuatu yang terpenting bagiku karena aku menemukan sesuatu yang terpenting: Menjadi diri sendiri. Pada akhirnya, hal tersebutlah yang membawaku ke sini sekarang. Aku tak perlu tinggal dalam ketakutan, aku bebas; aku tak memiliki rahasia apa pun, dan aku tahu aku akan baik-bak saja, karena apa pun yang terjadi, aku tahu siapa diriku sendiri.

 

“Ketika aku masih muda, aku pikir kesuksesan merupakan sesuatu yang berbeda. Aku pikir ketika aku besar nanti, aku ingin menjadi terkenal. Aku ingin menjadi bintang film. Aku ingin tampil di film-film. Ketika aku besar nanti, aku ingin melihat dunia, mengendarai mobil-mobil mahal, dan aku ingin memiliki geng-ku sendiri.

 

“Namun konsepku akan kesuksesan sekarang berbeda. Seiring kamu tumbuh, kamu mungkin akan mengalami perubahan yang sama. Bagi kebanyakan dari kalian, kesuksesan mungkin kemampuan untuk bertahan setelah meminum 20 shot tequila. Bagiku, hal terpenting dalam hidup adalah berhasil melalui hidup dengan integritas dan tidak takut akan tekanan dari teman-teman sekitarmu saat kamu justru berusaha menjadi dirimu sendiri, dan hidup sejujur mungkin sebagai orang yang penuh kasih, dan membagikan apa yang kamu miliki dengan cara yang kamu bisa.

 

“Ikutilah kata hatimu, dan jadilah dirimu sendiri. Jangan pernah jalani jalan hidup orang lain, kecuali kamu tersesat di tengah hutan dan kamu menemukan suatu jalan setapak. Tak perlu membagikan saran, karena mungkin kamu justru kena karma dari saran yang kamu berikan. Tak perlu mengikuti saran orang lain, tapi jujurlah pada dirimu sendiri dan semuanya akan baik-baik saja.

 

“Hidup ini selayaknya sebuah festival Mardi Gras yang sangat besar. Namun alih-alih menunjukkan penampilan fisikmu, tunjukkanlah otakmu, dan kalau mereka menyukainya, kamu mungkin justru akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga sebagai gantinya.”

 

 

(Klik di sini untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai Tulane University)

 

(Sumber: https://www.weforum.org/agenda/2016/05/your-time-is-limited-don-t-waste-it-living-someone-else-s-life-6-inspiring-graduation-speeches?utm_content=buffercc18a&utm_medium=social&utm_source=twitter.com&utm_campaign=buffer)

Mencari jurusan

Pilih negara
Sarjana
TENTANG PENULIS

Dian Wijayanti adalah penulis dan editor Hotcourses Indonesia. Ia juga berprofesi sebagai tutor privat Bahasa Inggris dan penerjemah freelance. Dian baru saja dipilih sebagai salah satu kandidat di the Graduate School of Asia Pacific di Waseda University Jepang. Ia juga memiliki pengalaman bekerja di konsultan pendidikan di Indonesia yang bertanggung jawab membantu mahasiswa Indonesia meneruskan pendidikan mereka ke luar negeri, dan sekarang ia ikut membantu dalam proyek Beasiswa untuk Mahasiswa/i Kebidanan yang berbasis di Australia.