Informasi penting
Study abroad: Akomodasi Pelajar

Tips Mencari Apartemen di Belanda

Bingung mencari apartemen untuk mahasiswa di Belanda? Ikuti tipsnya di sini!

Pindahan memakai sepeda
2475

"... deposit biasanya juga sejumlah biaya satu bulan sewa. Jadi seandainya biaya sewa satu bulan €500, maka saya harus menyediakan dana €1500 di muka. Jelas bukan jumlah yang bisa saya tanggung."

Belajar di Belanda itu menyenangkan sekaligus menantang. Tentu saya senang berada disini karena iklim akademisnya sangat maju dan saya bisa bertemu dan berdiskusi dengan banyak ahli di bidang saya. Saya juga senang karena di akhir minggu saya bisa jalan-jalan keliling Belanda atau negara sekitar dengan mudah dan murah. Namun, kali ini saya ingin berbagi tentang betapa menantangnya urusan mencari akomodasi yang terjangkau bagi pelajar di kota kecil Belanda seperti Leiden.

Musim gugur di Eropa

Karena sering mendengar betapa sulitnya urusan mencari kamar di Leiden, saya memulai proses pencarian kamar sejak beberapa bulan sebelum tanggal keberangkatan. Ada beberapa cara untuk melakukan ini, melalui beberapa situs seperti kamernet.com, grup housing di Facebook, atau melalui makelaar (perantara). Saat itu saya enggan untuk menggunakan kamernet karena untuk masuk dan menghubungi pemilik kamar saja saya harus membayar beberapa Euro. Saya juga malas menghubungi makelaar karena saya tidak mampu membayar fee jasa mereka yang besarnya sama dengan satu bulan sewa kamar. Belum lagi deposit yang biasanya juga sejumlah biaya satu bulan sewa. Jadi seandainya biaya sewa satu bulan €500, maka saya harus menyediakan dana €1500 di muka. Jelas bukan jumlah yang bisa saya tanggung.

            Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka satu-satunya pilihan adalah menghubungi student housing office kampus. Saya mendapatkan semua informasi melalui website kampus Leiden yang cukup jelas dan rinci. Prosedur yang tertera menyebutkan bahwa mahasiswa harus mengisi formulir agar namanya dimasukkan daftar tunggu. Untuk masuk daftar yang masa tunggunya bisa mencapai 2-3 bulan ini calon penyewa kamar diharuskan membayar booking fee sebesar €350! Mungkin maksudnya untuk memastikan bahwa pendaftar benar-benar serius akan mengambil tawaran yang diberikan. Tapi tetap saja, itu bukan jumlah yang kecil. Untunglah mereka punya kebijakan khusus yang membebaskan mahasiswa PhD dari booking fee ini jika mereka bisa mendapat surat jaminan dari jurusan tempat belajar di Leiden University. Maka dengan segera saya meminta surat yang diminta. Dengan begitu, nama saya dengan segera bisa dimasukkan ke daftar tunggu.

            Setelah menunggu selama kurang lebih dua bulan, saya mendapat email dari student housing office. Mereka mengatakan bahwa ada satu akomodasi jenis studio yang tersedia buat saya. Lokasinya strategis, hanya lima menit dari perpustakaan utama kampus Leiden. Namun harganya benar-benar membuat miris, sangat mahal sekali, sekitar €755. Jauh di atas harga standar kamar untuk student. Namun mau bagaimana lagi? Dalam email itupun disebutkan bahwa jumlah kamar sangat terbatas dan sebaiknya penawaran diterima, karena penawaran selanjutnya mungkin akan diberikan dua bulan berikutnya. Karena tidak ada pilihan lain, saya pun mengambil tawaran tersebut untuk short-term stay selama dua bulan saja.

Jalan-jalan ke Belgia

            Ketika saya sampai di Leiden, ternyata studio saya benar-benar nyaman, dan tipe nya adalah double-bed studio. Jadi, saya bisa mengajak seseorang untuk tinggal bersama saya dan berbagi sewa kamar. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengambil foto-foto kamar dan memasangnya di grup Facebook ‘Leiden Housing’, tempat mahasiswa Leiden University saling berinteraksi untuk menawarkan kamar atau alat-alat rumah tangga yang sudah tidak terpakai lagi. Dalam waktu beberapa menit, saya sudah mendapatkan seorang calon teman sekamar. Untunglah, tantangan pertama terkait biaya sewa kamar yang sangat mahal sudah bisa terselesaikan. Saya tidak perlu mengeluarkan biaya yang terlalu besar untuk tempat tinggal.

            Beberapa bulan berlalu, dan saya harus memikirkan untuk pindah ke tempat tinggal yang lebih permanen. Saya memutuskan untuk mengambil tawaran pihak student housing office untuk tinggal di satu unit apartemen tiga kamar berjenis unfurnished dan unfurbished di gedung yang memang diperuntukkan khusus untuk mahasiswa PhD. Lokasinya bisa dibilang lebih strategis dari yang sebelumnya, hanya lima menit berjalan kaki dari stasiun Leiden Centraal. Saya juga bisa mencari dua teman lain untuk tinggal bersama dan berbagi uang sewa. Satu-satunya hal yang menjadi ganjalan adalah kondisi apartemen yang masih unfurnished dan unfurbished. Maksud dua kata itu adalah bahwa tidak akan ada furniture sama sekali di dalam apartemen, dan renovasi harus dilakukan sendiri. Artinya, saya harus mau meluangkan waktu, uang, dan tenaga untuk memperbaiki lantai, mengecat dinding, dan membeli berbagai perkakas dan alat-alat rumah tangga yang diperlukan. Membayangkan melakukan semua itu di negeri orang memang berat, tapi saya pikir saya pasti bisa mengatasinya, yang penting saya tidak malu meminta bantuan dari teman-teman disini.

            Tibalah hari yang ditentukan untuk mengambil kunci apartemen. Saya dan seorang teman dari Brazil yang bersedia berbagi sewa apartemen mendatangi kantor penjaga unit apartemen kami. Betapa terkejutnya kami ketika mendapati kantor Meneer caretaker sudah tutup, karena dia sudah pergi liburan Natal dan Tahun Baru. Alamak! Kami lupa membuat afspraak (janji) dengannya! Memang orang Belanda sangat terkenal dengan budaya membuat appointment untuk berbagai urusan, bahkan urusan-urusan kecil seperti: memotong rambut di salon, membuka rekening baru di bank, dan juga mengambil kunci apartemen. Apalah daya, karena lewat telpon si Meneer baru rela kembali ke kantor dan memberikan kunci dalam waktu dua minggu, kami pasrah dan harus merelakan rencana mengecat dinding dan memasang karpet batal. Hanya karena lupa membuat janji, kami baru bisa masuk apartemen baru yang masih kosong dan kotor ini dua hari sebelum kontrak dengan rumah yang lama berakhir.

            Maka di suatu hari di penghujung tahun 2014, di tengah musim dingin dan di sela-sela terpaan angin kencang khas Belanda, kami melakukan pindahan. Dengan dibantu banyak teman, kami mampu menggotong barang dan perkakas dari tempat tinggal lama ke apartemen baru. Ada teman yang membantu dengan mobilnya untuk mengangkut koper-koper, ada yang merelakan garasi rumahnya dijadikan tempat penitipan barang sementara, banyak pula yang meluangkan waktu dan tenaganya untuk mengangkut berbagai barang kami. Kami juga mendapatkan rejeki dari seorang kawan yang akan pindah rumah dan tidak lagi memerlukan peralatan rumah tangganya. Jadi kami mendapat kulkas, mesin cuci, lemari, meja, dan kasur dengan gratis. Kami hanya cukup meminta tolong beberapa teman untuk mengangkutnya. Suatu hal yang sangat menantang, mengingat mobil teman saya tidak selalu tersedia, sementara kendaraan yang kami punya hanya sepeda. Tapi memang orang Indonesia tak pernah kurang akal, kami pun menyulap sepeda kayuh menjadi semacam trolley angkut mesin cuci dan kulkas. Caranya, mesin cuci lalu kulkas yang sangat berat itu kami naikkan ke bagian belakang sepeda sambil dipegangi empat orang. Sementara itu, dua orang di depan memegangi setir sepeda sembari menjalankannya pelan-pelan, sebuah teknik cerdas yang berhasil dengan sukses. Syukurlah, pindahan dalam waktu dua hari dengan kendaraan seadanya telah mampu kami lalui.

Tiang jemuran bisa diangkut pakai sepeda.

            Mencari akomodasi terjangkau di Belanda memang tidak mudah, apalagi kalau ingin menghemat. Pilihan yang saya ambil adalah dengan berbagi apartemen bersama teman di gedung yang dikelola oleh universitas. Jenis apartemen yang unfurnished membuat sewa perbulannya murah. Soal peralatan dan perkakas rumah tangga, tidak perlu khawatir karena ada banyak tempat dimana kita bisa membeli barang-barang second hand yang masih bagus dengan harga murah (Kringloop/ toko barang bekas, grup Facebook, dan flea market). Selama ada kemauan, pasti ada jalan. Begitulah kisah saya, tinggal di luar negeri itu terkadang bisa terasa seperti sebuah kawah, tempat dimana kita digodok dan ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri dan dewasa.

 

PS. Info berguna bagi mahasiswa Leiden:

1. Tempat berburu barang bekas layak pakai dan terjangkau

 http://www.kringloopwarenhuis.nl/

2. Flea market terbesar di Eropa:

http://ijhallen.nl/

3. Layanan housing dari kampus:

http://www.studenthousing.leiden.edu/

4. Grup FacebookLeiden Housing’:

https://www.facebook.com/groups/239427083843/

 

Tips keren ini ditulis oleh Nurenzia Yannuar Sidharta

Nurenzia adalah mahasiswa kandidat PhD fakultas Humaniora di Leiden University. Saat ini dia sedang menulis disertasi di bidang Ilmu Bahasa tentang 'Basa Walikan Malangan'. Sebelum kuliah di Belanda, dosen Bahasa Inggris di Universitas Negeri Malang ini menjadi mahasiswa pertukaran pelajar di National University of Singapore dan menyelesaikan gelar masternya di bidang Ilmu Bahasa di Ohio University, Amerika Serikat. Bagi Nurenzia,

"Kuliah di luar negeri itu penting karena memperluas pandangan kita tentang dunia dan cakrawala kehidupan, mengajarkan kita pengalaman yang sangat berbeda dengan belajar di Indonesia. Selain itu, kuliah di luar negeri juga membuat kita mandiri dan mengingatkan kita akan kerja keras. Yang lebih penting lagi, ada banyak orang di luar sana yang tahu lebih banyak daripada kita."

 

Mencari jurusan

Pilih negara
Pascasarjana
TENTANG PENULIS

Pindahan memakai sepeda

Hotcourses Indonesia menyediakan informasi dan membantu proses melamar kuliah di luar negeri.

Coba lihat...