Informasi penting
Study abroad: Keuangan

Dear Scholarship Hunters

960

Kawan-kawan pejuang beasiswa,

 

Mimpi-mimpi kita terbang bersama angin yang membawa doa kita kesana. Ke negeri seberang, tempat kita akan menuntut ilmu nantinya. Demi cita-cita yang mulia, bukan prestise semata. Kita semua tahu, akan ada pelajaran yang sangat berharga untuk dibagi ke orang lain sepulang dari luar negeri. Perubahan positif yang akan memberi kontribusi.

 

 

Kawan-kawan pejuang beasiswa,

 

Butuh pengorbanan yang besar untuk sebuah mimpi. Tak hanya berkorban waktu untuk melengkapi seluruh administrasi, belajar agar memenuhi syarat kemampuan bahasa, dan menambah khazanah pengetahuan agar siap menghadapi pewawancara. Kita juga harus meningkatkan kualitas ibadah kita karena semua keputusan ada di tangan-Nya.

 

Begitu banyak orang yang telah menginspirasi kita. Dosen-dosen yang telah membawa kita hingga kita bisa berada di titik ini sekarang. Tanpa mereka semua, mungkin kita tidak akan pernah tergerak untuk meninggikan target kita seperti sekarang. Mereka semua telah mencontohkan betapa bermanfaatnya belajar di luar negeri demi kemajuan mereka. Bagaimana mungkin kita tidak terinspirasi? Bagaimana mungkin kita tidak terdorong untuk bergerak dan memulai perjuangan ketika kita melihat keteladanan yang baik itu pada diri mereka? Dan tentunya mereka akan sangat senang jika ada yang meneruskan jejaknya untuk menempuh studi di luar negeri.

 

 

Kawan-kawan pejuang beasiswa,

 

Keinginan untuk melanjutkan studi haruslah datang dari hati. Bukan karena iri. Bukan mendadak terobsesi ketika melihat teman-teman kita yang berangkat ke luar negeri. Tapi kita memang harus punya niat yang mulia dan misi untuk berkontribusi pada negara. Karenanya, kawan... jangan lagi ada keluhan mengenai beratnya persyaratan administrasi, betapa banyaknya waktu yang kita tempuh untuk pergi mengurus berbagai kelengkapan, bahkan ada yang sampai ijin tak masuk kerja. Belum lagi kita harus mempersiapkan kecakapan bahasa, mungkin bagi sebagian orang terasa sangat berat. Harus mencari cara belajar yang benar-benar efektif Memang pengorbanan itu perlu ada. To show how strong our willing is. Kita memang benar-benar niat.

 

Ketika batu sandungan itu datang, kawan... kadang kita merasa ingin menyerah. Persyaratan yang mungkin kita tidak bisa segera memenuhi. Kisah teman-teman yang mengalami wawancara yang menekan mental. Atau bahkan pandangan negatif rekan-rekan sejawat yang menilai kita terlalu ambisius, tukang berkhayal, atau terobsesi. Atau anggapan orang-orang bahwa, “You are living in the future, meanwhile you should live in the present” Hal yang terbaik adalah kita harus saling menguatkan. Saling menyalakan semangat yang mulai meredup. Ketika merasa tidak sanggup, teman-teman sesama pejuang beasiswa harus selalu ada untuk sharing. Mungkin kita bisa belajar dari pengalaman orang lain.

 

 

Kawan-kawan pejuang beasiswa,

 

Mengapa kita harus tetap bergandengan tangan selain untuk saling menguatkan? Karena kita akan melewati sebuah lompatan yang sangat tinggi. Jika mimpi besar itu terwujud, jangan sampai kita menjadi riya’ dan sombong, terlarut dalam euforia, takabbur dan lupa bahwa sesungguhnya menerima beasiswa adalah amanah besar. Harus dipertanggungjawabkan pada mereka yang mempercayakan kita. Dana yang sebesar itu, jika dipakai untuk menyekolahkan anak tak mampu, bisa jadi akan ada ratusan bahkan ribuan anak yang bisa mengenyam pendidikan hingga setidaknya SMA. Tapi kenapa pemerintah malah memberikan uang itu untuk menyekolahkan kita? Karena mereka percaya bahwa kita bisa membawa masa depan yang lebih baik bagi mereka sekembalinya dari studi. Alih-alih menjadi prestise untuk digembar-gemborkan, ini adalah tanggung jawab besar. Mari kita mengingatkan satu sama lain, dan saling menguatkan saat bersama-sama berkontribusi untuk masyarakat nantinya.

 

Juga, kawan.... apabila mimpi ini gagal,  jangan sampai ada diantara kita yang jatuh terlalu dalam. Menangis berhari-hari, mencari-cari pihak untuk disalahkan, membenci diri sendiri atau bahkan menjadi apriori terhadap beasiswa-beasiswa lainnya. Mari kita saling memberikan bahu untuk bersandar dan tangan yang tetap terbuka untuk saling menguatkan. Siapapun yang gagal, ia tak sendirian. Pastinya diluar sana ada penerima beasiswa lain yang gagal berkali-kali hingga akhirnya berhasil mendapat beasiswa. Ingat Thomas Alva Edison kan? Berapa ribu kali beliau mencoba bereksperimen membuat bola lampu, dan selalu gagal lagi? Jika saja dulu beliau menyerah, mungkin baru berapa ratus tahun kemudian akan ada penemu bola lampu dan perkembangan industri lampu tidak sebagus sekarang.

 

 

Kawan-kawan pejuang beasiswa,

 

Mari kita bergandeng tangan dan mengatur strategi bersama-sama. Saling berbagi kiat-kiat menembus beasiswa. Latihan dan belajar bersama hingga mencapai target yang diinginkan. Kita semua pasti bisa! Usaha keras itu tidak akan mengkhianati. Sampai bertemu di titik keberhasilan!

 

Untuk Semua Scholarship Fighters, Mari Kita Satukan Tangan Kita!

 

 

Surat ini ditulis oleh:

Angie Pritha, lulusan Sastra Inggris Universitas negeri Malang. Saat ini menjadi guru di sebuah SD swasta di kota Malang. Selain mengajar, Angie juga mencoba menjadi seorang peneliti dan saat ini sedang memperjuangkan beasiswa

Mencari jurusan

Pilih negara
JenjangPendidikan*
TENTANG PENULIS