Informasi penting
Study abroad: Kehidupan Pelajar

Berbagi Pengalaman Studi Lanjut di University of Arizona bersama Siti Juwariyah

1007

Kenalan baru saya, mbak Siti Juwariyah, atau biasa dipanggil mbak Juwa, baru saja lulus dari University of Arizona dengan gelar Master of Arts in English as a Second Language. Dalam wawancara singkatnya dengan saya, beliau membagikan pengalaman beliau selama merantau di Amerika untuk menimba ilmu serta hal-hal berharga yang ia dapatkan selama masa tersebut.

 

Aku dulu belajar Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Malang, dan untuk S2, aku mengambil jurusan English as a Second Language (ESL). Awalnya aku tertarik dengan jurusan ini karena aku pikir bisa bicara dalam Bahasa Inggris itu keren sekali, dan aku pilih Pendidikan karena menurutku nanti di masa depan akan lebih mudah cari kerja. Tapi kemudian aku sadar kalau keterampilan berbahasa Inggris ini bisa membuka pintu ke dunia luar yang lebih luas. Aku jadi bisa baca banyak buku dalam bahasa Inggris, berkomunikasi dengan orang-orang dari seluruh dunia, dan masih banyak lagi. Dan aku bersyukur juga karena latar belakang studiku di Pendidikan Bahasa Inggris aku sekarang mendapat kesempatan untuk membantu orang-orang menjalani pengalaman yang sama yang aku dapatkan melalui Bahasa Inggris.

 

Dengar-dengar mbak Juwa ini sempat mengadakan road trip keliling Amerika nih. Bisa cerita sedikit mengenai ini nggak?

Aku nggak yakin gimana cara untuk mendeskripsikan pengalamanku ini dengan akurat, tapi yang jelas ini pengalaman yang luar biasa. Yang aku paling suka adalah saat melakukan roadtrip ini aku nggak perlu khawatir soal keselamatanku seperti halnya kalau aku melakukan road trip di Indonesia. Di sini aman banget. Banyak orang di sini bersedia membantu. Kalaupun enggak, mereka juga nggak akan ganggu kita, karena mereka punya urusan sendiri-sendiri. Banyak visitor center untuk membantu orang-orang yang traveling di sini, dan toilet umum pun dimana-mana. Aku nggak perlu khawatir soal makanan juga, asal aku punya uang cukup. Hanya memang kalau traveling di Indonesia pasti makanannya lebih enak dan warung ada dimana-mana.

 

 

Apa bisa cerita sedikit tentang pengalaman mbak waktu mendaftar beasiswa?

Beasiswa yang aku dapatkan adalah Fulbright, dan proses seleksinya lumayan lama. Dulu aku mendaftar di tahun 2013 untuk mulai perkuliahan di Amerika tahun 2014. Selama proses seleksi berlangsung, aku harus selalu awas dengan tiap pengumuman yang ada—kapan harus wawancara, kapan harus tes iBT dan GRE, kapan harus daftar ke universitas, kapan harus mendaftar, dan sebagainya)—dan tiap-tiap tahapan tersebut nggak sebentar. Kadang malah aku sampai lupa kalau aku ini sedang menunggu pengumuman. Tapi enaknya adalah kita para kandidat Fulbright ini semacam “dimanjakan” karena AMINEF, agen Fulbright di Indonesia, mengurus semuanya untuk kita dan selalu memberitahu kita akan langkah-langkah yang harus diambil, meskipun tenggat waktunya memang selalu bikin ketar-ketir, tapi setidaknya kita nggak perlu bingung lagi akan apa yang harus kita lakukan karena kita tinggal melakukan apa yang disuruh, dan ini sangatlah menghemat waktu dan juga menenangkan.

 

 

Bagaimana pengalaman mbak dulu waktu pertama kali tiba di Arizona?

Ada banyak orang Indonesia di Arizona, dan mereka membantu proses adaptasi aku dulu, jadi kepindahanku bukanlah sesuatu yang sangat-sangat ribet. Dan aku juga sempat mengikuti program pelatihan pra-akademik di Athens, Ohio, dengan para kandidat Fulbright yang lain, baik yang dari Indonesia maupun negara-negara lain, yang membantu kita untuk beradaptasi dengan budaya dan sistem pendidikan di Amerika.

AMINEF's Pre-departure Orientation

 

 

Apa ada persiapan khusus yang perlu dilakukan sebelum berangkat?

Sebelum berangkat ke Amerika dulu kita mengikuti orientasi pra-keberangkatan selama 3 hari di Indonesia dan program pra-akademik di Amerika selama 3 minggu. Tapi yang belakangan ini berbeda-beda durasinya. Beberapa ada yang menjalani program lebih dari 3 minggu dan malah ada yang nggak sampai 3 minggu.

Pre-academic Training di Athens, OH

 

 

Apa mbak sempat mengalami culture shock selama tinggal di Arizona?

Rasanya nggak juga sih. Kalaupun iya, mungkin aku nggak terlalu merasakan ya, karena aku toh juga sudah “dipersiapkan" untuk mengalami culture shock ini, dan rasanya aku justru beradaptasi dengan cukup baik. Malah seringkali aku mendapati fakta-fakta yang cukup berbeda dengan stereotype yang sering aku baca dan sering aku dengar, misalnya tata krama untuk nggak bertanya mengenai umur, atau memanggil orang hanya dengan nama depan mereka, atau orang-orang Amerika itu senang melakukan hook up dan tidak mau menikah, dan masih banyak lagi. Mereka justru tidak ragu-ragu menanyakan umur, memanggil menggunakan nama depan—dan seringkali aku jadi harus meminta mereka untuk panggil aku "Juwa" karena memang itu nama yang aku pakai sebagai nama panggilan, dan aku juga jadi menjelaskan ke mereka mengenai cara orang-orang Indonesia menggunakan nama panggilan. Dan malah aku bertemu beberapa teman-teman orang Amerika yang justru menikah muda, dan pernikahan mereka bahagia tuh. Entah apa mungkin ini cuma pengalamanku aja, tapi itu lah yang aku saksikan dengan kedua mataku sendiri.

 

 

Apa tantangan terbesar yang mbak hadapi di sana?

Impostor syndrome. Di Indonesia, aku sangat terbiasa mendapati ekspektasi yang tinggi dari orang-orang dan juga menerima komentar-komentar yang tidak terlalu bersahabat. Tapi orang-orang di sini justru sangatlah menghargai. Seringkali aku malah kebingungan apakah mereka ini memang benar-benar memuji karena komentar-komentar mereka selalu bagus dan mendukung sekali. Kalaupun ada komentar yang “negatif,” ini pun selalu ditemani dengan komentar-komentar yang positif dan pujian-pujian. Di Amerika, kita sebagai mahasiswa memang diharapkan untuk berusaha sebaik mungkin, dan para guru pun mempercayai kita, dan mereka sangat menghargai usaha yang kita berikan untuk tugas-tugas yang kita kerjakan. Mereka pun mengerti kalau kita semua memang masih dalam proses belajar. Entah apakah ini hanya terjadi di level S2 saja. Mungkin perlu kita bandingkan dengan S1 di Amerika ataupun S2 di Indonesia. Atau mungkin memang aku aja yang memutuskan untuk tidak berpikir demikian.

Kalau di luar kelas, aku berusaha untuk hang out juga dengan teman-teman meski terkadang aku perlu menolak ajakan untuk makan di luar karena aku kepengen menabung untuk traveling.

 

 

Bagaimana cara mbak untuk tetap berkomunikasi dengan keluarga di rumah? Apa pernah ada masalah komunikasi?

Aku biasa menghubungi keluarga melalui Skype, dan selama ini untungnya nggak ada masalah.

 

 

Apakah mbak pernah mengalami masalah dengan terus menggunakan hijab di Amerika? Atau pernahkah mbak mendapatkan perlakuan berbeda sekadar karena mbak bukan orang lokal?

Rasanya tidak pernah. Orang-orang di sana sangatlah baik. Kalau mereka penasaran akan sesuatu, mereka langsung bertanya. Tentu perbedaan tingkah laku ada, tapi semuanya positif. Misalnya saja, kalau sedang makan di luar, teman-temanku akan menanyakan macam-macam makanan yang nggak bisa aku konsumsi, karena biasanya ada hidangan babi ataupun minuman beralkohol.

 

Baru-baru ini aku ingat waktu sedang jalan-jalan di Colorado, kami makan di restoran Chinese dan pelayan restoran sedang menawarkan sejumlah menu makanan, tapi kemudian dia bilang semacam ini, “Anda tidak makan babi ya?” Jadi sebenarnya menggunakan hijab itu justru cukup membantu untuk menjalankan ibadahku. Dan rasanya, perlakuan baik yang aku terima dari orang-orang adalah bagian dari pergerakan dari orang-orang Amerika yang sedang berusaha memerangi Islamophobia—rasa takut akan segala sesuatu yang berbau Islam, dan dengan kata lain, tidak semua orang-orang Amerika ini menakuti Islam atau hal-hal yang berbau Islam. Namun aku tahu mungkin ada juga orang-orang yang mengalami perlakuan yang berbeda. Aku menganggap diriku ini beruntung karena aku selalu menerima perlakuan yang baik-baik.

 

 

Apa ada pengalaman beradaptasi yang pernah dirasa sulit, mbak?

Pertanyaan ini cukup menimbulkan dilema ya, karena takutnya ini akan memberikan cap yang kurang baik atas agamaku sendiri. Tapi ini memang prinsip aku, dan mungkin saja ini “kesulitan" yang aku rasakan sendiri, dan aku percaya tiap-tiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Aku kadang merasa agak kesulitan melakukan sholat lima waktu seperti saat aku di Indonesia, tapi mungkin juga ini karena aku sudah merasa keenakan dengan waktu-waktu sholat di Indonesia, karena di sana, biasanya jam kerja dan jam belajar sudah diatur untuk mengikuti jam-jam sholat, dan tempat-tempat sholat pun ada dimana-mana. Namun di Amerika ini tidak sama. Jadi aku harus bisa menyesuaikan diri, misalnya aku akan wudhu sebelum kelasku mulai, dan menjaga diriku sepanjang kelas, kemudian di waktu istirahat baru aku sholat.

 

Kadang aku bahkan menolak mengikuti acara-acara tertentu kalau ini mengganggu waktu sholatku. Tapi ini sudah prinsipku, karena menjelaskan jadwal-jadwal sholat mungkin agak lebih rumit daripada menjelaskan hal-hal berbau Islam yang lain. Ini sebenarnya nggak jauh berbeda dengan di Indonesia sih, tapi bedanya di Indonesia ini nggak terlalu rumit karena banyak orang yang sudah mengerti, dan mereka bisa lebih maklum, sementara di Amerika, orang-orang akan maklum dan mengerti, tapi mau menjelaskan ini rumit karena mungkin jadi menimbulkan perasaan sungkan antara kita.

 

 

Menjaga identitas asal kita pun sangatlah penting, meski kita juga tetap perlu menghormati budaya dan adat orang lain. Bagaimana cara mbak untuk melakukan ini?

Aku sering sekali pakai Batik di sini, dan ketika orang-orang melemparkan pujian, aku menggunakan kesempatan tersebut untuk menjelaskan tentang Batik kepada mereka. Aku juga suka memasak masakan Indonesia dan membawanya ke acara-acara Internasional atau sekadar untuk dibagikan ke teman-teman sekelas. Aku pernah mengikuti acara budaya dan menari Saman dengan teman-temanku. Pada akhirnya, kamu mendapat juara satu dan dua di dua kompetisi berbeda lho!

Waktu menari Saman

Kami juga suka bergabung dalam kegiatan-kegiatan sukarelawan dan menyanyi lagu-lagu tradisional atau lagu-lagu nasional. Aku pernah bersukarelawan untuk mengajar Bahasa Indonesia kepada anak-anak keturunan Indonesia dan juga dalam acara-acara yang diadakan oleh perhimpunan Mahasiswa Indonesia, pernah juga melakukan presentasi mengenai Indonesia di SD dan SMA lokal di sini. Semua ini sama sekali nggak susah dilakukan kok, dan malah terasa menyenangkan buat aku.

Dengan teman-teman sewaktu melakukan presentasi di SMA lokal mengenai Indonesia

 

 

Apa pesan yang ingin mbak sampaikan ke teman-teman di Indonesia yang ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri?

JANGAN PERNAH TERLALU KHAWATIR AKAN BAGAIMANA KAMU BISA SURVIVE DI LUAR NEGERI. KAMU PASTI BISA. DAN KAMU AKAN SURVIVE. Fokuslah pada apa yang ingin kamu lakukan dan apa yang ingin kamu pelajari. Sering kali orang-orang khawatir soal hidup di luar negeri dan berpikir, “Apa yang akan dipikirkan orang-orang kalau aku pakai hijab setiap saat? Apa aku akan punya teman di sana? Bagaimana orang-orang di sana akan memperlakukan aku?” dan pertanyaan-pertanyaan serupa. Jangan. Ketakutanmu, prasangkamu akan orang-orang pada umumnya mungkin tidak jauh berbeda dengan ketakutan dan prasangka mereka terhadap kamu: Biasanya banyak yang tidak benar. Yang penting kamu berbuat baik, dan beramah-tamahlah. Kamu akan terkejut saat menemukan ternyata banyak orang-orang serupa. Best of luck! :-)

 

Kamu tertarik kuliah di University of Arizona? Yuk intip mengenai universitasnya di sini!

Mencari jurusan

Pilih negara
Pascasarjana
TENTANG PENULIS

Dian Wijayanti adalah penulis dan editor Hotcourses Indonesia. Ia juga berprofesi sebagai tutor privat Bahasa Inggris dan penerjemah freelance. Dian baru saja dipilih sebagai salah satu kandidat di the Graduate School of Asia Pacific di Waseda University Jepang. Ia juga memiliki pengalaman bekerja di konsultan pendidikan di Indonesia yang bertanggung jawab membantu mahasiswa Indonesia meneruskan pendidikan mereka ke luar negeri, dan sekarang ia ikut membantu dalam proyek Beasiswa untuk Mahasiswa/i Kebidanan yang berbasis di Australia.