Informasi penting
Study abroad: Kehidupan Pelajar

Kiat Sukses Meraih Beasiswa Luar Negeri dengan Ahmad Fuadi - Penulis Novel Negeri 5 Menara

2794
Lahir tahun 1972 di Sumatra Barat, beliau adalah penulis novel sekaligus praktisi konservasi dan juga wartawan. Lahir di keluarga berlatar belakang pendidikan, dimana ibunya adalah seorang guru SD, sedangkan ayahnya adalah guru sekolah madrasah menjadikan penulis bermotivasi tinggi ini seorang pekerja keras. Karya pertamanya adalah Novel Negeri 5 Menara. Apakah kamu sudah bisa menebak siapa nama beliau? 
 

sumber: berkuliah.com

 
Ya! Beliau adalah Ahmad Fuadi. Novel Negeri 5 Menara karya beliau memberikan motivasi dan semangat untuk meraih cita-cita dan prestasi. Novel ini berisikan cerita-cerita kehidupan beliau. Buku tersebut sangat disukai dan begitu menginspirasi banyak orang. Perjalanan hidup Ahmad Fuadi, yang berhasil kuliah ke luar negeri berkat 2 kali beasiswa, menjadi sebuah cerminan bahwa impian dan cita-cita itu tidak selamanya harus menjadi angan-angan semata. Namun, semua itu bisa dicapai dengan diwujudkan melalui kerja keras dan kesungguhan. Mungkin karena inilah, walau baru terbit, novel ini masuk dalam jajaran best seller pada tahun 2009. 
 
Dalam kurun waktu 9 bulan saja Novel Negeri 5 Menara sudah terjual 100 ribu eksemplar. Sebuah rekor baru untuk semua buku lokal yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama sepanjang 36 tahun ini. Sebagian royalti buku ini diniatkan untuk merintis Komunitas Menara, sebuah organisasi sosial berbasis relawan volunteer) yang menyediakan sekolah, dapur umum, perpustakaan, dan rumah sakit secara gratis untuk kalangan yang tidak mampu.
 
Setelah itu, pada tahun 2010 Ahmad Fuadi meraih Anugrah Pembaca Puisi Indonesia dan masuk nominasi Khatulisiwa Literary Award. Pada saat itu, ada salah satu penerbit Malaysia, yaitu PTS Litera bahkan tertarik untuk menerbitkan karya Ahmad Fuadi di negaranya dalam versi Bahasa Melayu.
 
 

Seperti apa sih perjalanan hidup Ahmad Fuadi, kok bisa langsung ngetop lewat novel pertamanya?

 
Ahmad Fuadi menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama di tanah kelahirannya yaitu Maninjau, Agam, Sumatra Barat. Setelah itu, memenuhi permintaan ibunda, beliau memulai pendidikan menengahnya di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Masa-masa di pondok pesantren Gontor adalah tahap yang sangat penting dari perjalanan akademis dari Ahmad Fuadi. Di sana, beliau banyak mendapat pesan dan nasehat dari guru-guru atau ustad-ustadnya:
 
“man jadda wajada”, yang artinya "barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan menemui kesuksesan" 
"orang yang paling baik di antaramu adalah orang yang paling banyak manfaat." 
 
Pesan-pesan tersebut menjadi prinsip yang selalu dipegang dalam hidup beliau. Dan inilah prinsip yang melandasi Novel Negeri 5 Menara. 
 
Selain itu, selama menjalani hari-hari di pondok pesantren, dirinya dibiasakan untuk selalu mendengarkan siaran radio yang berbahasa Arab dan Bahasa Inggris. Itulah yang mendorong beliau untuk berkuliah di luar negeri.
 
 

Cita-cita kuliah ke luar negeri kesampaian berkat beasiswa 

 
Semasa kecilnya, Ahmad Fuadi pernah membaca sebuah buku yang mengilustrasikan seseorang yang sedang memegang sebuah es. Dirinya yang masih polos saat itu sangat mengagumi buku tersebut. Dari buku itulah, beliau mengenal salju. Kemudian, saat menginjak umur 15 tahun, Ahmad Fuadi merasakan apa yang ada di buku tersebut melalui program pertukaran pelajar di Kanada.
 
Setelah lulus dari pondok pesantren Gontor pada tahun 1992, beliau melanjutkan kuliah jurusan Hubungan Internasional (HI) di Universitas Padjajaran, Bandung. Sebelum lulus S1, beliau mengikuti sebuah program ASEAN student gathering yang merupakan program S1 di mana mahasiswa ASEAN menjalani perkuliahan bersama di University of Singapore. Selain itu, Fuadi juga pernah mewakili Indonesia ketika mengikuti program Youth Exchange Program di Quebec, Kanada tahun 1995-1996. Lulus S1 Hubungan International di Universitas Padjajaran, beliau juga bekerja part time sebagai wartawan majalah Tempo, Voice of America (VOA).  Dan akhirnya pada tahun 1997, Ahmad Fuadi mendapatkan beasiswa Singapore SIF Asean Fellowship. 
 
Walau demikian, beliau tidak pernah berhenti berusaha. Pada tahun 1999 hingga 2002, beliau berhasil mendapatkan Fullbright Scholarship dari Amerika Serikat. Dan pada tahun 2004 hingga 2005, beliau sekali lagi mendapatkan Chevening Award dari Pemerintah Inggris. Selain semua itu, masih ada banyak sekali hal yang diraih dan didapat dari perjalanan hidupnya ketika ia belajar di luar negeri dengan beasiswaKarena prestasinya, pada tahun 1998 ia mendapat beasiswa S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University.
 
Istri Ahmad Faudi yang bernama Yayi juga adalah seorang wartawan Tempo. Keduanya dulu pernah bermimpi untuk merantau ke Washington University dan akhirnya impian itu menjadi kenyataan. Selain kuliah, mereka menjadi koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Mereka pernah melaporkan secara langsung berita bersejarah seperti peristiwa 11September 2001 dari Pentagon, White House dan Capitol Hill. Kemudian pada tahun 2004 keberuntungan memihak kepadanya lagi, di mana ia mendapat beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk sebuah bidang dokumenter. Ia juga pernah menjadi direktur komunikasi di sebuah NGO konservasi The Nature Conservancy sejak tahun 2007 hingga sekarang.

 

 

Berikut ini adalah penghargaan beasiswa A.Fuadi yang pernah diraih oleh Ahmad Fuadi: 

 
1. SIF-ASEAN Visiting Student Fellowship, National University of Singapore, 1997.
2. Indonesian Cultural Foundation Inc Award, 2000-2001.
3. Columbian College of Arts and Sciences Award, The George Washington University, 2000-2001.
4. The Ford Foundation Award1999-2000.
5. CASE Media Fellowship, University of Maryland, College Park, 2002.
6. Beasiswa Fulbright, Program Pascasarjana, The George Washington University, 1999-2001.
7. Beasiswa British Chevening, ProgramPascasarjana, University of London,London2004-2005.
8. Longlist Khatulistiwa Literary Award 2010.
9. Penulis dan Fiksi Terfavorit, Anugerah Pembaca Indonesia 2010.
10. Penulis Buku Fiksi Terbaik, Perpustakaan Nasional Indonesia 2011.
11. Liputan6 Award, SCTV untuk Kategori Pendidikan dan Motivasi 2012.
 
 
Kamu juga bisa mendapatkan beasiswa asal berusaha seperti Ahmad Fuadi. Kamu bisa memulai dari artikel ini: Cara efektif mencari beasiswa luar negeri. Hotcourses Indonesia juga menyediakan panduan lengkap mendapatkan beasiswa, dan lihat bagaimana layanan Hotcourses membantu kamu mencari beasiswa, tanpa biaya.
 
 

Tips memanfaatkan waktu sebaik mungkin sewaktu kuliah di luar negeri dari Amad Fuadi:

 

Bisa kuliah ke luar negeri, apalagi berkat beasiswa bukanlah hal yang mudah. Jadi tentu saja harus memanfaatkan waktu secara optimal. Berikut adalah tips dari Ahmad Fuadi:
 
1. Kerja Part-time
Ada banyak hal yang bisa kita kerjakan di luar kelas kuliah. Bisa juga bekerja part time di sekitar kampus atau di sekitar kos yang kita tinggali. Selain mendapatkan penghasilan, kita juga mempelajari etos kerja berupa value dan wawasan yang bisa menjadi bekal kita untuk menyongsong masa depan yang cerah. 
 
 
 
2. Mengikuti Organisasi
Mengikuti organisasi di luar juga sangat berguna untuk kebaikan bersosialisasi kita dengan orang lain, bisa belajar memahami karakter orang lain, bisa belajar dari teman organisasi kita dan meningkatkan jaringan atau memperluas teman.
 
 
3. Berkontribusi, Berbagi Ilmu, Berbagi Pengalaman
Dan satu hal pesan dari Ahmad Fuadi bahwa yang perlu kita pegang setelah menyelesaikan masa studi  di luar negeri, sebaiknya kita perlu berkontribusi dengan membuat sebuah karya untuk bangsa tercinta kita, Indonesia. Entah itu menulis atau sebuah dedikasi yang nyata untuk kemajuan bangsa Indonesia ini. Karena dengan menulis merupakan salah satu cara untuk berbagi ilmu, berbagi pengalaman, dan bahkan bisa mnginspirasi banyak orang untuk perubahan yang lebih baik lagi. 
 

 

Kontribusi Ahmad Fuadi bagi bangsa dan negara

Setelah lulus kuliah, Ahmad Fuadi menjadi direktur di sebuah perusahaan komunikasi di sebuah NGO konservasi The Nature Conservancy. Saat itu, Ahmad Fuadi teringat akan pesan dan nasehat ustadnya, bahwa "orang yang paling baik di antaramu adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain". Teringat akan kata-kata itu, kemudian Ahmad Fuadi memutuskan untuk lebih fokus menjadi seorang penulis dan aktif dalam kegiatan sosial, terutama dalam penyelenggaraan sekolah PAUD gratis untuk keluarga miskin.
 
Setelah lulus kuliah, ia mendengar majalah favoritnya Tempo kembali terbit setelah Soeharto jatuh. Merasa kesempatan kembali terbuka untuknya, Ahmad Fuadi kembali menjadi wartawan Tempo pada tahun 1998. Untuk tugas kelas jurnalistiknya yang pertama ia jalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah para wartawan kawakan Indonesia.
 
Ahmad Fuadi menguasai bahasa Inggris, Arab dan Perancis. Selain itu, ia pernah menerima berbagai macam penghargaan:
1.  Indonesian Cultural Foundation Inc.
2. Award (2000-2001), Columbus School of Arts and Sciences Award.
3. The Goerge Washington University (2000-2001).
4. The Ford Foundation Award (1999-2000).
 
Mengikuti kesuksesan novel pertamanya, Ahmad Fuadi menerbitkan novel keduanya yang merupakan trilogi dari Negeri 5 Menara, yaitu Ranah 3 Warna pada awal 23 Januari 2011. Kemudian beliau mendirikan sebuah yayasan Komunitas Menara, yang digunakan untuk membantu pendidikan masyarakat ekonomi kurang mampu, khususnya untuk usia pra sekolah. Hingga saat ini, Komunitas Menara sudah mempunyai sekolah gratis bagi anak usia dini di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.
 
Selain memberikan inspirasi dari novelnya, Ahmad fuadi juga melakukan kegiatan ceramah, workshop dan pelatihan-pelatihan ke berbagai daerah sebagai bentuk perwujudan kepada bangsa Indonesia tercinta. Ahmad Fuadi juga mendirikan sekolah PAUD gratis kepada masyarakat Indonesia yang diperuntukan untuk keluarga yang kurang mampu. Dan salah satu prinsip hidup Ahmad Fuadi seperti tercantum dalam Hadist Nabi Muhammad SAW yaitu, "sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain."
 
Beliau juga memberikan tips bagi mereka yang termasuk calon penerima beasiswa LPDP, bahwa perlu ada persiapan yang harus kita siapkan ketika nanti masa studi kita di luar negeri.Yang harus dipersiapkan di antaranya yaitu, waktu yang sesingkat itu untuk memperkuat jaringan dan mempelajari budaya. Memperkuat jaringan kita bisa lakukan dengan banyak mengikuti organisasi. Mempelajari budaya di negeri orang juga mungkin tidak bisa kita temui di daerah lain. 
 
Hikmah pengalaman hidup dari seorang Ahmad Fuadi
 
Beberapa hikmah dari perjalanan hidup Ahmad Fuadi yang bisa kita petik di antaranya :
 
Janganlah takut untuk bermimpi, karena mimpi itulah yang akan mengarahkan diri kita ke puncak kesuksesan.
 
Jangan menoleh dari latar belakang kita untuk menggapai mimpi, karena kesuksesan kita berasal dari usaha keras dan kesungguhan apa yang kita lakukan saat ini. Kita perlu mendokumentasi terhadap apa yang telah kita lakukan, sehingga bisa dinikmati dan kita bisa berbagi untuk semua orang.
 
Menggunakan waktu selama studi dengan sebaik-baiknya dengan kegiatan-kegiatan positif dan berguna untuk kamu ke depannya.
 
Membagi apa yang telah kita lakukan kepada orang lain. Karena dengan berbagi kepada sesama, kita bisa menginspirasi banyak orang dan berarti kita telah membantu masyarakat Indonesia untuk perubahan yang lebih baik lagi.
 
 
 

Tips Menulis dari Ahmad Fuadi

Ahmad Fuadi adalah sosok pribadi yang gaya bicaranya tenang dan jauh dari kesan formal. Selain itu, ia selalu merendah kepada orang lain, tidak sombong, dan tidak senang merasa ditinggikan. 
 
Kata Ahmad Fuadi, ada beberapa macam alasan untuk menulis. Adakalanya menulis untuk memberi informasi dan ada pula menulis untuk sekedar menghibur. Seyogyanya bahwa menulis itu dilakukan untuk menebar kebaikan. Hal yang penting yang dirinya percaya terkait dengan tulis-menulis yaitu, pertama bahwa kata-kata itu sesungguhnya bisa lebih ampuh dari sebuah peluru. Peluru bisa menembus ke satu kepala, sedangkan kata-kata yang ampuh itu bisa menembus ke banyak kepala. Selain itu, peluru bisa mematikan, sedangkan kalau kata-kata ampuh itu bisa dirangkai dengan kalimat yang baik dan bisa lebih menguat bisa menginspirasi ke banyak orang. Paling tidak, seseorang itu bisa menulis di sebuah SMS atau sosial media yang bisa menghadirkan tawa kecil orang lain atau inspirasi. Ahamd Fuadi yakin bahwa dengan menulis, kita bisa melintasi gografis, agama dan bahkan batas sosial. Karena dengan menulis, kita bisa mengeluarkan gagasan dan menjangkau ke berbagai kalangan.
 
Hal yang menarik dari novel Negeri 5 Menara ini, yang secara umumnya memiliki tema keislaman, ternyata bisa menjadikan seorang Ahmad Fuadi diterima dan didengarkan gagasannya oleh orang-orang nasrani. Karena di cerita islami tersebut nilai keagamaannya yang baik sehingga bisa menyentuh sampai ke hati tanpa membuat orang lain resah akan kepercayaan yang dianutnya, dan nilai kebaikan agama itu tidak mengancam agama lain.
 
Dalam pandangan tentang tulis menulis, Ahmad Fuadi percaya bahwa tulisan yang baik semestinya menggerakkan dan menghadirkan inspirasi. Beliau memaparkan bahwa tulisan yang baik itu tidak hanya menghadirkan kekaguman, tetapi memiliki kekuatan untuk membuat pembacanya seolah-olah ikut bergerak melakukan sesuatu. Dan setelah membaca sebuah tulisan yang bagus, pembaca bisa merasa bersalah jika tidak melakukan sesuatu itu. Maka dari situlah sesungguhnya muara dari tujuan menulis itu. 
 
Ahmad Fuadi juga mengatakan bahwa menulis itu bisa membuat awet muda seseorang. Untuk nasehat yang satu ini dirinya dapatkan dari nasihat salah satu Ustadz di Gontor. Ustad beliau mengatakan bahwa dengan menulis, maka penulisnya akan tetap hidup lewat gagasan-gagasan yang dibacanya. Selain itu, penulis itu tidak akan pernah mati karena tulisannya akan terus dibaca hingga lintas zaman.
 
 

Tips menulis: WHY, WHAT, HOW, WHEN 

 

WHY: Mengapa kita harus menulis?

 
Ada satu ajaran penting yang selalu ia ingat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Hidupnya dihantui dengan sebuah pertanyaan “ Apa yang saya (Ahmad Faudi) bisa saya lakukan agar bermanfaat untuk orang lain?" Nah, jawaban yang paling mendasar bagi Ahmad Faudi yaitu dengan menulis buku atau novel. Sehingga jawaban dari sebuah pertanyaan Mengapa kita harus menulis?Maka jawabannya yaitu bahwa semakin besar motivasi yang tumbuh dan semakin besar harapan kita untuk berhasil dan menghasilkan sebuah karya yang bisa bermanfaat untuk orang lain.
 
 

WHAT: Apa yang akan kita tulis?

Sebaiknya menulis yang terbaik itu adalah apa yang menjadi gairah, dipedulikan, dan apa yang disenangi. Menulis dengan apa yang paling kita pedulikan, kita tidak akan merasa cepat bosan menulisnya. Kita bisa bertanya dengan teman-teman atau orang lain hal-hal apa yang mereka bicarakan tidak pernah bosan ketika didengarkan. Begitu juga dengan menulis hal-hal apa saja yang kiranya menarik untuk dibahas dan tidak membuat jenuh.
 
 

HOW: Bagaimana kita menuliskannya?

Untuk menulis agar bisa menghadirkan kesan yang berbeda perlu dilakukan dengan belajar dan sungguh-sungguh. Menurutnya bahwa menulis itu bisa dilakukan siapa saja, asal dia mau belajar dan mengikuti langkah-langkah pembelajaran yang tepat.
 
 

WHEN: Kapan sebaiknya menulis?

Saat terbaik untuk memulai menulis yaitu Sekarang. Menurut Fuadi, waktu menulis yang paling efekti yaitu subuh ketika bangun tidur, dan sore atau malam sepulang kerja. Gunakan setiap harinya untuk menulis, misalkan sore setengah jam, malam setengah jam, dan subuh setengah jam. Lakukan itu dengan konsisten, maka lama kelamaan dari selembar menjadi sebuah, beberapa halaman, dan akhirnya menjadi sebuah buku.
 
 

 

 

 

Demikian ulasan singkat tentang profil dari Ahmad Fuadi, salah satu nama yang terkenal sebagai penulis buku novel best seller di Indonesia. Apakah perjalanan hidup dan pesan-pesan yang ia sampaikan cukup menginspirasimu? 
 
 

 

 

 

Mencari jurusan

Pilih negara
Pascasarjana
TENTANG PENULIS

Hotcourses Indonesia menyediakan informasi dan membantu proses melamar kuliah di luar negeri.

Coba lihat...