Informasi penting
Study abroad: Kehidupan Pelajar

Kiat untuk Terus Rajin Belajar

434

Aku tersenyum setiap kali aku melihat sertifikat kelulusanku tergantung di dinding, karena semua yang telah aku pelajari sekarang sudah tidak relevan lagi. Apa ini berarti kita sebaiknya berhenti membuang tenaga, waktu, dan uang untuk belajar di universitas? Tidak dong. Lebih tepatnya, begitu kita menyelesaikan pendidikan formal kita, kita perlu bertransformasi menjadi mesin yang terus belajar. Artinya adalah kita perlu terus-menerus belajar. Di zaman sekarang sudah tidak ada pilihan lagi, karena kalau tidak, kita akan tersingkir dari pertandingan, dan tertinggal seperti halnya para manusia purba di zaman batu.

 

Selama 25 tahun, sebagai seorang eksekutif HR, aku selalu memulai wawancaraku dengan pertanyaan: “Apa yang telah kamu pelajari selama 6-12 bulan terakhir?” Saat mereka tidak siap menghadapi pertanyaan ini, banyak dari pelamar yang tidak mampu menjawab, dan wawancara kami akan berakhir.

 

Apabila kamu memiliki gelar S1 atau S2, apakah kamu menganggap kesemuanya itu sebagai akhir atau awal dari perjalananmu? Apabila kamu menganggapnya sebagai akhir perjalanan, maka kamu telah menipu dirimu sendiri. Kesuksesan dan keberhasilan jangka panjang kita sepenuhnya bergantung pada kesinambungan akan stimulasi pikiran. Anggaplah keterampilan yang kamu miliki sebagai sesuatu yang fleksible, yang dapat terus berkembang seiring waktu.

 

Aku yakin kita perlu memiliki kemampuan belajar semacam ini, maksudnya adalah kemampuan untuk terus terbuka akan gaya pemikiran yang baru, dan keterbukaan untuk terus mau belajar dengan cara-cara yang juga baru, untuk merefleksikan pembelajaran, untuk menjelajahi tempat-tempat yang belum dikenal, dan meninggalkan kepuasan diri dan ketumpulan pemikiran. Akan selalu ada seseorang di suatu tempat yang belajar lebih cekatan daripada kita.

 

Nah berikut adalah tips yang aku kumpulkan supaya kita terus semangat belajar dan agar pembelajaran kita terus efektif:

 

 

#1: Jangan mempelajari sesuatu yang sangat, sangat, sangat spesifik

Coba pikirkan pertanyaan ini: Saat memikirkan tentang Leonardo da Vinci, apakah definisi yang muncul di pikiranmu? Pelukis? Ilmuwan? Penulis? Penemu? Arsitek? Beliau merupakan kesemuanya itu; sebagai seorang sosok “manusia Renaisans,” beliau berjaya di berbagai macam bidang yang berbeda, dan berusaha untuk menghindari spesialisasi yang teramat spesifik yang terkadang justru menghalangi kita untuk berpikir lebih luas dan memahami banyak hal.

 

Jadi peraturan pertama adalah untuk tidak membatasi pembelajaran kita kepada satu mata pelajaran saja. Steve Jobs pernah menjelaskan mengapa produk-produk Apple sangatlah bergaya, rapi, dan didesain dengan sempurna: saat Jobs masih seorang mahasiswa, ia mengikuti kelas kaligrafi dan ingin menyalurkan keindahan kaligrafi ke produk-produk perusahaannya. Ini membuat produk-produk Apple sekarang terlihat cantik.

 

 

#2: Kegagalan merupakan bagian dari kesuksesan, apabila kita memang dapat belajar dari kegagalan tersebut

Aku memiliki kesulitan untuk mempercayai bahwa kebalikan dari kesuksesan adalah kegagalan. Sebaliknya, aku percaya bahwa kunci kesuksesan adalah kegagalan, apabila kita bisa belajari dari kegagalan tersebut. Sepanjang hidup kita menghadapi banyak sekali kegagalan-kegagalan yang sukses, pengalaman-pengalaman yang awalnya mungkin terasa menyedihkan, namun kemudian ini justru memberikan kita suatu pelajaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kita belajar dari kesalahan-kesalahan ini. Seperti yang telah ditulis oleh Konfusius: “Aku mendengar dan melupakan. Apabila aku melihat dan aku mengingat, aku melakukannya dan memahaminya.” Dan kita dapat juga menambahkan, “Kalau aku salah, aku tidak akan lupa. Aku mempelajarinya dan menjelaskannya ke orang lain.”

 

Siapa yang telah gagal mencetak 12.345 skor di dalam karir basket nya? Michael Jordan, yang telah mencetak “hanya” sebanyak 12.192 skor, yang mungkin merupakan pemain basket terhebat sepanjang masa. Thomas Edison menciptakan hampir sebanyak 10.000 percobaan akan lampunya sebelum akhirnya ia sukses.

 

Dalam bidang bisnis, apa persamaan antara Richard Branson, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg? Mereka semua pernah mengalami kegagalan banyak kali sebelum akhirnya sukses.

 

 

#3: Tidak pernah berhenti belajar

Kita tidak akan pernah berhenti belajar. Di tahun 1938, Ingeborg Rapoport baru saja menyelesaikan tesisnya di bidang medis dan nyaris saja menjadi seorang doktor. Sayangnya peraturan rezim Nazi yang rasis menghalangi tujuannya ini karena ia seorang Yahudi dan tidak dapat menjadi seorang doktor. Kemudian beliau hijrah ke Amerika Serikat dan melanjutkan studinya di bidang medis, bekerja di banyak rumah sakit sebagai paediatrician dan neonatologis sebelum akhirnya kembali ke Jerman Timur di usianya yang ke-50, kemudian mendirikan klinik neonatologis pertama di Berlin Timur. Di tahun 2015, University of Hamburg memutuskan untuk membayar atas ketidakadilan tersebut dan, setelah 77 tahun berlalu, Rapoport akhirnya menjalani sidang tesisnya yang telah ia buat di tahun 1983, dan mendapatkan gelar yang ditunggu-tunggu di usianya yang ke-102. Komitmennya untuk terus belajar dan berjuang melawan ketidakadilan yang ada telah membuat beliau menjadi inspirasi banyak orang.

 

(Sumber: https://www.weforum.org/agenda/2016/05/why-should-we-become-machines-of-continuous-learning?utm_content=bufferd306c&utm_medium=social&utm_source=twitter.com&utm_campaign=buffer)

Mencari jurusan

Pilih negara
JenjangPendidikan*
TENTANG PENULIS

Dian Wijayanti adalah penulis dan editor Hotcourses Indonesia. Ia juga berprofesi sebagai tutor privat Bahasa Inggris dan penerjemah freelance. Dian baru saja dipilih sebagai salah satu kandidat di the Graduate School of Asia Pacific di Waseda University Jepang. Ia juga memiliki pengalaman bekerja di konsultan pendidikan di Indonesia yang bertanggung jawab membantu mahasiswa Indonesia meneruskan pendidikan mereka ke luar negeri, dan sekarang ia ikut membantu dalam proyek Beasiswa untuk Mahasiswa/i Kebidanan yang berbasis di Australia.