Informasi penting
Study abroad: Info Jurusan

5 Kesalahan Yang Sering Terjadi Saat Mempelajari Bahasa Asing

2452

Menurut penulis The Telegraph, Anne Merritt, belajar Bahasa bukanlah sesuatu yang mudah—tapi hal ini akan terasa jauh lebih susah apabila Anda terjebak masuk ke dalam lima perangkap ini.

 

Katanya orang-orang pintar dapat belajar Bahasa dengan lebih baik. Itu mitos! Memang saat seseorang sudah memiliki strategi jitu untuk belajar ini merupakan suatu keuntungan. Namun kebanyakan kompetensi berbahasa asing merupakan sesuatu yang didapatkan dari kebiasaan, yang dapat dipupuk melalui kedisiplinan dan kesadaran diri.

 

Banyak para ahli Bahasa yang percaya bahwa pembelajaran Bahasa dimulai dari “diam,” seperti halnya bayi-bayi yang baru belajar Bahasa dengan mendengar dan menirukan bunyi, kita pun perlu melatih mendengarkan saat mempelajari Bahasa asing. Dengan cara ini kita dapat menambah kosakata dan mempelajari struktur Bahasa; jadi pelan-pelan kita mempelajari struktur dari Bahasa tersebut.

 

Kompetensi Listening  adalah kemampuan yang kita gunakan setiap hari, namun ini tidaklah mudah dilatih kecuali kita memang telah tinggal di Negara asing atau mengikuti kelas Bahasa secara intensif. Lalu apa solusinya? Dengarkanlah musik, podcast, serial TV dan film yang dibawakan dalam Bahasa Asing yang kita pelajar, dan teruslah berlatih mendengarkannya sesering mungkin.

 

Berikut lima kesalahan yang sering terjadi saat belajar bahasa asing:

 

1. Kurang latihan mendengar

Ada sebuah sekolah bahasa yang yakin bahwa belajar bahasa dimulai dengan "masa-masa diam", seperti halnya seorang bayi yang belajar bahasa dengan mendengar dan menirukkan suara-suara di sekitar. Pembelajar bahasa juga perlu latihan mendengar untuk belajar. Hal ini bisa memperkuat kosakata dan struktur bahasa serta membantu pembelajar melihat pola bahasa asing yang sedang mereka pelajari.

Latihan mendengar bisa dilakukan dengan mudah. Banyak sekali lagu-lagu bahasa Inggris, podcast, film dan lain-lain.

 

 

2. Kurangnya rasa ingin tahu

Dalam pembelajaran Bahasa, sikap kita bisa menjadi faktor penentu cepat tidaknya kita mempelajari bahasa target.


Para ahli Bahasa mempelajari tingkah para murid yang mempelajari Bahasa asing di tahun 1970 di Quebec, Kanada, ketika perseteruan antara para penutur Bahasa Inggris dan Bahasa Perancis sedang memuncak. Menurut hasil studi ini, para penutir Bahasa Inggris yang berprasangka buruk terhadap orang-orang Kanada keturunan Perancis sering mendapat skor buruk di mata pelajaran Bahasa Perancis, meski mereka wajib mempelajari Bahasa tersebut bertahun-tahun di sekolah.


Di lain sisi, murid yang antusias mempelajari budaya Bahasa yang dituju akan memiliki tingkat kesuksesan yang lebih tinggi dalam studi mereka. Murid-murid yang memiliki rasa ingin tahu akan lebih terbuka pemikirannya akan Bahasa yang mereka pelajari dan juga selalu antusias untuk menjalin pertemanan dengan penutur asing.
 

 

3. Pemikiran yang kaku​

Para ahli Bahasa menemukan informasi bahwa para murid yang sering mengalami kesulitan dengan pembelajaran mereka adalah murid-murid yang memiliki toleransi yang rendah akan ambiguitas.


Ada banyak ketidakpastian dalam mempelajari Bahasa—murid-murid akan menemukan banyak kosakata baru setiap harinya, dan struktur kalimat yang mereka temui tidak akan selalu baku, karenanya Bahasa yang dipelajari akan sarat dengan ambiguitas kecuali para murid telah mencapai tingkat kefasihan yang setara dengan penutur asli.


Murid-murid yang mendapat kosakata baru dan meraih kamus alih-alih menebak artinya mungkin akan merasakan kesulitan belajar dalam kelas Imersi. Karenanya mereka mungkin akan berhenti belajar Bahasa tersebut karena frustrasi. Ini adalah pola pikir yang susah diubah, namun tidak mustahil. Latihan-latihan yang pendek dan singkat dapat membantu proses pembelajaran meski tidak terlalu signifikan. Carilah lagu atau teks di Bahasa yang dituju dan berlatihlah menebak inti dari kalimat tersebut meski ada beberapa kata yang mungkin tidak Anda mengerti.

 


4. Memiliki satu metode saja untuk belajar

Beberapa murid merasa nyaman dengan metode mendengarkan-dan-mengulangi yang ditawarkan dan diterapkan di lab bahasa atau di podcast. Yang lainnya memerlukan buku panduan grammar untuk mengerti bahasa Asing yang dipelajari. Kedua metode tersebut sama baiknya, namun hanya mengandalkan satu metode saja merupakan suatu kesalahan.


Para murid yang menggunakan beberapa metode berbeda dapat melatih kompetensi yang berbeda-beda juga dan mendapatkan pengertian akan suatu konsep dari beberapa penjelasan yang juga berbeda. Bahkan variasi yang mereka dapatkan ini dapat menghindarkan mereka dari rutinitas belajar yang monoton.


Saat memilih kelas atau kursus, para murid perlu mencari kelas yang dapat memberikan pelatihan empat kompetensi bahasa (membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara). Bagi Anda yang ingin belajar secara otodidak, Anda dapat mencoba menggunakan buku-buku manual yang berbeda-beda, termasuk diantaranya podcasts dan juga aplikasi-aplikasi pembelajaran bahasa.

 


5. Merasa takut

Kita bisa saja menulis naskah dalam bahasa asing, membentuk struktur kata yang canggih ataupun lulus mengerjakan tes kosakata, tapi apabila kita benar-benar ingin mempelajari, membangun skills dan mendayagunakan bahasa asing yang kita pelajari, kita harus mau berbicara.


Justru inilah tahap saat para murid tak bergeming, dan rasa malu dan ketidakpercayaan diri justru menghancurkan semua kerja keras mereka, terutama di tengah budaya Timur yang mendoktrin bahwa apa yang tampak di luar akan menentukan nilai sosial seseorang di dalam masyarakat. Banyak pengajar Bahasa Inggris yang mengutarakan komplain bahwa meski sudah belajar bahasa Inggris selama bertahun-tahun, murid-murid tetap tidak mau berbicara. Mereka terlalu takut membuat kesalahan dalam grammar atau dalam mengucapkan kata-kata yang dapat mempermalukan diri mereka di depan umum.


Kunci dari pembelajaran sebenarnya adalah dari kesalahan; hal-hal tersebut lah yang justru membantu menunjukkan kepada para murid batasan-batasan dari sebuah bahasa, dan dari situlah mereka justru bisa memperbaiki kesalahan mereka sebelum kesalahan itu menjadi sebuah kebiasaan. Semakin banyak Anda berlatih berbicara dan bercakap-cakap, semakin besar pula kesempatan mereka Anda untuk meningkatkan kemampuan berbahasa asing.

 

(Narasumber: Telegraph.co.uk)

Mencari jurusan

Pilih negara
JenjangPendidikan*
TENTANG PENULIS

Dian Wijayanti adalah penulis dan editor Hotcourses Indonesia. Ia juga berprofesi sebagai tutor privat Bahasa Inggris dan penerjemah freelance. Dian baru saja dipilih sebagai salah satu kandidat di the Graduate School of Asia Pacific di Waseda University Jepang. Ia juga memiliki pengalaman bekerja di konsultan pendidikan di Indonesia yang bertanggung jawab membantu mahasiswa Indonesia meneruskan pendidikan mereka ke luar negeri, dan sekarang ia ikut membantu dalam proyek Beasiswa untuk Mahasiswa/i Kebidanan yang berbasis di Australia.