Informasi penting
Study abroad: Info Jurusan

Fakta Mengenai Jurusan di Universitas (Bagian 3)

558

Untuk kamu yang masih galau

“Aku suka berbicara dengan para murid yang masih bingung memilih spesialisasi mereka. Menurutku mereka jauh lebih jujur dengan dirinya sendiri dan memiliki pemikiran yang lebih terbuka,” kata John Bader, Associate Dean for Academic Programs and Advising di John Hopkins University di Baltimore, Maryland.

(Klik di sini untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai John Hopkins University)

Menurut Bader dan juga mereka yang berpikiran sama, para murid yang berani berkata, “Aku masih tidak tahu apa yang akan aku lakukan,” adalah mereka yang memiliki integritas. “Artinya kamu sangatlah terbuka,” tambah Waddell. “Aku suka kata-kata ‘deciding’ students—murid-murid yang masih memilih.”

Di masa lampau, murid-murid yang masih galau dicap negative: mereka dianggap tidak memiliki fokus dan arahan yang jelas, menurt Plummer. Namun sekarang ini merupakan sesuatu yang berbeda. “Banyak universitas yang tidaklah terlalu memperdulikan hal ini lagi,” katanya. “Mereka tahu seiring berjalannya waktu ini dapatlah ditentukan di kemudian hari.” Namun setidaknya kamu perlu memiliki gambaran kasar akan apa yang ingin kamu lakukan atau kamu sukai.

 

“Ketika aku bertemu dengan murid-murid yang masih galau, kami akan mulai mendiskusikan minat dan aktivitas mereka,” kata Crabtree. “Seringkali mereka merasa kewalahan menghadapi proses seleksi yang ada dan memiliki informasi yang masih terbatas akan pilihan-pilihan jurusan dan jalur karir yang ada, dan mereka hanya masih belum yakin akan bagaimana mereka harus memulai proses ini.”

Untuk mengawalinya, para murid perlu mempertimbangkan pilihan-pilihan yang ada.

“Caranya adalah dengan mengikuti kuliah-kuliah yang dapat diambil, berbicara dengan staf universitas, melakukan riset akan pilihan-pilihan mereka di career center, dan berbicara dengan teman-teman dan anggota keluarga yang bekerja di bidang karir yang mereka minati.”

 

“Aku percaya bahwa dengan berbicara dengan mereka yang telah memiliki karir di bidang yang kamu minati, atau bahkan mengunjungi tempat kerja mereka, akanlah sangat membantumu menentukan pada akhirnya,” kata Carol Spector, Director of Career Sevices di Emerson College di Boston, Massachusetts. Melakukan wawancara yang informatif merupakan bagian dari proses seleksi. Kantor-kantor career services biasanya dapat menjadwalkan wawancara serupa, dan kamu bisa juga bertemu dengan para ahli untuk belajar lebih lagi dari mereka, mungkin bisa melalui makan siang bersama atau dengan mengamati mereka di dalam lapangan kerja mereka.

(Klik di sini untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai Emerson College)

Kamu bisa juga menggunakan kesempatan-kesempatan yang ada di kampus, misalnya saja mengikuti kuliah di departemen yang berbeda. Cobalah baca ringkasan kelas-kelas online untuk mendapatkan gambaran akan topik-topik yang akan dibahas. Tidak ada yang akan melarang kamu mengunjungi toko buku di universitas tujuanmu untuk mensurvei makalah-makalah yang biasanya dipakai di kelas-kelas, sekadar untuk mencari tahu sedikit mengenai bidang yang akan kamu pelajari, kata Bader.

Namun, meski kebebasan ini terdengar sangatlah menyenangkan, kegalauan pun ada batasnya. Meski sekarang persepsi orang-orang akan mereka yang masih galau telah berubah, kesempatan untuk meraih beasiswa mungkin akan menjadi sangatlah terbatas. Dan apabila kamu menunggu terlalu lama untuk menentukan jurusanmu, kamu bisa menghabiskan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pendidikanmu. Kamu perlu menghabiskan satu musim panas lagi, setengah tahun lagi, satu tahun lagi, dan kamu perlu terus membayar untuk menyelesaikan studimu, sementara beasiswa tidak selalu dapat diperpanjang lebih dari empat tahun lamanya.

 

“Ada suatu ketika kamu akhirnya perlu menentukan,” kata Bader. “Kamu tidak bisa terus-menerus galau.” Bader menyarankan untuk mempersempit dan mengeliminasi pilihan-pilihan yang telah tersedia untukmu, misalnya pilihlah tidak lebih dari 3-5 mata kuliah spesialisasi.” Bisa saja sih, kalau kamu tetap mau galau sampai akhirnya kamu lulus—tapi kamu perlu menentukan strategi.

 

Misalnya saja, kamu bisa mengambil mata kuliah yang cukup luas cakupan studinya, misalnya saja Sejarah, yang dapat digunakan dalam 4-5 jurusan yang berbeda (misalnya saja, dalam jurusan Hubungan International, Southeast Asian Studies, Antropologi, Ilmu Politik, dan Sejarah). Bader berkata: “Kalau kamu galau, tidak berarti kamu ini bodoh—dan jangan pula kamu bertingkah bodoh. Pikirkan strategimu.”

(Kamu tertarik untuk belajar Sejarah? Yuk coba survei universitas yang menawarkan jurusan ini!)

“Asumsikanlah tiap-tiap kelas yang kamu ambil sebagai sebuah kesempatan untuk mengekspos dirimu kepada tiap-tiap jurusan yang kamu minati. Namun kamu belum perlu mendaftar untuk kelas-kelas spesialisasi tertentu; yang penting kamu mengambil mata kuliah umum dulu agar kamu tidak membuang waktu,” kata Joshua McCay yang telah lulus di tahun 2010.

 

Bahkan ketika ia masih kecil, McCay tahu ia ingin bekerja di agensi pemerintah seperti misalnya FBI. Ia mengambil jurusan Psikologi di Dominican University, namun ketika ia baru mendaftar di DUC, dia sebenarnya masih galau, dan satu-satunya hal yang pasti untuknya ketika itu adalah kesukaannya bermain lacrosse.

(Mungkin kamu tertarik belajar Psikologi juga? Coba klik di sini untuk mensurvei universitas yang menawarkan program Psikologi)

Ia mendaftar untuk mata kuliah di University’s Vision Quest, yang membantu murid-murid galau menemukan minatnya. (Banyak juga universitas yang menawarkan kelas-kelas serupa.) Tak lama, DUC mengadakan bursa kerja di tahun keduanya. McCay mendapat kesempatan bertemu dengan agen FBI yang hadir ketika itu dan berbicara dengan mereka selama satu setengah jam. Percakapan tersebut membantunya memantapkan pilihannya.

 

McCay berusaha untuk tidak terburu-buru dalam menentukan jurusan yang ia mau, dan ia pun menyarankan yang lain untuk melakukan hal yang sama. Tidak perlu terburu-buru, katanya. “Kamu selalu dapat merubah pikiranmu nantinya.” Sebagai salah satu anggota di tim lacrosse, fraternitas Psi Chi, dan Kapten di Student Ambassador, ia menyarankan untuk bergabung dengan sebanyak mungkin kegiatan di kampus untuk membantumu menentukan. “Jangan pernah takut untuk berbicara dengan para seniormu,” katanya. “Belajarlah dari pengalaman dan kesalahan mereka.”

 

Pada akhirnya

Di dunia yang lebih ideal, waktumu belajar di universitas merupakan kesempatan untuk belajar tanpa perlu mengkhawatirkan karirmu di masa depan. Tentu saja ini bukanlah sesuatu yang bisa dihiraukan begitu saja, namun inilah rahasianya dan kunci persepsi mereka dalam melihat “dunia nyata”: “Di masa depan nanti, ini sama sekali tidak berpengaruh,” kata Bader.

Jurusan yang kamu pilih di tingkat Sarjana tidak selalu mendefinisikan hidupmu dan kadang bahkan tidak berpengaruh sama sekali. Kamu bisa saja menjadi pengacara dengan gelar Sarjana di bidang Sejarah Seni. Dan kamu bisa saja mengambil jurusan Hukum namun kemudian malah membuka toko roti.

 

“Jangan terlalu menekan dirimu sendiri,” kata Bader. “Jangan beranggapan seolah-olah ini merupakan suatu kontrak.” Jurusanmu dapat mempersiapkanmu dengan kompetensi dasar yang dapat kamu asah lebih lanjut di ranah karirmu, namun kamulah yang akan menentukan masa depanmu sendiri.

 

(Sumber: http://www.collegexpress.com/articles-and-advice/majors-and-academics/articles/choosing-major/truth-about-college-majors/)

Mencari jurusan

Pilih negara
Kejuruan
TENTANG PENULIS

Dian Wijayanti adalah penulis dan editor Hotcourses Indonesia. Ia juga berprofesi sebagai tutor privat Bahasa Inggris dan penerjemah freelance. Dian baru saja dipilih sebagai salah satu kandidat di the Graduate School of Asia Pacific di Waseda University Jepang. Ia juga memiliki pengalaman bekerja di konsultan pendidikan di Indonesia yang bertanggung jawab membantu mahasiswa Indonesia meneruskan pendidikan mereka ke luar negeri, dan sekarang ia ikut membantu dalam proyek Beasiswa untuk Mahasiswa/i Kebidanan yang berbasis di Australia.