Informasi penting
Inggris: Info Jurusan

Pengalaman Kuliah di Oxford - Maudy Ayunda

2939

Artis Maudy Ayunda baru saja lulus dari University of Oxford, Inggris. Hal tersebut tentu menjadi kebanggaan tersendiri baginya.

Kini, Maudy telah kembali ke Indonesia. Dia pun bercerita tentang pengalamannya bisa lulus dari kampus tersebut.

 

Mengapa memilih Oxford?

 

 

"Mengapa aku pilih Oxford? sebenarnya karena jurusannya. Aku udah lama banget pengen belajar P.P.E. (Politic, Philosophy, Economy). Menurut aku kombinasi dari politik, ekonomi dan filsafat itu bukan hanya keren, tapi mereka juga sangat melengkapi satu sama lain, dan menambahkan nilai plus di masing-masing bidang," kata Maudy.

 

Susah gak masuk Oxford?
 

"Interviewnya sangat menakutkan, berlangsung 30 menit dengan tiga orang yang menanyakan masing-masing bidang, filosofi, politik dan ekonomi," kata Maudy.

 

PPE merupakan salah satu jurusan favorit - baik dari mahasiswa dalam negeri dan internasional. Selain itu, Oxford adalah universitas pertama yang menawarkan PPE, yang sudah menghasilkan para Lulusan yang menjadi politisi terkenal di Inggris dan di dunia, misalnya PM David Cameron; pemimpin oposisi Partai Buruh, Ed Miliband; dan PM Australia, Tony Abbott.

 

Maudy mengatakan guru SMAnya bahkan tidak menyarankan untuk mendaftar ke jurusan ini, karena kesempatan untuk diterima sangatlah tipis. Tapi buktinya, Maudy diterima tuh, dan bahkan sudah lulus. Well Done Maudy!

 

 

Seperti apa sih perkuliahan di Oxford itu?

 

Tahun pertama diawali dengan pelajaran filafat. Maudy mendapatkan pengetahuan dasar mengenai Existentialism (eksistensi, kebebasan dan pilihan). "Itu seperti apa yang benar dan apa yang salah, berdasarkan penjelasan secara logis. Kita diajarkan untuk memahami pemikiran sendiri dan menyampaikan argumen... " tuturnya.

 

 “Lalu di tahun kedua, kita belajar lebih dalam mengenai filosofi dalam konteks politik. Kami banyak membaca literatur dan pandangan dari philosopher masa lala seperti Plato, Jean-Jaques Rosseau, John Locke, Thomas Hobbes, hingga Nicolo Machiavelli”.

"Jadi filosofi yang berhubungan dengan politik ini sudah sangat kuno, dan saya sangat menyukainya. Menurut saya sangat menarik” katanya dengan wajah sumringah.

Setiap minggu, Maudy harus mengerjakan satu esai tentang satu ahli filsafat, di mana dia harus membaca teks asli, yang bahasa penulisannya butuh dicermati lebih dalam.

 



"Ya, saya bawa kemana-mana bukunya, terus kayak bikin coretan dan harus dibaca berulang kali. Kadang kita tangkap waktu pertama kali baca itu beda setelah beberapa kali kita baca. Jadi harus berkali-kali. Biasanya juga harus baca bacaan pelengkap, yang isi bacaannya sangat berat, tapi seru juga. Karena nanti akan dibahas bertiga dengan dosen dan teman. Jadi kita menyampaikan bagaimana kita melihat dunia, dan kita juga mendengarkan bagaimana orang lain melihat dunia. Saling bertukar pendapat itu sangat menarik, dan kadang saya merasa ‘amazed’ bagaimana pikiran manusia itu bisa berbeda-beda." tutur penyanyi yang juga sudah membintangi 10 judul film itu.
 

Memasuki tahun kedua jurusan PPE yang berlangsung selama tiga tahun, Maudy mengatakan salah satu hal yang paling menarik adalah cara belajar melalui sistem tutorial.

 

"Jadi sistemnya adalah saya belajar dengan satu teman dan satu tutor (pembimbing). Kami berargumen tentang satu buku. Tidak bisa menghindar, karena hanya berdua atau bertiga," tambahnya.

 

 

 

 

Maudy mengakui juga sempat merasa stres menjelang ujian akhir. Bagaimana tidak, kuliahnya selama tiga tahun di London hanya ditentukan dalam waktu tiga minggu saja.

 

"Di Oxford enggak ada skripsi, Cuma ujian. Jadi aku mengerjakan delapan ujian lisan dalam jangka waktu tiga minggu. Kesulitan, amat sangat sulit karena semua yang didapat dalam waktu tiga tahun itu seluruhnya sangat bergantung pada tiga minggu itu. Jadi kita ngerjakan tugas-tugas dari awal sampai akhir itu enggak dihitung," katanya.

 

“Dalam satu ujian, kita harus memberikan argumennya berbentuk esai dalam waktu tiga jam. Ujian itu ada tiga pertanyaan dari subjek apapun. Jadi dalam tiga tahun itu kita belajar di satu pelajaran ada 12 sub topik. Dari 12 itu kita harus jawab tiga pertanyaan." Tambah Maudy.

 

 

Apa yang Maudy dapatkan dari perkuliahan di Oxford?


Menurut Maudy, belajar politik akan sangat bagus jika didukung pengetahuan ekonomi. Begitu juga sebalikya. Sedangkan dengan belajar filosofi, kita akan dilatih berpikir lebih kritis akan suatu kebijakan atau aturan.

Lalu mengenai hubungan filosofi dengan ekonomi dan politik, Maudy memiliki pandangan yang menarik.

 

 

"Kalau menurut aku, filsafat itu membuat kita berpikir dengan lebih kritis. Jadi kita nggak menerima sesuatu itu tanpa berdasarkan bukti. Sedangkan di dunia politik dan ekonomi, peraturan sudah tertulis dari jaman dulu, dan mengapa sesuatu benar atau salah? Itu karena peraturannya memang begitu, jadi lebih kaku." bebernya.


Kamu juga tertarik ingin mengikuti jejak Maudy? Kalo kamu juga pengen kuliah ke Inggris, Hotcourses menyediakan e-book gratis yang bisa kamu download. Apa isi dari e-book ini?

 

 

sumber: 

http://life.viva.co.id/news/read/834283-cerita-maudya-ayunda-lulus-dari-oxford?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook

http://hot.detik.com/celeb/3112140/cerita-maudy-ayunda-semangat-belajar-politik-ekonomi-dan-filosofi-di-oxford

https://web.facebook.com/bbc.indonesia/posts/10155536225610434

Mencari jurusan

Inggris
JenjangPendidikan*
TENTANG PENULIS

GRATIS

Ebook 'Kuliah di Inggris'

Suka dengan bacaan ini? Kami telah mengumpulkan topik-topik populer tentang kuliah di Inggris dalam satu buku digital praktis.