Informasi penting
Study abroad: Kehidupan Pelajar

MENGEJAR IMPIAN DARI BOYOLALI SAMPAI KE UNIVERSITY OF EDINBURGH

Angga Fauzan di University of Edinburgh
114

Setelah berhasil menjadi orang pertama di keluarganya yang kuliah hingga sarjana, Angga Fauzan terus mengejar cita-citanya hingga menggapai gelar S2 di Skotlandia! Ikuti perjalanan Angga dari Boyolali ke ITB sampai ke University of Edinburgh yang menjadi pembuktian bahwa doa, usaha dan mimpi tak akan mengkhianati hasil.

 

Pertama kalinya aku memikirkan dunia yang luas adalah saat aku masih duduk di bangku SMP di Boyolali. Sebagai pustakawan di perpustakaan sekolahku, aku banyak berinteraksi dengan buku-buku yang menginspirasi. Tetralogi Laskar Pelangi, serial Harry Potter serta karya-karya Habiburrahman El Shirazy punya andil besar dalam memantik semangatku menjelajahi dunia. Aku benar-benar ingin bisa sekolah sampai ke luar negeri.

 

Sejak SMA, hobiku selain ikut organisasi dan kompetisi adalah pergi ke warnet untuk sekadar melihat pemandangan negara-negara Eropa. Bahkan aku mencetak syarat dan ketentuan masuk University of Oxford untuk kubaca di rute 30 Km yang tiap hari kulewati untuk pulang pergi ke sekolah. Meski alasanku memilih universitas itu sesederhana karena ingin memasuki kampus yang digunakan sebagai lokasi syuting film Harry Potter, tapi sensasi membayangkan diriku bisa berada di sana benar-benar menyihirku.

 

Angga di Glenfinnan Viaduct, Skotlandia - salah satu lokasi syuting Harry Potter

Angga di Glennfinan Viaduct, jalur kereta api di Skotlandia yang digunakan sebagai lokasi syuting Harry Potter (Foto: Dok. pribadi Angga)

 

Aku seolah lupa bahwa untuk bisa bersekolah saja membutuhkan perjuangan yang berat. Bayangkan saja, sesudah mengambil ijazah kelulusan SMP, aku langsung diajak orang tuaku ke tempat kursus komputer agar tak perlu lanjut SMA karena keterbatasan dana. Maklum saja, Ibuku berprofesi sebagai pedagang gorengan keliling dan Bapakku hanyalah pengrajin kecil-kecilan.

 

Walaupun aku akhirnya bisa masuk SMA, nilai ujian nasionalku yang jeblok membuatku pesimistis untuk bisa lanjut kuliah. Masalahnya, aku tak mampu ikut bimbingan belajar seperti ribuan siswa SMA lainnya yang berebut kursi di perguruan tinggi favorit. Aku juga sempat mencoba jalur undangan, namun tidak berhasil. Aku hanya bisa mengandalkan beberapa buku bekas sebagai senjata pamungkas untuk belajar menghadapi ujian masuk ITB kala itu. Syukurlah semua usahaku membuahkan hasil. Aku diterima di jurusan Desain Komunikasi Visual di ITB dan mendapatkan beasiswa Bidikmisi dan Rumah Kepemimpinan.

 

Sejak awal kuliah, aku mulai serius menyiapkan diri untuk studi paska sarjana di luar negeri. Aku belajar bahasa Inggris secara mandiri dengan cara membaca berbagai buku berulang kali, seperti buku grammar, percakapan harian hingga latihan tes TOEFL. Wallpaper ponsel dan media sosialku selalu dihiasi oleh logo dan pemandangan kampus Oxford untuk menjaga semangatku.

 

Temukan kisah inspiratif tentang studi dan berkarir di luar negeri di Indonesia Mengglobal!

Pada tahun 2016, aku mengikuti mentoring Indonesia Mengglobal. Di titik ini, aku menyadari ada banyak hal lain yang perlu kupertimbangkan dalam memilih kampus dan jurusan. Misalnya linearitas bidang studi, fokus riset, kondisi kampus dan lingkungan, serta berbagai faktor lainnya. Alhasil, setelah melakukan berbagai pencarian dan pendalaman, kutetapkan University of Edinburgh sebagai tujuanku.

 

Demi lebih mematangkan kesiapanku meraih beasiswa, aku rajin mencari dan membandingkan berbagai opsi yang ada. Pada akhirnya, LPDP menjadi beasiswa pilihan utamaku. Berbagai esai yang jadi syarat pendaftaran mulai kubuat sebaik mungkin dengan menggunakan semua referensi yang kutemukan di Internet. Selanjutnya, aku mengamati formulir isian CV yang harus dilengkapi para pelamar beasiswa tersebut dan mencoba mengisinya satu per satu.  Hal-hal yang masih kosong segera kulengkapi dengan mengikuti berbagai kesempatan. Contohnya, saat kuliah di tingkat 4, aku membuat empat makalah yang diikutsertakan di berbagai seminar ilmiah nasional di Solo, Surabaya dan Jakarta. Tak hanya itu, aku juga menambah pengalaman profesionalku dengan magang di sebuah agensi di Semarang dan di Kemenristekdikti Jakarta.

 

Setelah lulus kuliah, aku bekerja di Bekraf RI dengan jam kerja yang super padat. Waktu sebelum berangkat dan sepulang kerja selalu kugunakan untuk mempelajari ratusan soal TOEFL. Selain itu, aku juga mengikuti tesnya setiap bulan. Total empat kali aku ikut tes tersebut, namun hasil yang keluar tidak cukup untukku mendaftar LPDP. Aku sempat nekat mendaftar LPDP gelombang ke-4 di akhir 2016 dengan jalur prestasi, tetapi gagal. Percobaan pertamaku untuk mendaftar ke University of Edinburgh juga ditolak pada tahun yang sama.

 

Untuk menyiapkan diri lebih matang, aku memutuskan untuk mengambil kelas intensif IELTS selama sebulan di Kampung Inggris Pare. Dalam satu hari, aku bisa berlatih speaking sekitar 4 jam dengan kawan-kawan di sana serta mengerjakan beberapa paket soal IELTS. Hasilnya, skor tes ujicobaku cukup memuaskan, khususnya untuk bagian Listening dan Reading yang terus meningkat hingga mencapai angka 8. Seminggu setelah aku selesai belajar di sana, aku mengikuti tes IELTS dan mendapat hasil yang memuaskan.

 

Unduh brosur universitas favoritmu di Inggris

 

Selain karena sertifikat IELTS yang mumpuni, aku juga merasa semakin siap karena esaiku lebih matang berkat revisi yang tak terhitung jumlahnya dari kawan-kawanku. Aku lalu mulai mendaftar lagi ke University of Edinburgh.  Aku juga sempat mendaftar ke beberapa kampus lain untuk mengukur tingkat kapabilitas pribadiku. Sekitar sebulan lebih berselang, aku mendapat kabar baik. Selain diterima di Edinburgh untuk program MSc Design and Digital Media, aku juga diterima di tiga kampus lainnya! Dengan LoA yang sudah ditangan, maka targetku tinggal mendapatkan LPDP.

 

Aku mengikuti seleksi LPDP pada pertengahan 2017 dengan kelengkapan dokumen yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Seleksi administrasi dan online assessment berhasil kulewati hingga tinggal tahap terakhir yakni tes substansi. Aku bersama temanku lalu bersama-sama membuat ratusan daftar pertanyaan dan jawabannya sebagai persiapan wawancara. Kami juga menyiapkan mindmap mengenai berbagai isu untuk tes Leaderless Group Discussion dan esai. Selain itu, aku pernah dalam satu hari berlatih wawancara dengan lima orang di tempat yang berbeda-beda demi mematangkan persiapanku. Syukurlah tes terakhir tersebut bisa aku lalui dengan baik dan pendanaan dari LPDP berhasil aku dapatkan. Setelah mengantongi LPDP, aku dipercaya menjadi ketua angkatan dari PK-124 LPDP Arsa Candradimuka.

 

Angga di University of Edinburgh

Angga di University of Edinburgh. (Foto: Dok. pribadi Angga)

 

Aku akhirnya berangkat kuliah S2 ke luar negeri pada September 2018 - sesuatu yang benar-benar aku impikan sejak bertahun-tahun lamanya. Namun keberangkatanku ke Skotlandia diwarnai oleh insiden di mana kakiku terluka dan bengkak selama sebulan awal di sana sehingga aku sulit berjalan. Beruntung aku punya beberapa kawan baik dari Indonesia yang rajin menjenguk dan memasak untukku di penginapan. Dari situ aku belajar bahwa kekeluargaan antar putra bangsa menjadi penting bagi siapa saja yang hendak belajar ke luar negeri.

 

Di luar kegiatan kuliah, aku turut aktif di UN House Scotland sebagai volunteer graphic designer dan panitia untuk beberapa acara seperti festival dan MUN. Aku juga membantu PPI sebagai koordinator eksternal di program kerja terbesarnya yang berupa konferensi internasional. Acara ini terbilang sukses karena pendaftarnya meningkat hingga tiga kali lipat dari 17 negara dan mendapat liputan dari berbagai media.

 

Sign up sekarang untuk konsultasi gratis!

Sumber:

Artikel asli dipublikasikan oleh IndonesiaMengglobal.com

'A non-profit website for Indonesians aspiring to study and or pursue professional opportunities abroad'.

Mencari jurusan

Pilih negara
Pascasarjana
TENTANG PENULIS

Angga Fauzan di University of Edinburgh