Informasi penting
Study abroad: Kehidupan Pelajar

Menikah dan Berkeluarga atau Lanjut S2?

share image
319

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah : kenapa tidak dilakukan semuanya?

Zika menceritakan kisahnya yang nekat kuliah di Belanda dengan membawa anaknya yang berusia tiga tahun. Jauh dari keluarga, serta jauh dari suami. Pada artikel ini kami akan berbagi kisah & beberapa tips dari Zika yang bisa dijadikan bekal jika kamu tertarik melakukan hal yang sama.

 

Kehidupan Kampus

 

Jika kamu kuliah di Belanda, kamu akan menemukan bahwa semua orang di kampus kooperatif dengan keadaan mahasiswanya. Awalnya Zika segan membawa anaknya yang bernama Kira ke kampus, Ia merasa tidak enak dengan teman kelompok atau thesis supervisor. Tapi karena Ibunya tidak selamanya berada di Belanda, Zika harus mulai memberi tahu orang-orang sekitar kalau Ia punya anak dan nantinya hanya akan tinggal berdua di Belanda, sehingga mungkin di beberapa pertemuan Ia harus membawa anak karena beberapa pertemuan tidak sesuai jadwal perkuliahan.

 

Pesan thesis supervisor hanya satu, boleh membawa anak asal anaknya tidak terlalu mengganggu. Syarat ini sebenarnya agak menantang, namun mau bagaimana lagi. Sebelum membawa Kira ke kampus untuk  pertama kali, Zika sudah mewanti-wanti kalau di kampus harus tenang, tidak boleh berisik, bicara harus pelan-pelan. Hari pertama ikut ke kampus, Zika menyiapkan bekal untuk Kira yang luar biasa banyak, agar Kira bisa ditenangkan dengan makanan. Zika juga menyiapkan pensil warna dan kertas mewarnai karakter Frozen. Bekal ini berhasil juga menenangkan Kira. Untungnya, Kira adalah anak yang mudah tidur, sehingga di kampus pun ia sering tidur siang sambil dipangku.

 

Kira berpose di Leiden University. Foto milik penulis.

Kira berpose di Leiden University. Foto milik penulis.

Teman-teman kampus menyambut baik kehadiran anak kecil, walaupun awalnya Zika ragu karena tidak ada yang membawa anak kecil sama sekali, namun ternyata semua orang welcome. Semua yang berpapasan dengan Kira tersenyum, tak ada yang menunjukkan rasa terganggu atau menghakimi. Tidak jarang juga Kira diajak mengobrol oleh dosen atau karyawan, diberi permen sisa halloween, lollipop, bahkan dosen ikut mewarnai. Wow, luar biasa ya.

 

 

Jika ada kelas wajib, Zika harus mencari tempat “penitipan” untuk Kira. Pilihan pertama adalah playgroup umum Belanda, atau daycare. Biaya daycare di Belanda cukup mahal dan ternyata anak harus di daycare selama 7 jam di hari yang sudah di daftarkan. Akhirnya, Kira sekolah di playgroup umum, dengan durasi tiga jam per hari. Beruntungnya cocok dengan jadwal kuliah Zika. Terkadang ada satu kelas kuliah yang tidak cocok dengan jadwal sekolah Kira, Zika langsung mengajukan pindah ke kelas lain yang jadwalnya sesuai. Dosen-dosennya sangat kooperatif dan benar-benar mempertimbangkan aspirasi mahasiswa, jadi dengan mudahnya Zika dipindah ke kelas yang jadwalnya cocok dengan sekolah Kira. 

 

Jika Kira sudah berusia di atas 4 tahun, Ibunya jadi bisa lebih bebas untuk kuliah dan membereskan rumah, karena nantinya Kira sekolah seharian dari jam 08.45 sampai 15.00. Itulah enaknya kuliah di Leiden University. Jika ada kesulitan atau hal-hal yang memberatkan studi, katakan saja ke dosen, pasti dibantu. Jika tidak bisa menemukan solusi yang kita harapkan, pasti akan dicarikan solusi yang paling mendekati sempurna. Zika mengatakan, tidak ada “kasta” di Belanda, dosen dengan mahasiswa sudah seperti teman. Diskusi di kelas tidak terasa seperti diskusi formal. Dosen ikut berdiskusi, tidak bertindak seperti Yang Maha Tahu, malah sering meminta pendapat mahasiswa,.


 

Terkadang, ada juga kelas mendadak dimana jadwal kuliah tiba-tiba dipindah ke hari atau jam lain. Namun tetap ada solusi.  Zika sering menitipkan Kira ke teman yang jadwalnya sedang kosong. Jika terpaksa, Zika menyampaikan ke dosen bahwa karena perubahan jadwal, Ia kemungkinan harus bawa anak ke kelas. Biasanya, jika tidak terlalu mengganggu mereka mengizinkan. Opsi lain adalah mencari nanny yang dibayar per-jam. Nanny harus di kontak satu minggu sebelumnya. Untungnya jadwal kuliah selalu keluar satu minggu sebelumnya. Tapi Zika menghindari opsi ini karena lebih repot dengan urusan bahasa. 


 

Catatan Tambahan

 

Untuk yang berniat membawa anak kuliah di Belanda, bawalah biaya 2 kali lipat. Selain pengeluaran uang, pengeluaran tenaga juga menjadi double. Siapkanlah kekuatan fisik dan mental 3-4 kali lipat. 

Yang tidak kalah penting, ada baiknya orang tua berangkat lebih dahulu daripada anaknya, karena kamu tidak akan tau berbagai kondisi disana ketika pertama kali sampai di tempat studi. Berangkatlah lebih dulu agar kamu bisa mengatasi berbagai problem yang mungkin terjadi. Jika kamu berangkat dengan anak di waktu yang sama, kamu akan kerepotan dan menjadi lelah. Khusus di Belanda, dan di Universitas Leiden, kampus tidak menyediakan housing untuk mahasiswa master yang membawa anak. Jadi, kamu harus mencari akomodasi sendiri. Sebagian besar  properti yang mengizinkan ada anak, penyewa utamanya harus expat, tidak boleh mahasiswa. Jika properti untuk mahasiswa, tidak boleh ada anak-anak. Memusingkan bukan? 

 

Kira saat ikut thesis meeting ibunya di perpustakaan kampus. Foto milik penulis.

 

Zika akhirnya menceritakan masalah akomodasi di grup Facebook, dan menemukan gadis yang menawarkan lantai atas rumahnya untuk dihuni oleh Zika dan anaknya. Pada awalnya Zika masih ragu untuk tinggal bersama pemilik rumah. Namun setelah mengalami sakit berbarengan dengan Kira, sepertinya tinggal serumah dengan orang lain justru merupakan ide yang lebih baik. Beberapa tips yang bisa Zika berikan untuk bertahan hidup bersama balita sambil kuliah di Belanda adalah:

 

  • Bisa naik sepeda. Jika tidak bisa, kamu tidak akan bisa mengejar kelas setelah mengantar anak sekolah.

  • Carilah rumah yang sharing dengan orang lain. Akan sangat membantu jika kita sakit atau ada hal-hal lain yang membuat kita tidak berfungsi seperti biasanya. Lebih bagus lagi bila mendapatkan rumah di lantai dasar.

  • Jika memungkinkan, berangkat lebih dulu untuk adaptasi & membereskan segala urusan.

Temukan support system. Dari PPI masing-masing kota sudah cukup membantu. Lebih enak lagi bila bisa menemukan sesama pelajar yang membawa keluarga, akan sangat terasa hangat dan akrab karena kalian akan saling membutuhkan bantuan!

  • Sebelum mendaftar ke universitas juga sebaiknya carilah mahasiswa Indonesia yang sedang atau sudah menyelesaikan studi di Belanda. Tanya sejelas-jelasnya soal jadwal kuliah, program, dll. Ini penting untuk membuat perkiraan kemungkinan menitipkan anak dimana, sekolah yang pas, dll.

  • Sampaikan kondisimu ke dosen, bisa dengan bertemu langsung atau melalui email. Di Belanda, semua kesulitan kita akan dibantu oleh mereka, jangan khawatir.

  • Me time. Lakukanlah hobi atau refreshing agar tidak stres. Traveling, nonton, atau makan, yang penting sempatkan waktu untuk dirimu sendiri meski sulit.

 

 

Melanjutkan studi bersama anak di luar negeri itu adalah hal yang mungkin. Semoga kisah ini bisa memberi inspirasi dan memberi manfaat untuk Ibu-ibu nekat lainnya. 

 

BACA JUGA:

SIAPA BILANG KULIAH DI LUAR NEGERI SAMBIL MEMBESARKAN BALITA ITU TIDAK MUNGKIN

INFORMASI LENGKAP SEBELUM KULIAH DI JEPANG

KULIAH DI JEPANG DALAM BAHASA INGGRIS

PENDAFTARAN KULIAH DI JEPANG

 

Source:

Artikel asli di publikasikan oleh www.indonesiamengglobal.com,

'a non-profit website for Indonesians aspiring to study and or pursue professional opportunities abroad'.

 

Mencari jurusan

Pilih negara
JenjangPendidikan*
TENTANG PENULIS

author image