Informasi penting
Italia: Keuangan

MERAIH ILMU DI MANTOVA DENGAN BEASISWA INVEST YOUR TALENT IN ITALY

share image

Saat mempertimbangkan Italia sebagai negara tujuan studi, kebanyakan orang masih terpaku pada jurusan fashion. Padahal negara ini menyediakan berbagai beasiswa untuk beragam jurusan. Salah satu beasiswa ini adalah 'Invest Your Talent in Italy' yang terbuka untuk kuliah pascasarjana di Italia. Kontributor Indonesia Mengglobal, Dimitria Intan Prasraya Duhita (Aya), akan membagikan kisahnya tentang bagaimana beasiswa ini membawanya belajar di Politecnico di Milano dan jatuh cinta pada kota Mantova.

 


Mengejar Beasiswa

 

Pada titik tertentu, penolakan beasiswa sepertinya membawa berkah tersendiri. Penolakan pertama jelas adalah pengalaman yang terburuk. Lalu yang kedua akan membuatmu bertanya-tanya "Di mana letak kesalahan saya?". Tapi ketika mencapai penolakan yang kelima atau keenam, kamu akhirnya sudah mengetahui polanya. Dari sini, kamu bisa mengatur ritme pencarian beasiswamu agar kamu bisa bersiap dan mulai mengejar impian kuliah ke luar negeri lagi.

 

Saya rasa inilah yang saya alami beberapa tahun yang lalu. Setelah gagal menjadi awardee LPDP, kabar penerimaan yang saya dapatkan dari Politecnico di Milano (Polimi) terasa hampa. Masalahnya, ini bukanlah penawaran yang bisa saya tunda atau bisa saya terima tanpa dana kuliah. Namun satu notifikasi muncul saat saya membuka inbox email dan tiba-tiba semua hal mustahil di dunia ini sepertinya bisa terjadi.

 

Tepat setelah menerima surat penerimaan, Polimi memberi tahu saya tentang beasiswa yang disebut 'Invest Your Talent in Italy' (IYT). Beasiswa ini dikhususkan untuk kuliah pascasarjana di bidang teknik, advanced technology, arsitektur, desain, ekonomi dan manajemen. Penerima beasiswa ini juga berkesempatan untuk mengikuti program magang di perusahaan Italia. Awalnya saya tidak melamar beasiswa ini, karena saya sangat berharap pada LPDP. Namun setelah mendapat kabar penolakan dari LPDP, saya menerima notifikasi bahwa pihak IYT memperpanjang tenggat waktu pendaftaran. Berita ini membuat saya merasa sangat cemas. Saya merasa mungkin inilah kesempatan saya untuk meraih beasiswa dan kesempatan belajar di luar negeri.

 

Saya segera mendaftar IYT dan baru memeriksa kembali persyaratan yang diminta setelahnya. Ternyata saya juga perlu membuat video 1 menit yang menjelaskan tentang diri saya sebagai bagian syarat pendaftaran. Untungnya, semua dokumen yang dibutuhkan untuk beasiswa ini hampir 90% mirip dengan berkas-berkas yang diminta Polimi sebelumnya, jadi saya punya waktu lebih untuk mengumpulkan ide video. Angkatan 2016 adalah angkatan pertama yang menerima beasiswa ini, jadi saya benar-benar tidak punya siapa-siapa untuk tempat bertanya. Strategi saya pada saat itu adalah mengurus semua dokumen yang diperlukan dan pembuatan video menjadi prioritas terakhir.

 

 

 

Saya ingin membagikan beberapa tips mengenai beasiswa ini. Pertama-tama, kamu tidak perlu menggunakan alat-alat canggih untuk membuat video - saya membuat video saya hanya dengan ponsel dalam waktu dua hari saja. Hal yang paling penting sebenarnya adalah caramu menunjukkan kepribadian, motivasi, rencana masa depan setelah belajar dan kejujuran. Kedua, bertanya kepada penerima beasiswa sebelumnya tentang video ini sebenarnya sah-sah saja, tapi ada kemungkinan justru bisa menghalangi kreativitasmu. Ketiga, kalau kamu mendapatkan beasiswa ini, jalanilah program magang dengan sebaik mungkin. Bisa jadi atasanmu saat magang akan memintamu untuk kembali bekerja di sana setelah kelulusan - sama seperti yang saya alami!

 


Mantova: Permata Lombardia

 

Ketika memilih tempat untuk meraih gelar magister, saya tidak terlalu memikirkan kota tujuan karena fokus saya adalah pada jurusan kuliah. Pada waktu itu, saya ingin belajar arsitektur dan desain di Italia, terutama di Polimi karena reputasinya yang baik. Setelah saya mendapatkan beasiswa, barulah saya melakukan penelitian mengenai kota yang akan saya tinggali selama kuliah. Saya tidak punya pengetahuan apa-apa tentang Mantova selain kota ini adalah tempat Romeo diasingkan dalam drama tragedi romantis karangan Shakespeare. Internet pun tidak menyediakan banyak informasi, karena pembahasan Italia biasanya hanya berkisar di Roma, Milan, Venesia, Firenze dan Tuscany.

 

Pengalaman saya saat menjalani hari pertama di Mantova sulit digambarkan dengan kata-kata. Saya telah terbiasa dengan hiruk-pikuk ibukota dan bisa dikatakan kemacetan, polusi suara dan gaya hidup yang serba cepat adalah makanan sehari-hari saya. Mantova yang santai dan penuh ketenangan adalah kebalikan dari itu semua. Beberapa orang mungkin akan heran dan sedikit kecewa menghadapi situasi ini, tapi bagi saya hidup di Mantova seperti sebuah perjalanan penyembuhan spiritual.

 

 

Salah satu penjual di pasar mingguan Mantova (Foto: Dok. pribadi Aya)

 

 

Lupakan saja Milan dengan getaran metropolitannya dan Roma dengan tempat-tempat wisatanya - Mantova adalah kombinasi sempurna antara budaya dan sejarah. Kota ini adalah lokasi dari hasil-hasil kerja arsitektur terbaik seperti Basilica di Sant'Andrea dan Palazzo Ducale Mantova, jadi sempurna untuk studi saya: Master in Architecture Design and History.

 

Tinggal di Mantova selama lebih dari dua tahun mengajarkan saya untuk tidak menilai buku dari sampulnya. Memang kota ini tidak memiliki semua fasilitas kenyamanan hidup yang ada di Jakarta atau kota-kota besar Italia lainnya, tapi Mantova layak mendapatkan apresiasi berkat taman-taman tersembunyi yang asri, toko kopi otentik dan danau besar yang tetap indah sepanjang tahun.

 

 

Salah satu sudut kota Mantova (Foto: Dok. pribadi Aya)

 

 

Mantova adalah kota kecil yang bisa kamu eksplorasi dengan tuntas dalam satu hari. Karena itu, sangat sulit menemukan warga lokal yang bisa berbicara bahasa Inggris. Daripada melihat ini sebagai hambatan, saya menganggap ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan kemampuan saya berbicara bahasa Italia. Selain saya, ada juga banyak mahasiswa internasional lain di sana yang berjuang menempuh pendidikan. Saat saya di sana, kami saling membantu, belajar bersama, berbagi budaya dan menghabiskan waktu bersama. Kebersamaan ini benar-benar membuat saya seperti memiliki rumah kedua di sana.

 

 

 

Tips terakhir dari saya adalah: Jangan hanya berfokus pada tempat-tempat yang 'wah' saat mencari beasiswa pascasarjana. Dengan begitu, kamu bisa membuka diri untuk menjalani petualangan-petualangan yang penuh hal-hal baru. Saya adalah bukti nyata dari hal ini. Berawal dari keinginan sederhana untuk mendapatkan beasiswa dan kesempatan belajar, kini saya telah mendapatkan pengalaman kerja di Italia, persahabatan yang tak ternilai dan momen untuk mengembangkan diri. 

 

Tertarik kuliah di Italia dengan beasiswa IYT seperti saya? Kamu bisa klik di sini untuk informasi lengkapnya. Perlu diingat bahwa sejak saya mendapatkan beasiswa IYT beberapa tahun lalu, telah ada banyak penyesuaian pada persyaratan beasiswa ini. Dalam pengalaman saya, salah satu dokumen yang diwajibkan untuk mengajukan beasiswa adalah LoA. Namun sewaktu EHEF 2018 berlangsung, perwakilan dari Polimi mengatakan permohonan kini bisa diajukan dengan menyertakan bukti bahwa kamu sedang menunggu hasil penerimaan dari universitas Italia pilihanmu. Kalau kamu berpikir untuk kuliah dengan biaya sendiri, menurut saya Italia tidak semahal negara-negara lain, lho!

 

Sudah menemukan inspirasi untuk kuliah di luar negeri setelah membaca artikel di atas? Langsung saja daftar untuk konsultasi GRATIS dengan konselor IDP Education yang siap membantumu mendaftar dan kuliah di berbagai universitas terbaik di mancanegara.

 

 

Sumber:

Artikel asli dipublikasikan oleh IndonesiaMengglobal.com

'A non-profit website for Indonesians aspiring to study and or pursue professional opportunities abroad'.

Mencari jurusan

Italia
Pascasarjana