Di tengah hangatnya isu dan aspirasi generasi muda dalam politik Indonesia, muncul tiga Srikandi muda yang lantang menyuarakan pendapat mereka: Abigail Limuria, Gustika Jusuf-Hatta, dan Salsa Erwina.
Dengan latar belakang yang berbeda—ada yang menempuh studi di luar negeri, ada yang aktif di jalanan, ada pula yang membangun karier global tanpa gelar internasional—ketiganya punya satu benang merah: keberanian untuk melawan arus dan berbicara apa adanya. Lewat karya, pendidikan, maupun kiprah profesional, mereka membuktikan bahwa suara perempuan muda Indonesia bisa bergema hingga panggung global.
Seperti apa profil ketiga wanita muda pemberani ini? Yuk simak selengkapnya di artikel ini!
Isi Artikel
Profil Abigail Limuria
sumber foto: instagram @abigailimuria
-
Pendidikan Abigail Limuria
Abigail Limuria menempuh pendidikan sarjana di Biola University, California, jurusan International and Intercultural Communication. Selama kuliah, ia aktif di organisasi mahasiswa internasional dan menjadi produser film kampus. Dari sinilah ia belajar seni bercerita lintas budaya—sebuah keterampilan yang kelak menjadi inti dari platform media yang ia bangun.
-
Karier
Pada 2017, Abigail mendirikan Lalita Project Indonesia, sebuah inisiatif yang meluncurkan buku Lalita: 51 Cerita Perempuan Hebat Indonesia. Buku ini menghadirkan kisah tokoh perempuan mulai dari menteri, atlet, hingga pengusaha, dengan pendekatan narasi yang ringan. Lebih dari sekadar proyek penerbitan, Lalita menjadi gerakan sosial yang menyumbangkan ribuan eksemplar ke sekolah dan perpustakaan.
Tahun 2020, Abigail melahirkan proyek yang lebih besar: What Is Up, Indonesia? (WIUI). Media independen ini menyajikan isu sosial-politik Indonesia dalam bahasa yang ramah untuk audiens muda, khususnya generasi yang tumbuh dengan Instagram dan TikTok. Dalam lima bulan pertama, WIUI meraih lebih dari 50.000 pengikut organik.
Salah satu inisiatif terobosannya adalah Bijak Memilih, sebuah platform digital yang memberi panduan kepada pemilih muda menjelang Pemilu 2024. Bersama Think Policy, Abigail merancang fitur interaktif yang membantu anak muda memahami kandidat, partai, dan isu-isu penting tanpa jargon politik yang membingungkan.
-
Prestasi dan Penghargaan
-
MIT Solve Global Challenge Winner untuk platform Bijak Memilih.
-
Buku Makanya, Mikir! terjual 18.000+ eksemplar hanya dalam 2 bulan.
-
WIUI diakui sebagai salah satu media alternatif yang paling berpengaruh di kalangan pemuda urban.
-
Tertarik kuliah di Amerika seperti Abigail? Ini dia daftar universitas di Amerika yang tidak boleh kamu lewatkan:
Profil Gustika Jusuf-Hatta
sumber foto: instagram @gustikajusuf
-
Pendidikan
Gustika Jusuf-Hatta dikenal sebagai cucu dari Wakil Presiden pertama Indonesia, Mohammad Hatta. Namun, identitasnya sebagai intelektual dan aktivis berdiri tegak di atas prestasi akademik yang luar biasa. Berikut ini adalah daftar riwayat pendidikan dari Gustika:
- King’s College London – Sarjana War Studies, jurusan yang membedah strategi militer, konflik, dan hubungan internasional.
- Sciences Po Lyon – Belajar ilmu politik dengan perspektif Eropa.
- The Hague Academy of International Law – Sertifikat hukum internasional.
- Geneva Academy of International Humanitarian Law and Human Rights – Master tentang hukum humaniter dan HAM.
- Harvard Extension School – Mengambil kelas non-gelar di bidang ekonomi dan matematika.
- Atlas Corps Scholar – Salah satu dari 40 penerima beasiswa kepemimpinan publik sektor Indonesia.
Higlight tentang King’s College London
-
Didirikan: hampir 200 tahun lalu
-
Ranking: Top 40 global (QS 2025, THE 2025)
-
Alumni: 194.000+ di seluruh dunia
-
Lokasi: pusat kota London
-
Keunggulan: fasilitas riset mutakhir, reputasi global employability (#6 di UK versi THE 2025)
Mau kuliah ke King’s College London seperti Gustika? Yuk apply langsung ke King's College University dengan cara klik banner di bawah ini:
-
Karier dan Aktivisme
Tidak hanya fokus mengenyam pendidikan, Gustika juga aktif menulis opini di berbagai media nasional dan internasional, menyuarakan isu demokrasi, HAM, hingga feminisme. Tak jarang, tulisannya menjadi rujukan dalam diskusi publik.
Selain melalui tulisan, Gustika juga aktif turun ke jalanan untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Ia kerap turun ke demonstrasi, menyuarakan protes terhadap kebijakan yang dianggap mengancam demokrasi dan hak asasi.
Salah satu bentuk kritik cerdas Gustika muncul lewat cara yang sederhana namun sarat makna: pilihan busana. Dalam peringatan 80 tahun Indonesia, ia mengenakan batik Slobog—motif yang secara tradisional dipakai dalam upacara kematian atau berkabung. Dengan tenang, ia menyulap simbol duka itu menjadi pesan reflektif: delapan dekade kemerdekaan adalah capaian besar, tetapi juga penuh pengorbanan, kehilangan, dan tantangan yang belum selesai. Kritiknya halus, tidak dengan teriakan, melainkan lewat simbol budaya yang membuat orang berpikir dua kali.
-
Prestasi dan Penghargaan
-
Atlas Corps Scholar & Harvard Extension Participant yang memperluas jejaring internasional.
-
Penulis opini yang konsisten mengangkat isu demokrasi dan HAM.
-
Sosok yang dikenal menggabungkan teori akademis dengan aktivisme nyata.
-
Profil Salsa Erwina
sumber foto: instagram @salsaer
-
Pendidikan
Berbeda dengan Abigail dan Gustika, Salsa Erwina membuktikan bahwa karier global bisa dibangun tanpa kuliah di luar negeri. Ia adalah lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), jurusan Hubungan Internasional.
Prestasinya sudah terlihat sejak bangku kuliah, yakni menjadi Mahasiswa Berprestasi UGM 2014, Top 10 Mahasiswa Berprestasi Nasional 2014 versi Kementerian Pendidikan. Selain itu ia juga berhasil menjuarai berbagai kompetisi debat, termasuk di Nanyang Technological University, Singapura.
-
Karier
Setelah lulus, Salsa memulai kariernya di Indonesia sebagai Sustainability Coordinator di Danone, menjalankan program gizi anak “Warung Anak Sehat” yang berhasil berkembang dari 30 kios menjadi 300 kios di berbagai kota. Program ini bahkan memenangkan penghargaan internasional di Paris.
Kariernya kemudian membentang ke Malaysia, Dubai, hingga Denmark. Di industri e-commerce, ia pernah menjadi Head of Business Development di iPrice Group, memimpin tim lintas Asia Tenggara dan bermitra dengan raksasa seperti Shopee, Lazada, dan Booking.com.
Tahun 2021, Salsa bergabung dengan RevoU, sebuah edtech Indonesia, sebagai Vice President of Business Development. Ia membantu memperluas kemitraan, merancang strategi pasar, dan melatih tim hingga berhasil melipatgandakan pertumbuhan bisnis.
Kini, Salsa berkarier di Vestas, Denmark, perusahaan energi terbarukan terbesar dunia. Di tim Strategy & Portfolio Management, ia berperan penting dalam transformasi digital dengan pendekatan OKR (Objectives and Key Results). Salsa juga mewakili Vestas dalam konferensi energi angin besar di Eropa, menunjukkan bahwa profesional Indonesia bisa bersaing di panggung global.
Prestasi dan Penghargaan
-
Mahasiswa Berprestasi UGM & Nasional 2014.
-
Vestas Talent Program Nominee 2023 untuk kawasan Eropa Utara.
-
Mengembangkan program karier dan pembelajaran di RevoU dengan tingkat penempatan kerja 100%.
-
Podcast Jadi Dewasa 101 dengan 50.000+ pendengar, membahas isu self-development dan karier.
-
Penulis buku tentang pengembangan diri yang menjadi referensi anak muda pekerja.
Salsa adalah salah satu contoh tokoh diaspora Indonesia yang tetap bisa membela negara dimanapun ia berada. Pada dasarnya, arti dari diaspora Indonesia adalah komunitas warga negara atau keturunan Indonesia yang tinggal dan berkarier di luar negeri, namun tetap menjaga ikatan budaya, identitas, dan kontribusi bagi tanah air.
Mau kuliah jurusan Hubungan Internasional seperti Salsa? Cek daftar universitas unggulan di jurusan tersebut di sini:
Penutup
Ketiganya—Abigail, Gustika, dan Salsa—membuktikan bahwa perjalanan internasional, baik lewat pendidikan maupun karier, bisa membentuk cara pandang yang lebih kritis, berani, dan relevan bagi Indonesia. Ada yang berangkat kuliah ke Amerika dan Eropa, ada yang menempuh program khusus di lembaga hukum internasional, ada pula yang membangun karier global berbekal pendidikan dalam negeri. Hasilnya sama: wawasan yang lebih luas dan keberanian untuk bersuara lantang.
Kisah Abigail, Gustika, dan Salsa membuktikan bahwa pengalaman internasional—baik lewat kuliah maupun karier—mampu membentuk perspektif kritis dan global.
Kalau kamu juga bermimpi menempuh perjalanan seperti mereka, kamu bisa mulai langkahmu dengan konsultasi atau apply langsung ke kampus tujuan dengan bantuan IDP Hotcourses Indonesia.
Tentang Penulis
Artikel ini ditulis oleh Tim Editorial IDP Hotcourses Indonesia, yang berpengalaman lebih dari 10 tahun dalam menyediakan informasi pendidikan global dan panduan kuliah ke luar negeri untuk mahasiswa Indonesia.