Informasi penting
Singapura: Kehidupan Pelajar

KEGAGALAN TAK PADAMKAN CITA-CITA JUDAN BERKULIAH DI NTU

Kegagalan Tak Padamkan Cita-Cita Judan Berkuliah Di NTU

Perjalanan mengejar impian kuliah ke luar negeri memang tidak selalu mulus. Sayangnya, masih banyak yang enggan untuk mencoba lagi setelah gagal meraih beasiswa atau mendapatkan penolakan dari universitas luar negeri. Kali ini kontributor Indonesia Mengglobal, Julius Daniel Sarwono (Judan), akan berbagi cerita tentang bagaimana konsep 'purpose' berhasil membawanya masuk Nanyang Technological University (NTU) walaupun ia sebelumnya pernah tidak lolos seleksi beasiswa.


Halo, pembaca Hotcourses Indonesia. Saya Julius Daniel, tapi kebanyakan teman saya memanggil saya Judan. Saya besar di Purwokerto dan kemudian melanjutkan pendidikan SMA di Magelang. Kuliah di luar negeri memang sudah menjadi impian saya sejak kecil.  Dulu saya selalu bertanya-tanya: “Apakah kesempatan kuliah di luar negeri hanya bisa dimiliki mereka yang berasal dari SMA unggulan atau yang dekat dengan ibukota?”. Namun ternyata daya dan upaya saya berhasil membawa saya ke mancanegara. Pada tahun 2019, saya membuat keputusan untuk meninggalkan kampus tercinta, Institut Teknologi Bandung (ITB), demi mengambil program Bachelor of Business with a minor in Strategic Communication di NTU, Singapura. Berikut adalah sedikit kilas baik tentang kisah saya diterima di universitas ini.

 

Mencari Peluang Studi Di Luar Negeri Sambil Kuliah


Pada tahun 2018, saya berhasil masuk ITB melalui jalur SNMPTN, tepatnya di Fakultas Teknologi Industri. Saat semester 1, saya mendapatkan 2 beasiswa penuh: Sea Ltd. (Shopee, Garena, and Airpay) Undergraduate Scholarship dan TELADAN Tanoto Foundation Leadership & Scholarship. Saya juga menjalin banyak relasi dan aktif berorganisasi di tahun pertama perkuliahan. Namun semua itu tidak menghentikan impian saya untuk kuliah di luar negeri. Sekitar bulan Oktober 2018, saya mencoba mendaftar beasiswa Monbukagakusho (MEXT) dari pemerintah Jepang. Sayangnya, saya tidak lolos seleksi.

 

Judan di kampus ITB

(Foto: Dok. pribadi Judan)

 

Temukan kisah inspiratif tentang studi dan berkarir di luar negeri!

 

Saya kemudian memutuskan untuk tetap mengejar mimpi saya dengan mendaftar ke NTU - meskipun saya sadar bahwa kemungkinan saya diundang mengikuti UEE (University Entrance Examination / Ujian Masuk Universitas) cukup kecil. Untuk proses pendaftaran ini, saya menyerahkan nilai rapor SMA dan nilai UN. NTU sebenarnya juga menerima nilai perkuliahan tahun pertama, namun tranksrip semester 1 saya belum dirilis saat pendaftaran dibuka. Karena jurusan pilihan saya tidak termasuk bidang studi teknik, maka tes yang perlu saya ikuti hanyalah Matematika, Bahasa Inggris, dan admission interview (sesi wawancara seleksi penerimaan mahasiswa baru).

 

Karena padatnya perkuliahan di ITB, saya tidak sempat mengambil kursus persiapan UEE. Selain itu, kebanyakan kursus tersebut berlokasi di Jakarta atau Surabaya. Untuk menyiasatinya, saya melakukan hal-hal berikut:

  1. Saya mempersiapkan diri untuk tes Matematika dengan meminjam buku A Level Cambridge dari teman fakultas saya yang lulusan sekolah internasional. Saya juga banyak bertanya dan menjalani sesi mentoring dengan mahasiswa tahun ke-4 dari jurusan Matematika. Lalu saya berkenalan dengan mahasiswa Indonesia yang tengah berkuliah di NTU via Indonesia Mengglobal (IM) dan PINTU (Pelajar Indonesia NTU) untuk menanyakan referensi belajar/textbook A Level H2 Singapura. TPB (Tahap Persiapan Bersama) ITB juga cukup membantu karena membahas materi kalkulus yang akan diuji secara mendalam. 

  2. Untuk tes Bahasa Inggris, saya membiasakan diri untuk menulis 5-6 esai 400 kata per harinya karena komponen esai memiliki bobot nilai terbesar. Saya juga mempelajari materi TOEFL dan IELTS untuk mengasah kefasihan bahasa Inggris saya.


Semua persiapan ini saya lakukan sejak November 2018 dan mulai intensif di bulan Januari 2019 setelah mendapat undangan mengikuti UEE di Bumi Serpong Damai. Sebenarnya saya sempat berpikir mengambil kursus persiapan di Jakarta saat libur semester, namun almarhum kakek saya saat itu divonis kanker dan saya harus menemani beliau berobat ke Guangzhou, China.

 

Sejujurnya saya tidak berharap banyak pada NTU. Jika saya gagal lagi, saya sangat siap meneruskan pendidikan saya di ITB. Prinsip yang selalu saya pegang berasal dari novel karangan Merry Riana: lebih baik saya gagal dalam perjuangan meraih cita-cita daripada saya gagal tanpa pernah tahu rasanya berjuang. Saya tidak mau 4 atau 5 tahun lagi menyesal tidak mencoba mendaftar ke NTU. Dengan mengikuti UEE NTU, rasa penasaran saya akan terbayarkan.

 

Awal Maret 2019, saya mendapat email dari NBS (Nanyang Business School - Sekolah Bisnis di NTU) untuk melakukan sesi wawancara dengan salah satu profesor mereka melalui video call Skype. Saya tidak mengalami banyak masalah terkait wawancara ini karena sudah terbiasa mengikuti berbagai macam wawancara beasiswa dan organisasi. Seminggu kemudian, saya mendapat email yang menyatakan bahwa saya diterima di pilihan pertama saya, Business with a minor in Strategic Communication. Walaupun saya terhitung jarang menangis, saat itu saya langsung menitikkan air mata bahagia bercampur sedih. Saya bahagia karena saya merasa tidak layak mendapatkan kesempatan ini. Saya sedih karena ini berarti saya harus berpisah dengan semua yang telah saya bangun selama 7 bulan di ITB dan Bandung.

 

Walaupun begitu, saya tidak langsung mengambil tawaran tersebut. Saya menghubungi orang tua saya, pihak ITB, dan pihak pemberi beasiswa kuliah saya di ITB untuk meminta pertimbangan. Mereka mendukung saya untuk mengambil kesempatan emas ini - terutama karena saya masuk dalam kategori mahasiswa internasional yang berhak mendapatkan bantuan pendanaan di NTU.

 

(Baca juga: MENDANAI BIAYA KULIAH KE LUAR NEGERI)

 

Unduh brosur universitas favoritmu di Asia


Konsep HIGHLIGHT & LOWLIGHT

 

Dalam menjalani pengalaman ini, ada beberapa value/nilai yang saya pegang teguh. Salah satunya adalah konsep highlight dan lowlight. Saya percaya bahwa setiap manusia mengalami dua fase ini. Namun biasanya yang mereka ekspos di kehidupan sosial cenderung sisi highlight saja, yaitu keberhasilan, pencapaian, kesuksesan, dan kebanggaan yang mereka raih selama ini.

 

Sisi highlight: keberhasilan, pencapaian, kesuksesan, dan kebanggaan seseorang

 

Sementara lowlight adalah sisi kehidupan yang berisi kegagalan, tangis, dilema dan rasa frustasi yang kita alami selama ini. Contoh fase lowlight yang saya lewati adalah kegagalan meraih beasiswa MEXT.

 

Fase lowlight: sisi kehidupan yang berisi kegagalan, tangis, dilema dan rasa frustasi

 

Awalnya memang berat untuk menerima kegagalan, apalagi kalau kegagalan itu terjadi terus-menerus. Walaupun begitu, kita justru akan belajar banyak ketika mengalami fase lowlight dan akan memberi dampak baik ke lingkungan kita saat mengalami fase hightlight. Karena itu, saya percaya kedua fase ini perlu kita lalui.

 

Bertujuan vs Berambisi

 

Sebelum kalian mengambil sebuah keputusan, khususnya dalam konteks mendaftar kuliah ke universitas luar negeri, pastikan kalian sudah memiliki tujuan. Sejak kecil, saya bercita-cita untuk bisa studi di luar negeri dan saya terus berpegang teguh pada cita-cita ini sampai sekarang. Bisa dikatakan saya punya sesuatu yang kita sebut ‘purpose’ atau tujuan.

 

Everyone knows what they are doing - some know how they do it, but very, very few know why they do what they are doing (Semua orang tahu apa yang sedang mereka kerjakan - sebagian  orang mengerti cara melakukan pekerjaan ini, namun hanya sedikit yang tahu alasan mengapa mereka melakukan pekerjaan tersebut). Orang-orang dalam kategori terakhir ini memiliki purpose atau tujuan: sebuah alasan yang membuat kita percaya bahwa kita harus melakukan sesuatu. Bagi saya, purpose memberikan saya suatu kekuatan yang tidak bisa saya dapatkan dari ambisi semata.

 

Akhir Kata


Banyak sekali hal yang harus dikorbankan ketika kita berusaha meraih impian terbesar kita. Saya sendiri harus dengan berat hati melepas semua yang telah saya bangun di ITB. Tapi bagi saya ini adalah tantangan dan langkah baru dalam hidup yang patut saya coba. Tentunya keputusan seperti ini kembali lagi ke target kalian masing-masing. Kalau kalian mempunyai impian seperti ini, kejarlah mimpi kalian tanpa keraguan apapun dan percayalah Tuhan akan mendukung kalian.

 

“Doubt kills more dreams than failure ever will.” – Suzy Kaseem

 

Sudah menemukan inspirasi untuk kuliah di luar negeri seperti Judan? Langsung saja daftar untuk konsultasi GRATIS dengan konselor IDP Education yang selalu siap membantumu di tiap langkah persiapan kuliah di mancanegara.

 

Daftar sekarang untuk konsultasi gratis!

Sumber:

Artikel asli dipublikasikan oleh IndonesiaMengglobal.com

'A non-profit website for Indonesians aspiring to study and or pursue professional opportunities abroad'.

 

*Ilustrasi Highlight dan Lowlight disediakan oleh Armansyah Adhityo, rekan kuliah Judan di ITB