Informasi penting
Amerika Serikat: Pendaftaran Universitas

KULIAH KE AMERIKA DENGAN BEASISWA FULBRIGHT

2213

Kuliah ke luar negeri tentunya menjadi impian banyak pelajar. Tetapi banyak juga pelajar yang masih ragu untuk memperjuangkan cita-cita ini. Baik itu karena halangan bahasa, kesulitan mencari informasi, halangan biaya dan lain sebagainya.

 

Mungkin banyak yang bertanya-tanya seperti apa sih kuliah di luar negeri itu? Apa yang bisa didapatkan? Apa bedanya dengan hanya kuliah di Indonesia? Apakah hasilnya akan setimpal dengan semua usaha dan pengorbanan saya? Jawabannya tentu berbeda-beda dengan kondisi masing-masing. Sebelum menjawab semua itu ada baiknya kita mencari informasi atau bertanya dengan senior-senior yang telah berpengalaman kuliah di luar negeri.

 

Berikut adalah pengalaman Bapak Medhy Aginta Hidayat, yang saat ini merupakan staf pengajar di Universitas Trunojoyo Madura. Semoga kisah dan masukan dari beliau bisa memberikan motivasi dan semangat bagi teman-teman yang bercita-cita untuk kuliah ke luar negeri…

 

1. Apa motivasi Bapak belajar ke negeri Paman Sam?


Belajar ke luar negeri adalah impian saya sejak kecil. Ketika itu motivasi terbesar adalah sekedar ingin melihat budaya bangsa lain. Dan karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk belajar ke luar negeri dengan biaya sendiri, mencari beasiswa menjadi pilihan saya. Maka sejak lulus SMA saya mulai merencanakan untuk bisa kuliah ke luar negeri dengan mencari beasiswa.

 

Belajar ke Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright sendiri bagi saya adalah dream comes true, mimpi yang menjadi nyata. Kenapa? Pertama, untuk bidang sosiologi, harus diakui bahwa kampus-kampus di Amerika Serikat saat ini adalah yang terbaik. Teori-teori sosiologi kontemporer banyak dilahirkan para sosiolog Amerika. Belajar ke Amerika Serikat, tentu menjadi kesempatan buat saya untuk belajar dari yang terbaik. 

 

Kedua, beasiswa Fulbright sendiri adalah salah satu skema beasiswa terbaik di dunia. Fulbright juga telah melahirkan banyak alumni di seluruh dunia, termasuk sejumlah penerima penghargaan Nobel. Mendapatkan beasiswa Fulbright bagi saya kemudian adalah sebuah pintu awal untuk masuk ke dalam jaringan ilmuwan internasional.

 

Baca juga: Beasiswa Fulbright

 

 

2. Bagaimana tips agar bisa lolos dalam seleksi beasiswa Fulbright?


Hemat saya, meraih beasiswa apapun sebenarnya bukanlah hal yang sulit jika kita telah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan sedini mungkin. Kesalahan terbesar teman-teman mahasiswa ketika ingin melanjutkan studi S-2 dengan beasiswa biasanya adalah baru memutuskan, atau malah baru tertarik, untuk mencari beasiswa ketika menjelang lulus kuliah S-1. Ini sudah terlambat.

 

Hemat saya, jika memang kita benar-benar ingin melanjutkan studi dengan beasiswa, rencana untuk mendapatkan beasiswa harus disiapkan bahkan semenjak kita baru masuk kuliah S-1. Sejak awal sebaiknya kita mulai mencari tahu dan menyiapkan persyaratan yang diminta oleh pihak pemberi beasiswa. Misalnya, nilai TOEFL minimal. Jika kita sejak dini telah membuat study plan, sejak awal kuliah kita bisa mulai sedikit demi sedikit belajar untuk mendapatkan nilai TOEFL yang dipersyaratkan.

 

Hal lain misalnya pengalaman berorganisasi, yang biasanya menjadi poin cukup besar untuk bisa lolos mendapatkan beasiswa. Jika kita sudah memiliki rencana sejak dini, maka selama kuliah kita bisa mulai aktif dalam kegiatan organisasi kampus. Dan ini tidak bisa kita lakukan ketika misalnya kita sudah hampir lulus kuliah S-1.

 

Hal-hal lain yang lebih bersifat teknis, misalnya cara membuat proposal penelitian atau personal statement, menurut saya bisa dipelajari dengan membaca buku-buku tentang beasiswa. Sekarang ada banyak buku di pasaran yang membahas soal-soal teknis seperti ini. Namun yang jauh lebih penting, menurut saya, adalah niat, kesiapan dan ketetapan hati kita untuk sedini mungkin merencanakan apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan beasiswa studi lanjut.

 

 

3. Bagaimana pengalaman kuliah di Amerika Serikat?


Belajar di Amerika Serikat tentu menjadi pengalaman berkesan dan berharga bagi saya. Ada beberapa hal yang bisa saya catat: 

 

Pertama, harus diakui bahwa sistem pembelajaran dan fasilitas belajar di Amerika Serikat relatif lebih baik ketimbang di Indonesia. Tentu kondisi ini sangat mendukung pengembangan ilmu yang saya pelajari. 

 

Kedua, belajar di Amerika Serikat menjadi kesempatan untuk membangun jembatan pemahaman antar bangsa dan budaya. Saya bisa lebih memahami budaya Amerika, dan sebaliknya teman-teman saya disini bisa lebih mengenal dan belajar tentang budaya Indonesia. 

 

Ketiga, dalam kaitannya dengan beasiswa Fulbright, sembari belajar, kita juga sekaligus menjadi duta bangsa Indonesia dalam jaringan para penerima beasiswa Fulbright yang tersebar di seluruh dunia. Networking ini sangat berguna sebagai modal membangun kerjasama antar bangsa dan antar universitas, misalnya dalam hal penelitian bersama.

 

 

4. Bagaimana sistem pembelajaran di Amerika Serikat?


Sistem pembelajaran di Amerika Serikat, setidaknya seperti yang saya alami, sangat menekankan kemandirian dan inisiatif mahasiswa. Mahasiswa tidak bisa hanya menunggu “instruksi” dosen. Sistem pembelajaran disini juga menuntut mahasiswa untuk “gila” membaca. Membaca menjadi kebutuhan setiap mahasiswa. Untuk bidang-bidang ilmu sosial, seperti bidang sosiologi yang saya ambil, membaca bahkan menjadi menu wajib, karena hampir 80% porsi studi kita adalah membaca. Dalam seminggu kita kadang harus menyelesaikan 3-5 buku. Cukup berat.

 

Hal lain yang menonjol dalam sistem pembelajaran di Amerika Serikat adalah proses belajar yang benar-benar terfokus pada mahasiswa. Dosen benar-benar hanya fasilitator. Metode belajar dengan diskusi, seminar, membuat proyek mandiri (baik individu maupun kelompok) menjadi titik tekan.

 

Di Indonesia, setidaknya secara teoritis, sistem pembelajaran kita sebenarnya sudah mengarah pada pola belajar student-centered learning seperti ini. Cuma dalam prakteknya memang masih belum maksimal.

 

Satu hal yang saya kira sangat kurang dalam sistem pembelajaran kita di Indonesia adalah kecakapan membaca. Kita sangat tidak terbiasa membaca buku. Begitu harus membaca banyak buku, keteteran. Kurikulum pendidikan kita, sejak tingkat dasar, saya kira sangat kurang menekankan pentingnya membaca. Yang lebih ditekankan adalah menghafal. Berbeda dengan di Amerika Serikat. Disini sejak SD anak dipupuk untuk gemar membaca, tidak peduli buku yang dibaca adalah komik. Setiap hari di sekolah dasar ada sesi membaca dan mendongeng. Yang penting anak-anak suka membaca dulu. Ini yang berbeda dengan di Indonesia.

 

 

5. Apa pengalaman paling berharga di negeri Paman Sam?


Belajar di suatu negara dengan budaya masyarakat dan budaya belajar yang berbeda, seperti di Amerika Serikat, saya kira sudah merupakan sebuah pengalaman yang berharga. Sama seperti ketika saya mendapat kesempatan belajar di Jepang. Bagi saya belajar budaya lain selalu menarik. Ini bukan soal lebih baik atau lebih buruk. Dalam beberapa hal, setiap negara, setiap budaya, memiliki kekurangan dan kelebihan. Menurut saya yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi setiap pengalaman tersebut dengan kesadaran positif, mengambil yang terbaik, membuang yang buruk, dan mengembalikan apa yang sudah saya pelajari kepada masyarakat di Indonesia sesuai peran dan tugas saya sebagai dosen.

 

Tanpa bermaksud mengagung-agungkan Amerika, selama belajar disini saya banyak belajar tentang nilai-nilai positif budaya Amerika seperti kedisiplinan, kemandirian, demokrasi, inisiatif, keterbukaan, kesetaraan, toleransi, dan determinasi. Hal lain yang saya kira juga sangat berharga adalah mengalami sendiri bagaimana proses belajar mengajar di kampus di Amerika Serikat. Melihat dan mengalami sendiri bagaimana atmosfer dunia kampus di Amerika, melihat bagaimana aktivitas keseharian para mahasiswa di luar maupun di dalam kelas, etos belajar mahasiswa yang tinggi, fasilitas belajar yang sangat mendukung iklim belajar yang baik dan nyaman: semua itu menjadi inspirasi positif bagi saya.

 

 

6. Motivasi apa yang ingin Bapak sampaikan kepada mahasiswa yang bercita-cita untuk kuliah ke luar negeri?


Saya selalu mengatakan kepada mahasiswa-mahasiswa di kelas saya: “Do your best!” Lakukan yang terbaik. Lakukan yang terbaik sesuai kemampuan kita sendiri. Jadi tidak perlu menjadi yang terbaik. Tidak perlu juga berusaha mengalahkan orang lain. Namun berusahalah untuk selalu melakukan yang terbaik. Juga “Do your best in everything you do.” Lakukan yang terbaik dalam hal apapun dan dimanapun. Sebagai mahasiswa, lakukanlah peran sebagai mahasiswa dengan sebaik-baiknya. Belajar dengan sungguh-sungguh, bekali diri dengan kemampuan akademik maupun non-akademik.

 

Terakhir, jangan pernah merasa rendah diri. Jangan merasa minder atau malu karena kondisi kita, karena kampus kita yang masih muda, karena berasal dari Madura, atau karena latar belakang keluarga kita yang kurang mampu.

 

Ingat, yang terpenting bukan siapa diri kita sekarang, tetapi siapa dan kemana kita akan menuju. Jangan takut bermimpi besar. Fokus saja pada impian kita, jangan fokus pada kondisi kita sekarang. Itu yang selama ini saya lakukan.

 

 

Sekilas tentang Bapak Medhy Aginta Hidayat

 

 

Pak Medhy adalah staf pengajar Program Studi Sosiologi, Universitas Trunojoyo Madura.  Skripsi S1 beliau diterbitkan menjadi buku oleh penerbit Jalasutra, Yogyakarta dengan judul Menggugat Modernisme: Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard (2012). Selama belajar di UGM, bersama beberapa teman, ia sempat mendirikan kelompok studi filsafat bernama Kelompok Bermain Kacamata, dan menerbitkan jurnal filsafat bernama “Berkala Kacamata.” Ia juga aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan sempat menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM 1997-1998. Selama menempuh studi S-1, ia juga sempat mengikuti program pertukaran mahasiswa selama setahun (1999-2000) di Nagoya Jepang, dalam program NUPACE (Nagoya University Program for Academic Exchange).

 

Baca profil lengkap di sini.

 

Jangan lupa kunjungi blog beliau di medhyhidayat.com untuk membaca lebih banyak kisah inspiratif kuliah ke luar negeri, terutama tentang Jepang dan Amerika.

 

Berencana untuk kuliah ke Amerika? Hotcourses Indonesia menyediakan e-book panduan lengkap kuliah ke Amerika yang bisa kamu download gratis di sini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber:

buletin kampus “Kabar UTM”, Universitas Trunojoyo Madura, Edisi Maret 2014.

 

Mencari jurusan

Amerika Serikat
JenjangPendidikan*
TENTANG PENULIS