Informasi penting
Inggris: Kehidupan Pelajar

INDRA RUDIANSYAH: MAHASISWA INDONESIA YANG MASUK TIM PENELITI VAKSIN COVID-19 DI OXFORD

Indra Rudiansyah: Mahasiswa Indonesia Yang Masuk Tim Peneliti Vaksin COVID-19 di Oxford

Sebagai tanggapan terhadap COVID-19, Indonesia kini mengizinkan penggunaan 3 jenis vaksin dari China: Sinovac, Sinopharm & Cansino. Selain vaksin-vaksin tersebut, program vaksinasi di negara kita juga menggunakan vaksin dari Astra Zeneca yang dikembangkan bekerjasama dengan University of Oxford. Menariknya, ternyata ada orang Indonesia di Oxford yang terlibat dalam proses R&D vaksin Astra Zeneca lho! Langsung saja simak hasil wawancara Marshiella Pandji dari Indonesia Mengglobal dengan Indra Rudiansyah, mahasiswa S3 di Oxford, yang menjadi salah satu peneliti di proyek riset vaksin COVID-19.

 

(Catatan: Wawancara dilangsungkan di kuartal ketiga 2020 saat vaksin Astra Zeneca masih dalam fase uji klinis)

 

Indra tidak pernah menyangka akan menjadi peneliti vaksin, apalagi untuk penyakit pandemi seperti COVID-19. Pada saat memilih jurusan S1 di tahun 2009, ia sebenarnya lebih tertarik menekuni dunia perminyakan. Namun ia tidak berhasil meraih kursi di jurusan yang diidamkannya dan akhirnya masuk ke pilihan keduanya: jurusan mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung (ITB).

 

Walaupun begitu, Indra sudah berminat dengan bidang ilmu hayati (life science) sejak SMA. “Ketika kuliah S1, saya berharap dapat mendalami studi mikrobiologi lingkungan serta hubungannya dengan energi atau remediasi lingkungan,” kata Indra. Harapannya terwujud; ia berhasil menyelesaikan tugas akhirnya tentang gas metana dalam lapisan batu bara (coal bed methane) yang memanfaatkan mikroba untuk mengonversikan batu bara lignit menjadi gas metana.

 

Indra konsisten berkarya di jalur serupa ketika melanjutkan program S2 fast track (satu tahun) jurusan Bioteknologi di ITB. Ia berfokus di bidang microbial enhanced oil recovery (MEOR) untuk meneliti peningkatan perolehan minyak dengan mikroba, yang merupakan proyek kerja sama antara tim MEOR ITB dengan Pertamina.

 

Ketertarikan Pada Dunia Vaksin

 

Meskipun ia berfokus di sektor energi semasa S2, pada saat itu Indra sebenarnya sudah mulai mengembangkan ketertarikan pada sektor terapan mikrobiologi dalam dunia medis, terutama terkait ilmu bioteknologi untuk pengembangan vaksin. Indra akhirnya mencoba merealisasikan keinginannya untuk berkecimpung di sektor tersebut saat mencari pekerjaan. Ia berhasil diterima di perusahaan vaksin Bio Farma, di mana ia mengembangkan karirnya sebagai Product Development Specialist selama 4 tahun (2014-2018). Di perusahaan inilah Indra pertama kali memperoleh pengalaman bekerja dengan virus. Ia terlibat dalam riset dan pengembangan vaksin rotavirus dan novel polio.

 

Pengalaman bekerja di proyek riset dan pengembangan vaksin menginspirasi Indra untuk melanjutkan studi doktoral di bidang yang sama. “Walaupun telah mendapatkan keterampilan kerja di lab, saya masih merasa perlu menggali pengetahuan yang lebih dalam,” ujarnya. Oleh karena itu, ia memberanikan diri mendaftar program PhD.

 

Indra di kampus University of Oxford, Inggris - Hotcourses Indonesia

Indra di kampus University of Oxford, Inggris

 

Temukan kisah inspiratif tentang studi dan berkarir di luar negeri!

 

Proses Pendaftaran Program PhD

 

Selama proses pendaftaran, Indra berkonsultasi dengan pimpinannya di Bio Farma. “Waktu itu saya tertarik dengan HIV. Namun ketika baca-baca tentang malaria, saya jadi tahu bahwa teknologi pengembangan vaksin malaria ternyata bisa diaplikasikan di bidang lain, sehingga bisa sangat bermanfaat untuk pengembangan vaksin-vaksin penyakit lain,” jelas Indra. Menurutnya, riset soal vaksin malaria di Indonesia masih jarang. Oleh karena itu, akan menjadi kesempatan besar baginya untuk terjun dan menjadi ahli di bidang ini.

 

Saat itu, Indra telah terlebih dahulu meraih beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI. Indra pun lantas mencari tahu soal kampus-kampus top di bidang penelitian vaksin malaria. Ia juga sempat mendaftar ke Johns Hopkins University, AS, namun sayangnya belum beruntung. Setelah membaca jurnal-jurnal ilmiah, Indra menemukan bahwa University of Oxford di Inggris merupakan salah satu institusi yang paling maju dalam hal penelitian vaksin malaria.

 

Indra kemudian berinisiatif menghubungi tiga principal investigator (PI) atau pemimpin riset di Oxford via e-mail. “Yang satu tidak balas, satu lagi lab-nya sudah penuh, satu lagi balas dan akhirnya saya sekarang bekerja dengan beliau,” kenang Indra. “Saya bekerja dengan Adrian Hill, PI dan Direktur Jenner Institute yang berada di bawah Departemen Clinical Medicine di Oxford. Institut ini memang fokus ke penelitian vaksin,” katanya.

 

Keterlibatan di Proyek Riset & Pengembangan Vaksin COVID-19

 

Indra pun memulai perjalanan PhD-nya sebagai mahasiswa program DPhil in Clinical Medicine di Oxford pada tahun 2018. Tugas utamanya adalah mendesain berbagai jenis kandidat vaksin malaria serta melakukan uji coba ke hewan (uji praklinis). “It takes time. Kita harus melihat respon imun seperti apa yang muncul setelah proses vaksinasi. Banyak parameter yang harus dilihat,” jelas Indra. “Inilah yang menjadi topik disertasi saya.”

 

Namun ketika pemerintah Inggris memberlakukan kebijakan lockdown untuk memperlambat transmisi COVID-19, penelitian Indra terpaksa terhenti. Proyeknya mengalami hiatus selama 6 bulan dari Maret hingga Juli. Ia hanya bisa melakukan pertemuan, diskusi jurnal, dan progres riset secara virtual.

 

Pada saat itulah Indra menyambut kesempatan untuk bergabung di tim riset dan pengembangan vaksin COVID-19. Kebetulan Indra telah memiliki sertifikasi Human Tissue Authority (HTA) dan Good Clinical Practice (GCP), berhubung 2 sertifikasi tersebut wajib ia miliki untuk bisa melakukan uji klinis (uji coba terhadap manusia) vaksin malaria. “Karena saya punya sertifikasi untuk bekerja dengan sampel manusia, saya mendapat tugas di bagian imunologi untuk melakukan uji klinis vaksin COVID-19,” jelasnya.

 

Jadi, seperti apa sih proses uji klinis vaksin COVID-19 yang dilakukan Indra?

 

Pertama, sukarelawan yang memenuhi persyaratan diperbolehkan mendaftar. Mereka diharuskan mengisi lembar persetujuan (consent form) dan melalui proses screening. “Para sukarelawan yang lulus screening kemudian disuntik vaksin. Namun mereka tidak tahu jenis vaksinnya - apakah vaksin COVID-19 yang sedang diuji atau vaksin pembanding. Jadi ada proses blinding di situ. Lalu kami monitor, apakah ada efek pada para sukarelawan, baik secara klinis maupun laboratorium. Di tim imunologi, kami mengukur respon imun dari sejumlah aspek, contohnya T cell dan antibodi. Saya fokus ke antibodi,” cerita Indra.

 

Lalu, seperti apa tantangan bekerja di tim pengembangan vaksin COVID-19?

 

“Saat ini kita berpacu dengan waktu, di mana kita ingin membuktikan bahwa vaksin yang diuji dapat memberikan proteksi dari infeksi virus SARS-CoV-2 atau penyakit COVID-19,” jawab Indra. Menurutnya, transmisi virus di beberapa negara sekarang sudah mulai menurun, namun bukan berarti kita sudah terproteksi dari COVID-19. “Kita tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menguji vaksin kita saat ini sehingga kita bisa lebih siap di masa mendatang jika terjadi peningkatan transmisi virus kembali,” jelas Indra.

 

Selain harus berpacu dengan waktu, pekerjaan Indra di lab juga dinamis. Jika ada temuan-temuan baru, kemungkinan akan ada penyesuaian atau tambahan protokol uji klinis, katanya.

 

“Lalu tantangan terbaru bagi saya pribadi adalah pengelolaan waktu, karena proyek vaksin malaria saya sudah mulai lagi sejak Juli 2020, walaupun terbatas tidak setiap hari,” pungkas Indra yang saat ini sudah memasuki tahun ketiga PhD-nya.

 

Indra dengan rekan-rekannya di Oxford University Biotech Society (OUBT) - Hotcourses Indonesia

Indra dengan rekan-rekannya di Oxford University Biotech Society (OUBT)

 

Unduh brosur universitas favoritmu di inggris

 

Dinamika Penanganan COVID-19 di Tanah Air


Soal perkembangan penyediaan vaksin di Indonesia, Indra menilai upaya yang dilakukan pemerintah sudah cukup baik. “Kita ingin vaksin secepat mungkin. Oleh karena itu, kita harus menguji kandidat yang sudah ada supaya punya kesempatan untuk mengakses vaksin dari awal.”

 

“Vaksin merah putih juga upaya yang bagus,” katanya soal riset dan pengembangan vaksin yang dilakukan oleh ilmuwan dalam negeri. Indra berharap vaksin merah putih yang masih berada di fase-fase awal ini bisa belajar dari riset-riset lain yang sudah lebih maju.

 

Saat ditanya mengenai pesan-pesannya untuk masyarakat terkait COVID-19, Indra menjawab, “Vaksin masih sangat lama untuk bisa diberikan ke masyarakat. Kalaupun vaksin yang kami uji ini berhasil, masih perlu proses lisensi, produksi, dan distribusi massal. Sampai saat ini belum ada kandidat vaksin dari proyek riset manapun yang bisa dilisensi untuk diproduksi secara global. It will take time.”

 

Oleh karena itu, Indra berpesan, jangan jadikan berita-berita soal pengembangan vaksin membuat disiplin protokol kesehatan kita jadi longgar. “Patuhi kebijakan di masing-masing negara. Jangan membanding-bandingkan karena setiap negara kondisinya berbeda,” tegasnya.

 

Lalu, bagaimana dengan refleksi Indra atas pengalaman studinya di Inggris selama ini? Setelah kurang lebih tiga bulan berkecimpung di proyek riset vaksin COVID-19 dan genap dua tahun menjalani studi doktoral di Inggris, Indra berbagi pandangan dan tips untuk para mahasiswa Indonesia yang memiliki impian serupa.

 

“Secara skills, kita tidak kalah baiknya dengan orang-orang di luar negeri. Hanya saja kita perlu mengasah lebih dalam kemampuan berpikir kritis dan kepercayaan diri kita,” katanya. “Namun kita harus tetap rendah hati supaya bisa belajar dan menyerap ilmu pengetahuan baru dengan maksimal. You can only accept new knowledge if you don’t think you’re better than others,” tambahnya seraya menutup percakapan kami yang kaya dan menginspirasi sore itu.

 

***

 

Ingin kuliah di Inggris seperti Indra? Langsung saja daftar untuk konsultasi GRATIS dengan konselor IDP Education yang siap membantumu mendaftar dan kuliah di berbagai universitas unggulan di Inggris. Coba juga alat Pencari Jurusan kami yang bisa menemukan jurusan kuliah dan universitas terbaik untukmu di mancanegara berdasarkan kriteria pribadimu.

 

Jangan lupa bahwa kamu juga bisa membaca artikel-artikel kami mengenai studi di Inggris yang menyediakan panduan lengkap kuliah di sana serta menyajikan cerita pengalaman kuliah di Inggris dari para mahasiswa asal Indonesia. Pastikan kamu follow semua kanal media sosial Hotcourses Indonesia untuk mendapatkan berita pendidikan internasional terbaru dan informasi terkini dari berbagai universitas di Inggris.  

 

Daftar sekarang untuk konsultasi GRATIS!

 

BACA JUGA:

 

Profil Penulis:

Marshiella Pandji (Shiella) kini menjabat sebagai Tenaga Ahli Muda di Kantor Staf Presiden Republik Indonesia. Sebelumnya ia bekerja di bidang management consulting & government affairs di London dan Jakarta. Shiella telah meraih gelar MPA in Public and Social Policy dari London School of Economics and Political Science, Inggris, dan gelar B.S. in Political Science, Economics, and International Studies with Minor in German dari University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat.

 

Sumber:

Artikel asli dipublikasikan oleh IndonesiaMengglobal.com

'A non-profit website for Indonesians aspiring to study and or pursue professional opportunities abroad'.

 

Sumber foto:

Dok. pribadi Indra Rudiansyah

Study in the UK

GRATIS

Ebook 'Kuliah di Inggris'

Suka dengan bacaan ini? Kami telah mengumpulkan topik-topik populer tentang kuliah di Inggris dalam satu buku digital praktis.

DOWNLOAD

Wajib dibaca

article Img

DAPAT BEASISWA INGGRIS SAMBIL MEMBAWA KELUARGA

Hotcourses Indonesia sangat senang dapat mengundang Bapak Asep Setiawan , jurnalis radio BBC London, sebagai blogger tamu Hotcourses bulan ini. Sebagai alumni Birmingham University dengan pengalaman tinggal dan kerjanya yang sudah lama di Inggris, Bapak Asep mengulas tentang apa yang patut diperhatikan bagi mahasiswa yang ingin membawa keluarga saat menerima beasiswa atau hendak kuliah di Inggris .   Bagi penerima beasiswa yang sudah berkeluarga,

22K
article Img

TUJUAN WISATA: SCOTLAND (SKOTLANDIA)

Inggris Raya (atau Britania Raya) adalah salah satu tujuan terfavorit di dunia bagi siswa internasional. Alasan terbesar untuk kepopuleran tersebut tidak lain dari banyaknya ragam pilihan pariwisata yang tersedia. Dengan infrastruktur transportasi yang sangat memadai dan berbagai atraksi, pemandangan dan bunyi, Inggris merupakan tempat kunjungan terbaik dan lingkungan belajar yang terkemuka. Dalam artikel ini, editor mahasiswa Hotcourses internasional – Nuannat

4.3K