Informasi penting
Study abroad: Before you leave

CERITA PERJALANAN & KULIAH S1 DI JERMAN

share image
232

Tak selamanya mendung itu kelabu. Begitu juga dengan kuliah di luar negeri. Tak selamanya kuliah S1 di luar negeri mahal. Misalnya saja di Jerman, biaya kuliah disana kurang lebih sama dengan biaya kuliah di Indonesia. Nilai plusnya adalah kamu mendapatkan kualitas pendidikan kelas dunia. Eits, tahukah kamu? Biaya bukanlah satu-satunya hal yang harus dipikirkan, masih ada proses aplikasi, keahlian bahasa, dan sebagainya yang harus dipersiapkan. Salah satu kontributor Indonesia Mengglobal, Tasya, menyampaikan kisah perjalanannya disaat mempersiapkan kuliah di Jerman sejak masih menggunakan seragam putih-abu abu.

 

 

Tasya, sejak ia berumur sebelas tahun, telah berniat untuk mengetahui lebih dalam tentang teknik industri di Jerman. Kenapa harus Jerman? Alasan utamanya adalah karena Jerman merupakan rumah dari beberapa universitas terbaik di bidang teknik dan mayoritas studi S1-nya gratis. Tasya dan keluarga waktu itu berpikir, jika dapat  berkuliah di salah satu universitas kelas dunia dengan biaya minim, why not? Meskipun orang tuanya harus membayar, biasanya hanya membayar biaya administratif yang masih tergolong murah dibandingkan universitas di negara lain, termasuk di Indonesia loh. Kini, orang tua Tasya hanya harus membayar biaya kuliah yang harganya maksimal 300 Euro atau sekitar 5 juta rupiah per satu semester. Itu semua telah mencakup fasilitas transportasi gratis, peminjaman buku gratis, potongan harga untuk makan, gym, olahraga, dan berbagai macam fasilitas lainnya.

 

 

Bukan hanya biaya pendidikannya yang terjangkau, biaya hidup di Jerman pun terjangkau, khususnya di kota kecil. Untuk harga daging, susu, dan telur kurang lebih sama dengan di Indonesia. Harga sewa tempat tinggal adalah satu-satunya yang lumayan berbeda dengan harga di Indonesia. Rata-rata biaya sewa disana mencapai 350 Euro atau sekitar 5 juta Rupiah per bulan tergantung kota tempat tinggalnya.

 

Budaya di Jerman yang terbuka pada imigran sangat memudahkan pelajar untuk mendapatkan berbagai pengalaman kerja. Sebagai contoh, Tasya yang seorang pelajar diberikan izin untuk bekerja sampingan dengan gaji rata-rata 8 Euro atau sekitar 130 ribu Rupiah per jam. Dari penghasilan tersebut, Tasya bisa sedikit meringankan beban orang tua untuk menutupi biaya makan ataupun wisata. Kuliah di Jerman juga memberikan kesempatan kepada Tasya untuk merasakan tinggal di negara dengan empat musim, menjelajahi negara Eropa lainnya dengan visa Schengen, dan menjalin jejaring internasional dengan teman-teman dari berbagai belahan dunia. 

 

Alasan itulah yang akhirnya membuat Tasya memutuskan untuk berkuliah di Jerman dan mulai mempersiapkan keberangkatannya setidaknya 2 tahun sebelumnya. Ketika niat sudah mantap untuk ke Jerman, Tasya mendaftarkan diri untuk kursus bahasa di Goethe Institute, Menteng. Untuk kamu yang juga ingin mendaftarkan diri, disarankan untuk datang pagi-pagi sekali, karna meskipun pendaftaran mulai dibuka jam 10 pagi, antrian sudah sangat panjang. Tasya  pun yang datang ke sana jam setengah 6 pagi tetap mendapat nomor antrian 120. 

 

Lulus belajar bahasa di Goethe selama setahun lebih, Tasya melanjutkan dengan mengambil kelas intensif selama 6 bulan di Gema Sprachenzentrum. Tasya belajar bahasa dengan teman-teman yang memang fokus dengan persiapan untuk studi S1 atau S2. Tak hanya belajar bahasa, pendiri Gema Sprachenzentrum juga membantu Tasya untuk pendaftaran online dan aplikasi visa. Selama 1,5 tahun Tasya belajar bahasa Jerman, ia sangat kewalahan. Ia piker bahasa Jerman akan mirip dengan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Namun ternyata tidak. Hal yang paling sulit bagi Tasya adalah setiap benda mempunyai gender maskulin, feminin, dan netral (!) yang mempengaruhi pelafalan katanya. Bahkan seorang temannya bergurau  “life is too short to learn German”. Tetapi, menurut Tasya “life is too short to be only caged inside our comfort zone”. Keyakinan itulah yang terus mendorong Tasya belajar bahasa Jerman hingga saat ini. 

 

 

Tasya lulus SMA dengan ijazah “Cambridge International Advanced Levels”, oleh karena itu ia tidak perlu mengambil Studienkolleg atau penyetaraan pendidikan SMA. Tasya hanya perlu kursus bahasa (DSH) di universitas Jerman selama satu semester. Ia kemudian mendaftar ke tujuh universitas yang menawarkan kursus DSH dan juga sambil mengirimkan aplikasi visa. Hal ini diakuinya cukup sulit karena pada saat itu Tasya masih berusia di bawah 18 tahun sehingga ia harus mendapatkan persetujuan orang tua di semua tahap prosesnya, tetapi akhirnya ia berhasil diterima di semua tujuh universitas tersebut. Wow! Luar biasa bukan? 

 

Dari ketujuh universitas tersebut, akhirnya Tasya memilih Martin Luther University di kota Halle. Tantangannya tidak berhenti sampai di sana. Tasya ternyata adalah murid termuda di kelas, sedangkan siswa lainnya sudah akan mengambil program studi S2. Ia pun mengalami kesulitan berinteraksi karena walau dia telah belajar bahasa Jerman sebelumnya, teman-teman sekelas saya jauh lebih fasih karena mereka telah tinggal di sana lebih dari satu tahun.  Selain tantangan di kelas, Tasya juga mulai belajar untuk menjadi mandiri. 

 

 

Karena kuliah di Jerman merupakan pengalaman pertama Tasya untuk tinggal jauh sendiri tanpa keluarga. Tasya harus mengurus semua dokumen kuliah, pendaftaran rekening bank, sewa kamar, masak, cuci baju, cuci piring, membersihkan kamar, hingga belanja bulanan ke supermarket. Semua itu cukup membuat ‘shock therapy’ baginya. Tetapi Tasya percaya bahwa kuliah di Jerman dengan usia muda seperti dirinya membutuhkan keyakinan yang kuat. Ia yakin akan ada banyak tantangan lagi di depannya, khususnya untuk bisa bertahan dan lulus dari universitas di Jerman. Terlepas dari itu semua, tekad Tasya tetap bulat untuk belajar dengan baik dan mendapatkan pengalaman hidup sebanyak-banyaknya di Jerman.

 

 

Tips

Untuk kamu yang ingin pergi ke Jerman, semua pendaftaran kuliah dan aplikasi visa dapat dilakukan sendiri tanpa mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membayar jasa agen karena justru universitas dan pemerintah Jerman lebih mengapresiasi calon murid yang mampu mengurus proses nya sendiri loh. 

 

Baca juga:

WAJIB: MEMILIKI ASURANSI KESEHATAN JIKA INGIN KULIAH KE JERMAN

BERBAGAI PILIHAN BEASISWA DI JERMAN YANG HARUS KAMU KETAHUI

TIPS MENGAJUKAN PERMOHONAN VISA PELAJAR JERMAN

 
 

Source:

Artikel asli di publikasikan oleh www.indonesiamengglobal.com,

'a non-profit website for Indonesians aspiring to study and or pursue professional opportunities abroad'.

Mencari jurusan

Pilih negara
JenjangPendidikan*
TENTANG PENULIS

author image

Wajib dibaca