Gimana Rasanya Lebaran Perantauan Sebagai Mahasiswa?

Transformasi pendidikanmu, pelajari budaya baru, dan mulai dalam 3 langkah sederhana.

Mulai sekarang
Informasi penting

Product of

Sudahkah kamu bergabung dengan komunitas IDP?

Dapatkan cerita langsung dari alumni, gabung grup, dan nikmati fitur komunitas terbaru kami!

Cek komunitasnya sekarang!
cta banner image
Study abroad: Once you arrive

Gimana Rasanya Lebaran di Rantauan Sebagai Mahasiswa?

Kalau kamu sekarang lebaran tidak di rumah, mungkin kamu bisa baca pengalaman Rini Mayasari lebaran di rantauan.

Gimana Rasanya Lebaran Perantauan Sebagai Mahasiswa? Rini Mayasari

Rini Mayasari, salah seorang sobat Hotcourses Indonesia menceritakan pengalamannya menjalani Lebaran di Amerika Serikat. Yuk simak pengalaman Rini di bawah ini!

 

--

 

Tahun 2014 lalu, menjadi ke empat kalinya saya lebaran di rantauan (InsyaAllah jika sampai umur saya hingga lebaran.. Amiin).

 

Lebaran pertama di rantau adalah di tahun 2008 ketika saya sedang academic exchange di Amerika Serikat. It was really tough back then. Saya tidak pernah lebaran jauh dari rumah sebelumnya.

 

Saya masih ingat waktu itu saya, Galih dan Sidrah bangun pagi sekali untuk berangkat sholat Eid. Di luar masih sangat sepi dan berkabut ketika kami beranjak dari apartemen. Dunia luar nampak sama, tidak ada yang spesial, lengang di pagi hari, tidak ada yang "khas" seperti suasana lebaran di Indonesia.

 

Suasana lebaran sendiri baru terasa ketika ketika kami mendekati Carson city center, tempat pelaksanaan sholat Eid. Rasanya haru sekali melihat brothers dan sisters yang sudah ramai berkumpul. Lokasi sholat pun di dekorasi dengan banyak balon, unik dan membuat suasana Ramadhan ceria.

 

 

Saya sendiri bersyukur sekali bisa menjalani lebaran kala itu dengan Sidrah, Galih, dan Hamzah, sebentuk keluarga baru di tengah perjuangan menuntut ilmu di Amerika. Lalu apakah lebaran di Amerika jadi hari libur? Tidak untuk California, lebaran kebetulan bertepatan dengan weekday, tidak ada libur.

 

Saya ingat sekali sepulang dari KJRI Los Angeles, saya masih harus ujian tengah semester. Jadi bisa dibilang libur lebaran a la Indonesia sangat mewah, seminggu menjelang lebaran dan seminggu pasca lebaran. Saya juga ingat hari itu saya tergugu menangis menelpon mama, dan sempat panik karena laptop saya tidak bisa tersambung dengan wifi di apartemen. Dramatis banget pokoknya.

 

 

Lebaran kedua saya di rantauan adalah ketika saya bertugas di Kab. Paser sebagai Pengajar Muda di tahun 2012. Kala itu saya bertugas di sebuah desa yg bernama Suliliran, lebih dikenal dengan nama Blebak. Lebaran kali ini tentunya dengan kemewahan libur a la Indonesia. Jadi saya punya banyak waktu untuk menghayati persiapan lebaran.

 

Saya ingat betapa menariknya terlibat dalam mempersiapkan menu penganan lebaran khas bugis yaitu Buras. (FYI Paser merupakan daerah yang multikultural, khususnya desa tempat saya bertugas yg merupakan desa dengan komposisi dari berbagai suku antara lain Paser, Bugis, Sunda, dan Jawa).

 

 

Saya sendiri tinggal dengan hostfam yang merupakan kombinasi Paser-Bugis.Nah kembali ke Buras, semua anggota keluarga terlibat dalam pembuatan buras ini karena cukup rigorous. Jadi, kakek, nenek, bibi, ibu, dan bapak semua sibuk sekali di dapur. Saya pun tak mau ketinggalan. :D

 

Nah Buras ini merupakan ketan yg pertama-tama dimasak setengah matang, lalu di bungkus daun, diikat dengan erat, kemudian direbus. Saya agak kesulitan untuk mengikat buras. Awalnya saya mengikat buras dengan simpul pita yang manis. Hal ini membuat kakek tersenyum dan menjelaskan bahwa Buras harus diikat dengan keras agar tidak hancur ketika direbus. :D Oops. But, it was really fun!

 

 

I was really engaged and was so happy that I learn how to make Buras. Buras ini nantinya di makan dengan ayam bumbu merah, yg maknyuuus.. Aaah, saya lagi pengen makan buras dengan ayam bumbu merah nih...

 

 

Selanjutnya, malam takbiran cukup bising karena murid-murid saya sibuk sekali menyalakan petasan.. Suara petasan bersahut-sahutan dengan lantunan takbir dari mesjid. Saya mulai dihinggapi perasaan galau ketika mendapat SMS dari kembaran yang bilang di rumah sepi sekali, hanya dia dan papa. Seketika saya langsung mellow, merasa bersalah telah memutuskan untuk tidak mudik. :'( Terbayang wajah sendu papa saya yang selalu menyimpan perasaannya dalam diam.

 

Man, I cried a river at that time. Kirain yah, karena ini lebaran kedua di rantauan, saya tidak akan sentimentil begitu, eeh ternyata pecah juga pertahanan saya. Bagaimana lebaran besoknya? Alhamdulillah berkesan sekali. Saya dan murid-murid berkunjung ke nyaris hampir tiap rumah di desa, di tiap rumah setidaknya makan satu mangkok soto banjar, atau gado-gado, atau buras. Luar biasa perut saya rasanya mau meledak setelah mendatangi rumah ke empat :D hehehehe...

 

Catatan:

Pengalaman ini adalah pengalaman nyata sahabat Hotcourses Indonesia, Rini Mayasari. Ikuti artikel-artikel yang ditulis Rini di Hotcourses di sini:

 

Artikel lainnya tentang lebaran di luar negeri sebagai mahasiswa internasional:

 

--

 

Kamu tertarik untuk kuliah di luar negeri seperti Rini? Dapatkan panduan serta informasi lengkapnya dari konselor pendidikan berpengalaman dari IDP Education sekarang juga lewat mendaftar konsultasi kuliah di luar negeri langsung dari HP-mu!

 

Cerita ini ditulis oleh Rini Mayasari

Rini Mayasari adalah mahasiswa yang aktif dan bertalenta yang sering mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Sebelum mendapat beasiswa master di Selandia Baru, dia mendapatkan beasiswa ke California, AS. Dia juga mengabdikan diri sebagai guru di daerah pedalaman melalui program Indonesia Mengajar. Selain kuliah, Rini juga bekerja sebagai tutor di Department of Geography, Tourism, and Environmental Planning di University of Waikato. Rini mengaku bahwa "Semua mimpi dimulai dari sekolah!".

 

Mau tahu cerita-cerita seru lainnya dari Rini Mayasari? Kunjungi blog Rini di http://rinimayasari.blogspot.co.nz/ atau cek LinkedIn-nya!

Wajib dibaca