Kalau kamu tengah merencanakan kuliah pascasarjana di luar negeri, pastinya kamu banyak melihat universitas mancanegara yang meminta nilai tes GMAT atau GRE sebagai syarat penerimaan mahasiswa baru di jenjang pascasarjana.
Jika program studi yang kamu incar hanya meminta nilai GMAT, maka kamu tinggal mengikuti tes GMAT. Namun kalau program tersebut menerima nilai tes GRE atau GMAT, tes mana dong yang harus kamu pilih?
Nah, agar kamu tidak bingung memilih antara tes GMAT atau GRE, baca dulu penjelasan dari tim IDP Hotcourses Indonesia di bawah ini.
-
Apakah Wajib Punya Nilai Tes GRE atau GMAT untuk Mendaftar Program MBA di Luar Negeri?
-
Apakah Nilai Tes GRE Bisa Dikonversi Menjadi Nilai Tes GMAT?
-
Apalagi yang Diperlukan untuk Kuliah Pascasarjana di Luar Negeri Selain Nilai GRE & GMAT?
Apa Perbedaan GMAT & GRE?
Banyak orang masih berpikir bahwa GMAT dan GRE adalah tes khusus untuk kuliah MBA di luar negeri. Padahal sebenarnya kedua tes ini cukup berbeda.
GMAT (Graduate Management Admission Test) adalah tes terstandarisasi berbasis komputer yang dirancang untuk menilai kelayakan masuk di berbagai program pascasarjana manajemen dan bisnis, termasuk program MBA.
Sementara itu, GRE (Graduate Record Examinations) adalah tes terstandarisasi berbasis komputer yang mengukur beberapa keterampilan yang dibutuhkan untuk perkuliahan pascasarjana, yaitu keterampilan penalaran verbal dan kuantitatif serta keterampilan penulisan analitis.
Perbedaan utama GMAT dan GRE adalah GRE tidak berfokus pada manajemen dan bisnis saja, jadi nilai tes GRE bisa digunakan untuk mendaftar kuliah pascasarjana di beragam bidang studi lainnya, terutama bidang STEM (sains, teknologi, teknik/rekayasa, dan matematika). Bahkan ada tes GRE khusus untuk bidang matematika, fisika, dan psikologi, lho!
Apakah Struktur Tes GMAT & GRE Berbeda?
GMAT dan GRE sudah pasti memiliki konten dan struktur ujian yang berbeda. Gambaran sederhananya bisa kamu lihat dalam 2 tabel berikut.
Struktur tes GMAT
|
Bagian ujian |
Jumlah soal |
Durasi |
|
Quantitative Reasoning (Penalaran Kuantitatif) |
21 |
45 menit |
|
Verbal Reasoning (Penalaran Verbal) |
23 |
45 menit |
|
Data Insights (Wawasan Data) |
20 |
45 menit |
|
Total |
64 |
135 menit |
Struktur Tes GRE
|
Bagian ujian |
Jumlah soal |
Durasi |
|
Analytical Writing (Penulisan Analitis) |
1 |
30 menit |
|
Verbal Reasoning (Penalaran Verbal) |
27 (dalam 2 bagian) |
41 menit |
|
Quantitative Reasoning (Penalaran Kuantitatif) |
27 (dalam 2 bagian) |
47 menit |
|
Total |
55 |
118 menit |
Meskipun kedua tes ini mengukur beberapa kemampuan yang sama, ada juga perbedaan yang jelas. Contohnya, bagian Data Insights (Wawasan Data) di GMAT digunakan untuk mengukur kemampuan peserta tes dalam menganalisis serta menafsirkan data dari tabel dan grafik. Sementara GRE tidak memiliki bagian untuk menguji keterampilan ini.
Mana yang Lebih Gampang Antara GRE dan GMAT?
Tidak ada yang lebih gampang di antara keduanya, karena tingkat kesulitan GMAT dan GRE bergantung pada latar belakang dan tingkat kemampuan tiap peserta.
Bila dibandingkan dengan pengujian kemampuan kuantitatif dalam tes GRE, bagian pengujian kemampuan kuantitatif dalam GMAT jauh lebih rumit. Peserta tes GMAT juga tidak boleh menggunakan kalkulator, sementara peserta tes GRE bebas menggunakan kalkulator di bagian ini.
Meski begitu, bagian pengujian kemampuan verbal dalam tes GMAT jauh lebih mudah dibanding bagian pengujian kemampuan verbal dalam tes GRE. Peserta tes GMAT lebih banyak diuji mengenai tata bahasa dan penalaran kritis, namun peserta tes GRE harus menghadapi ujian kosakata yang sulit dan teks bacaan yang padat.
Jadi bisa disimpulkan tes GMAT akan lebih mudah untuk para peserta yang memiliki kemampuan kuantitatif yang unggul. Sementara tes GRE akan lebih mudah untuk para peserta dengan kemampuan menulis yang mumpuni dan perbendaharaan kata yang luas.
Pada intinya, kedua tes ini membutuhkan persiapan yang matang untuk bisa mendapatkan hasil terbaik.
Mana yang Lebih Populer Antara GMAT & GRE?
Tiap tahunnya, ada sekitar 319.000 peserta yang mengikuti tes GRE dan 75.000 peserta yang mengikuti tes GMAT dalam periode waktu yang sama. Meski begitu, ini bukan berarti GRE mutlak lebih populer dibanding GMAT.
Alasan tiap peserta mengambil tes tertentu pastinya beragam. Misalnya, keputusan mereka mungkin tergantung pada persyaratan universitas pilihan atau jurusan yang diincar.
Mana yang Tempat Tesnya Lebih Banyak Antara GMAT & GRE?
Saat ini hanya ada 3 tempat tes GMAT resmi di Indonesia:
-
Universitas Indonesia - Fakultas Teknik UI, Lantai Dasar Gedung C, Jl.Salemba Raya 4, Jakarta
-
PT Executrain Nusantarajaya - Setiabudi Atrium 2nd FL Suite 203, Jakarta
-
PT Ebiz Infotama Interindo - AMD Center, Jln Pucang Anom Timur 23, Surabaya
Untuk tempat tes GRE resmi di Indonesia, jumlahnya sedikit lebih banyak dibanding GMAT. Khusus di Jakarta, tes ini bisa kamu ikuti di test center milik IEEF dan Edupac. Selain itu, GRE juga tersedia di beberapa test center resmi di Surabaya dan Denpasar.
Untungnya, GRE dan GMAT menawarkan opsi untuk mengikuti tes secara online. Jadi kamu bisa mengikuti tes ini di rumahmu bila kamu memiliki perangkat dan jaringan internet yang memenuhi syarat.
Detail lebih lengkap mengenai tempat tes GMAT dan GRE bisa kamu temukan di situs resmi kedua tes tersebut.
Mana yang Biayanya Lebih Murah Antara GMAT & GRE?
Khusus untuk peserta dari Indonesia, biaya tes GMAT dan GRE bisa kamu lihat di tabel berikut.
Rincian Biaya Tes GMAT di Indonesia
|
Biaya tes GMAT di test center resmi: |
USD250 |
|
Biaya tes GMAT online |
USD275 |
|
Biaya Pengiriman Nilai GMAT ke Program Studi Pilihanmu |
USD35 |
|
Biaya Penjadwalan Ulang |
USD50 - 165 (tergantung jenis tes yang kamu ambil dan waktu penjadwalan ulang) |
Rincian Biaya Tes GRE di Indonesia
|
Biaya tes GRE di test center resmi: |
USD220 |
|
Biaya tes GRE online |
USD220 |
|
Biaya Pengiriman Nilai GRE ke Program Studi Pilihanmu |
USD40 |
|
Biaya Penjadwalan Ulang |
USD55 |
Dari penjabaran di atas, bisa disimpulkan biaya tes GRE di Indonesia sedikit lebih murah dibanding biaya tes GMAT.
Nilai Tes GRE & GMAT Bisa Digunakan di Mana Saja?
GMAT diterima di lebih dari 110 negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, Inggris, Irlandia, Kanada, New Zealand (Selandia Baru), Jerman, Prancis, dan Singapura. Sementara GRE diterima di lebih dari 90 negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, China, Inggris, Irlandia, Jepang, Kanada, Korea Selatan, New Zealand (Selandia Baru), dan Singapura.
Hal utama yang perlu dicatat adalah syarat penerimaan tiap program pascasarjana di luar negeri akan berbeda-beda. Bahkan dalam satu universitas, satu program studi mungkin meminta nilai GMAT dan program lain meminta nilai GRE.
Intinya, pilihan mengikuti tes GRE atau GMAT harus diambil berdasarkan persyaratan program pascasarjana yang kamu incar di luar negeri.
Apakah Wajib Punya Nilai Tes GRE atau GMAT untuk Mendaftar Program MBA di Luar Negeri?
Kamu tidak wajib memiliki nilai tes GRE atau GMAT untuk bisa kuliah MBA di luar negeri. Seperti dijelaskan di atas, persyaratan tiap program pascasarjana di luar negeri akan berbeda-beda dan ini juga berlaku untuk program MBA.
Banyak program MBA di luar negeri memang masih meminta nilai GRE atau GMAT sebagai syarat masuk, namun ada juga yang tidak meminta nilai kedua tes ini. Beberapa program MBA kini memiliki tes sendiri untuk menilai kelayakan pendaftar, sementara sebagian program lain membebaskan syarat nilai GRE atau GMAT bagi pendaftar dengan pengalaman kerja yang relevan.
Walaupun begitu, nilai tes GRE atau GMAT yang bagus pasti akan meningkatkan peluangmu diterima masuk program MBA incaranmu.
Apakah Nilai Tes GRE Bisa Dikonversi Menjadi Nilai Tes GMAT?
Nilai tes GRE tidak bisa dikonversi ke nilai tes GMAT karena struktur pengujian kedua tes ini sangat berbeda. Nilai dari tes yang kamu ikuti adalah satu-satunya nilai yang bisa kamu gunakan untuk mendaftar ke program pascasarjana pilihanmu.
Jadi kamu harus memastikan bahwa kamu mengikuti tes yang nilainya diminta sebagai syarat masuk program incaranmu.
Apalagi yang Diperlukan untuk Kuliah Pascasarjana di Luar Negeri Selain Nilai GRE & GMAT?
Nilai tes GMAT atau GRE tentu bukan satu-satunya hal yang perlu kamu persiapkan untuk mendaftar kuliah pascasarjana di luar negeri. Kalau kamu masih belum tahu apa saja yang harus kamu lakukan, coba deh ngobrol dulu dengan konselor IDP Hotcourses Indonesia.
Tim konselor kami akan mendampingimu dalam penyusunan rencana kuliah, serta mencari jurusan kuliah dan universitas mancanegara yang sesuai dengan rencana dan anggaranmu. Kamu juga akan terus dipandu dalam proses pendaftaran ke program pascasarjana di luar negeri hingga kamu diterima.
Selain itu, kamu bisa mendapatkan bantuan dalam proses pembukaan rekening bank di negara tujuanmu, pencarian akomodasi, dan masih banyak lagi. Semuanya ini bisa kamu dapatkan tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun alias GRATIS!
Jadi, tunggu apa lagi? Buruan klik banner di bawah ini untuk mengambil langkah awal dalam mewujudkan cita-citamu kuliah pascasarjana di luar negeri.
Artikel ini disusun oleh Tim Editorial IDP Hotcourses Indonesia, yang berpengalaman lebih dari 10 tahun dalam menyediakan informasi pendidikan global dan panduan kuliah ke luar negeri untuk mahasiswa Indonesia.
*biaya tes yang tercantum di halaman ini adalah biaya per November 2025