Informasi penting
Study abroad: Pendaftaran Universitas

MITOS DAN REALITA KULIAH DI UNIVERSITAS ELIT DI INGGRIS

818

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan Adam Wick, seorang pelajar di Norfolk yang berhasil memasuki University of Oxford di Inggris. Tulisan ini cukup menarik karena penulis menyebutkan bahwa kehidupan kuliah di Oxford sangat berbeda dari kesan yang dia bayangkan sebelumnya. Dan ternyata kebanyakan pelajar juga terjebak dengan mitos yang sama. Hal ini juga berhubungan dengan apa yang membuat semua orang berpikir bahwa sangat susah memasuki universitas-universitas elit. Dan ternyata, sebenarnya yang membuat mereka sulit bukanlah kenyataan, tetapi bayangan dari pikiran mereka sendiri.

 

Setelah menyelesaikan semester pertama di University of Oxford, saya diundang kembali ke kolese tempat saya mengenyam pendidikan menengah di Norfolk, untuk berbicara dengan para pelajar yang sedang bersiap-siap untuk mendaftar ke universitas. Norfolk adalah kota di Inggris yang memiliki kondisi yang unik, tetapi bukan sesuatu yang dapat dibanggakan, karena di kota ini sangat sedikit pelajar yang menamatkan sekolah menengah melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Dan ini bukanlah kondisi yang bagus. Oleh karena itu saya diminta untuk berbagi pengalaman dengan teman-teman di sini untuk menyemangati mereka untuk melanjutkan kuliah. Hal ini tidaklah gampang. Saya tahu, karena saya juga pernah menjadi salah satu dari mereka.

 

Sejak dulu, saya bercita-cita untuk menjadi pelatih tennis, dan saya sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan kuliah. Sama sekali tidak! Tetapi saya cukup beruntung, karena orang tuaku dan teman-temannya berhasil meyakinkan saya untuk mendapatkan gelar universitas terlebih dahulu, dan kemudian tetap bisa melanjutkan ke karir yang saya inginkan, yaitu pelatih tenis. Saya pun mempersiapkan berkas-berkas pendaftaran, dan karena harus memilih 5 universitas, saya iseng memasukkan Oxford dalam daftar pilihan saya. Benar-benar hanya sekedar mencoba.

 

Beberapa bulan setelah itu, saya diundang untuk menghadiri wawancara di Corpus Christi College, salah satu kolese di Oxford. Dan sungguh tidak terduga, saya diterima. Minggu pertama kuliah saya jalani penuh dengan rasa shock, antara masih belum percaya bahwa saya diterima, dan kemudian kaget dengan beban tugas yang menggunung dan tuntutan kuliah.

 

Tantangan pertama yang saya hadapi adalah tugas essai. Setiap minggu, kami harus menyelesaikan satu atau dua essai ribuan kata! Dan untuk menyelesaikannya saya harus banyak baca, mencari materi, sehingga menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan Oxford sudah menjadi kebiasaan.

 

Saya kemudian melihat di sekeliling, dan membandingkan dengan teman-teman lainnya. Ternyata teman-teman yang sekolah di sekolah independen atau grammar school tidak begitu kewalahan. Ini karena mereka telah terbiasa demikian sewaktu sekolah menengah. Mereka sudah biasa menyelesaikan essai sewaktu sekolah menengah, walau essai yang mereka tulis dulu tidak sepanjang sekarang. Tetapi mereka telah terbiasa untuk mencari bahan, menganalisa, menuliskan argumen, dan sudah tahu format essai dengan baik. Berbeda dengan saya, yang sebelumnya hanya didikte guru. Kami tidak pernah menulis essai, jawaban dari tugas tinggal kami salin dari buku pelajaran. Begitu juga dengan ulangan, kami hanya menghafal dari buku, kemudian menulis di kerja jawaban sesuai dengan soal yang diberikan.

 

Satu hal lagi yang membuat shock, ternyata di sini, pendapatku sangat dianggap. Ini adalah pengalaman pertama untukku. Di sekolah tempat saya belajar dulu, guru menyampaikan pelajaran benar-benar satu arah. Guru mengajar, kami sebagai murid mendengar, mencatat, menghafal, menjawab. Tetapi di sini, dosen menanyakan pendapat kita, berpikir dari sudut pandang kita, mereka ingin tahu apa yang kita pikirkan. Kelas tutorial hanya untuk dua murid. Di situ kami berembuk dengan dosen, kami berdiskusi, berdebat dengan dosen yang benar-benar ahli di bidang mereka. Kami dilatih untuk berpikir keras, untuk menyampaikan pendapat dan bahkan saran, jika kami berpikir bahwa yang disampaikan itu tidak benar.

 

Sebelum masuk ke sini (Oxford), saya membayangkan bahwa tempat ini adalah bangunan yang indah, bersejarah, orang-orang menggunakan bahasa yang kaku dan sulit dipahami, murid-murid yang sombong dan berpakaian elit, pokoknya lingkungan yang mahal yang tidak sesuai dengan pelajar seperti saya. Dan ternyata bukan hanya saya yang berpikiran demikian, hampir semua pelajar di Norfolk juga berpikiran serupa.

 

Tetapi kenyataannya sangat jauh dari yang dibayangkan. Di Junior Common Room – sebuah pusat untuk kegiatan mahasiswa sarjana, menjadi tempat untuk berbincang dan berteman. Banyak persahabatan yang berlangsung seumur hidup dimulai di sini. Bukan hanya sekedar berteman dan bersenang-senang, persahabatan membantu suasana kuliah menjadi tidak kaku, dan kami membantu satu sama lain, sehingga tugas yang sesulit apapun bisa kami selesaikan.

 

Yang ingin saya sampaikan adalah, janganlah berpikir bahwa universitas elit itu hanyalah mimpi yang tidak tergapai, atau sesuatu yang mustahil untuk kamu capai. Tidak sama sekali. Saya yang berasal dari latar pendidikan yang biasa-biasa saja dan bisa diterima di sini. Murid-murid dan para dosen juga tidak sombong, mereka mengenal kita sebagai individu, bukan dari latar belakang.  

 

Tidak dapat dipungkiri, memang kuliah itu tidak gampang. Banyak tugas-tugas yang susah. Tetapi kita tidak sendirian. Bertemanlah, maka kamu akan menemukan orang-orang yang juga mengalami kesulitan yang sama denganmu, kemudian kesulitan tersebut menjadi tidak terlalu sulit lagi karena kamu punya teman untuk menghadapinya.

 

Saya kemudian menjadi seorang peer supporter di Corpus Christi, mengikuti pelatihan selama 30 jam di Oxford University Counselling Service untuk membantu para mahasiswa lain mengatasi kesulitan mereka, baik itu masalah pribadi atau kesehatan, atau yang lain. Seringkali, mahasiswa bisa menjadi bantuan yang tepat bagi rekan-rekannya yang sedang kesusahan, karena mereka juga pernah mengalami hal yang serupa, sehingga bisa memberikan hiburan dan masukan yang tepat. Jika ternyata membutuhkan bantuan yang lebih profesional, kampus juga bisa memberikan rekomendasi.   

 

Sekarang saya telah tamat dari perkuliahan S1 dan akan melanjutkan ke jenjang S2 Oktober nanti. Saya mengambil kesimpulan, justru kebebasan dalam belajar dan berekspresilah yang membuat Oxford dan universitas elit lainnya menghasilkan para lulusan yang berprestasi dan dikenal dunia. Hanya orang-orang yang bisa membuat perbedaan, yang bisa mengeluarkan ide-ide unik dan brilian yang bisa lebih sukses dari orang lain. Dan itulah yang dilatih di sini, kita dilatih untuk berpikir di luar kotak, untuk kreatif dan inovatif.  

 

Jika ada waktu, saya akan kembali ke sekolah menengah saya dan memberitahukan kepada para adik kelas bahwa: jangan pernah berpikir bahwa kalian tidak pantas, atau tidak mungkin diterima di universitas bergengsi. Jangan minder. Yang perlu dilakukan hanyalah mempersiapkan diri dengan baik. Yang paling penting adalah harus bisa belajar dengan mandiri, dan harus melatih daya analisa dan berpikir kritis, jangan hanya menerima bulat-bulat apa yang diajarkan oleh guru. Belajar menyampaikan pendapat juga penting, karena di universitas bagus, pendapat kita sangat dihargai.

 

Mencari jurusan

Pilih negara
JenjangPendidikan*
TENTANG PENULIS

Wajib dibaca

PERSYARATAN MASUK UMUM UNTUK KULIAH S1 DI LUAR NEGERI

Sudah menemukan jurusan dan universitas pilihan? Selamat! Selanjutnya kamu tinggal mencari informasi mengenai persyaratan masuk dari universitas tersebut. Secara umum, persyaratan masuk terbagi menjadi: persyaratan akademis dan persyaratan kemampuan berbahasa Inggris. Persyaratan masuk bisa saja berbeda-beda antar setiap jurusan, walaupun mereka berada di universitas yang sama. Persyaratan tersebut ditentukan oleh institusi yang bersangkutan untuk memastikan kamu

143049

Mengapa TOEFL dan IELTS penting untuk kuliah ke luar negeri?

Mungkin banyak yang bertanya, kuliah ke luar negeri kan bukan untuk belajar Bahasa Inggris, kenapa sih harus dapat nilai bagus di TOEFL atau IELTS biar bisa diterima di univesitas luar negeri?   Biasanya standar persyaratan masuk untuk diterima masuk ke universitas luar negeri adalah TOEFL dengan skor minimal 550 (paper based) atau IELTS dengan skor minimal 6.0. Nilai minimal yang diminta bisa lebih tinggi lagi jika Anda ingin mengambil

44999