Duta besar adalah pejabat diplomatik yang ditugaskan ke pemerintahan asing berdaulat, atau ke sebuah organisasi internasional, untuk bekerja sebagai pejabat mewakili negerinya. Sebagai pejabat diplomatik yang dipilih oleh Presiden, seorang Duta Besar merepresentasikan tanah airnya di negara tujuan.
Jika kamu bercita-cita ingin menjadi seorang Duta Besar, kamu wajib banget simak obrolan inspiratif tim Hotcourses Indonesia kali ini bersama Bapak Desra Percaya, diplomat Indonesia yang menjabat sebagai Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Britania Raya merangkap Irlandia dan Organisasi Maritim Internasional, yang berkedudukan di London.
Menariknya Pak Desra Percaya ini menamatkan pendidikan di jenjang perkuliahan dengan sederet beasiswa, lho. Penasaran bagaimana cerita menariknya? Simak dalam artikel berikut ini!
Apa yang dibahas dalam artikel ini?
-
Bagaimana Hubungan Kerjasama Pendidikan Indonesia dan Inggris Raya saat ini?
-
Kontribusi apa yang bisa dilakukan sebagai diaspora Indonesia di Inggris Raya dan Irlandia?
Mengenal Desra Percaya, Sosok Yang Hobinya Sekolah
Berangkat sebagai anak daerah yang berasal dari Malang dan ingin mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik, Desra Percaya kecil sangat mengidolakan pak Adam Malik, mantan Menteri Luar Negeri dan wakil presiden ketiga. Ibu dari pak Desra berpesan, jika kita ingin dihargai oleh orang lain, maka sekolah lah setinggi-tingginya. Hal ini menumbuhkan semangat di dalam diri seorang Desra Percaya untuk tidak bosan belajar dan menuntut ilmu untuk mewujudkan cita-citanya.
Di tahun terakhir kuliah, sebuah kesempatan emas datang menghampiri pak Desra. Belum juga selesai kuliah S1, beliau diincar oleh Kemenlu dengan sistem ijon. Sistem ini mengadaptasi bahasa para petani dan tengkulak di daerah, yakni bibit yang belum siap panen sudah dipanjar oleh tengkulak dan akan diambil setelah masak. Begitu juga dengan yang dialami Desra Percaya, karena pencarian bakat dari Kemenlu beliau di incar untuk langsung bekerja di Kemenlu setelah lulus dan diberikan beasiswa di tahun terakhir masa perkuliahan.
Namun saat itu ketika lulus dan mulai bekerja di Kemenlu yang berlokasi di Jakarta, beliau merasa ijazah S1 saja tidak cukup untuk merintis karir yang ia impikan. Apalagi harus bersaing dengan pemuda-pemudi Jakarta yang memiliki kepercayaan diri tinggi dan bekal yang cukup untuk berkarir. Akhirnya pak Desra Percaya mantap melanjutkan S2 dengan Chevening Award bidang Diplomasi pada tahun 1995 di University of Birmingham. Padahal saat itu beliau baru menyelesaikan beasiswa dari Pemerintah Swiss untuk mengikuti pendidikan khusus tentang Negosiasi Multilateral selama 9 bulan si Jenewa. Pendidikan adalah jembatan untuk masa depan yang maju, hal ini lah yang selalu dipegang teguh oleh pak Desra Percaya untuk terus mengembangkan diri.
Masih belum berhenti sampai disitu, semangat belajar pak Desra Percaya semakin menggebu ketika beliau ditawarkan untuk lanjut S3 oleh salah satu dosen di Birmingham University. Namun perjalanan menempuh pendidikan S3 ini harus menemui sedikit rintangan, supervisor pak Desra kala itu ternyata harus pindah ke Durham University. Akhirnya mau tak mau, pak Desra Percaya ikut pindah ke Durham University agar tidak perlu berganti supervisor lagi.
Beliau berpesan kepada semua pelajar yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S3, agar mencari dan memastikan supervisor yang dipilih tetap berada di universitas itu dalam waktu yang lama. Dengan komitmen, perjuangan, pengorbanan dan tekad yang tinggi, akhirnya jenjang S3 bisa diselesaikan pada awal tahun 2000.
Pak Desra Percaya pun mendapat kesempatan dari Durham University yang menawarkan doctor honoris causa pada bulan Januari lalu. “Walaupun gak penting-penting amat, tapi boleh deh untuk nambah-nambah di CV,” guraunya.
Perjalanan Karir Internasional Desra Percaya
Sejak mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan Kemenlu dengan sistem ijon di tahun 1986, karir seorang Desra Percaya makin melesat di kancah internasional. Apalagi dengan diimbangi dengan kemauannya untuk terus belajar dan menempuh pendidikan hingga jenjang S3. Setelah lulus kuliah, Desra Percaya langsung memulai karir di Kemenlu. Kemudian beliau mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Swiss selama 9 bulan, setelah itu ia mendapatkan penugasan di Perwakilan Tetap RI di PBB Jenewa hingga tahun 1994.
Setelah lulus S3 dan kembali ke Kemenlu, Desra Percaya mendapat tugas ke Perwakilan Tetap RI New York (NY) di tahun 2001-2005. Sekembalinya dari NY, beliau lagi lagi mendapatkan tugas yang cukup menantang, yakni menjadi Juru Bicara Kemenlu/ Kepala Biro Administrasi Menteri Luar Negeri RI hingga tahun 2007.
Karena kemampuan yang menjanjikan dan pendidikan yang menunjang, karir pak Desra di tahun 2009 semakin berkembang menjadi Duta Besar/ Deputi Wakil Tetap RI pada PBB di Jenewa hingga tahun 2012. Setelah itu beliau diminta menjadi Duta Besar/ Wakil Tetap RI pada PBB di New York pada tahun 2012 hingga 2016.
Dengan perjalanan karir yang mengagumkan dan prestasi akademik yang dimiliki, tidak heran jika pada tahun 2020, presiden Joko Widodo mempercayakan jabatan sebagai Duta Besar untuk Kerajaan Inggris, merangkap Irlandia dan International Maritime Organization (IMO).
Dengan jabatan dan perjalanan karirnya selama di luar negeri, tidak heran jika sosok Desra Percaya telah bertemu banyak tokoh politik luar negeri salah satunya adalah King Charles III. Namun alih-alih gugup dan berkecil hati, pak Desra Percaya merasa bahwa sebagai bangsa Indonesia sudah seharusnya kita merasa percaya diri di depan warga negara asing lainnya.
Diungkapkan dalam wawancara bersama tim Hotcourses Indonesia, menurut pak Desra Percaya, Indonesia adalah negara besar yang memiliki banyak keunggulan tersendiri dibanding negara lain. “You have to be stand stall, berdiri dengan percaya diri, tapi tetap tidak boleh sombong,” ungkap pria kelahiran Malang 20 April 1961 ini.
Bahkan ungkapnya, saat ia berbincang dengan King Charles III, raja Inggris Raya itu ingat bagaimana kehebatan Indonesia menghadapi bangsa yang beragam dan mengapresiasi pluralisme yang terjadi di Indonesia. Duh, kebayang gak sih Sobat Hotcourses gimana ya rasanya ngobrol sama King Charles III? Gak cuma itu aja, bahkan di Buckingham Palace pak Desra Percaya sempat berbincang dengan Prince of Wales sang Putra Mahkota, dan saat itu beliau mengajukan pertanyaan singkat “Apakah ada rencana main ke Indonesia?”. Tidak disangka ternyata sang Putra Mahkota atau Pangeran William menjawab bahwa ia pernah ke Indonesia dan sangat menikmati keindahan bawah laut Indonesia dengan diving. Pangeran William berkata saat itu, Indonesia adalah negara terbaik untuk diving karena kehidupan bawah laut yang menawan dan tidak ada di negara lain.
Karena pengalaman itulah, pak Desra Percaya sangat percaya diri membawa nama Indonesia di ranah internasional. “Jangan merasa takut atau minder. Kita harus confident dan connect, yakin kalau mereka (orang luar negeri) tahu Indonesia dan kita tunjukan kita juga bangga sebagai orang Indonesia” ujarnya.
Bagaimana Hubungan Kerjasama Pendidikan Indonesia dan Inggris Raya saat ini?
Dikatakan oleh Pak Desra Percaya, hubungan kerjasama antara Indonesia dan Inggris Raya dalam dunia pendidikan saat ini sudah cukup erat dan dekat. Terbukti pada kunjungan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Nadiem Makarim, ke Inggris pada bulan Mei lalu dan bertemu dengan Gillian Keegan, Menteri Pendidikan Inggris. Dalam pertemuan ini ada beberapa kesepakatan kerjasama terkait isu perkembangan artificial intelligence, creative economy, dan kesehatan dimana Indonesia bisa mendapatkan banyak manfaat dari Inggris.
Kini terdapat lebih dari 3000 pelajar Indonesia yang merantau ke Inggris Raya, hal ini membuat Mendikbudristek Nadiem Makarim menyampaikan ke pihak Inggris untuk mendorong pelajarnya untuk juga menimba ilmu di Indonesia.
Tidak hanya itu, kunjungan kerja mas Menteri Nadiem Makarim pun membahas tentang skema beasiswa untuk pelajar Indonesia ke Inggris melalui LPDP dan Chevening Scholarships. Pemerintah Indonesia sedang ‘membujuk’ pihak Inggris untuk menaikkan kuota beasiswa agar bisa lebih banyak lagi pelajar Indonesia yang bisa sekolah di Inggris. Pelajar Inggris pun bisa mendapatkan beasiswa jika ingin belajar di Indonesia dengan program Darmasiswa untuk bidang seni dan budaya.
Kerjasama antar negara seperti ini sangat penting untuk dilakukan dan dipupuk untuk meningkatkan pemahaman antara bangsa dan negara. Khususnya di bidang-bidang STEM (Science, Technology, Engineering and Math) untuk menyukseskan Indonesia Emas 2045.
Walau begitu terkadang pelajar harus dihadapkan dengan permasalahan visa pelajar ke Inggris yang cukup sulit didapat. Sedangkan di Irlandia pemerintahnya cenderung sangat suportif dan juga memberikan perhatian yang luar biasa terhadap pelajar internasional termasuk Indonesia. Bahkan di beberapa universitas mereka tak segan mengangkat pelajar Indonesia sebagai university brand ambassador. Selain untuk menunjukan diversity antar bangsa, tapi juga untuk menarik pelajar Indonesia lainnya untuk kuliah di Irlandia.
Kontribusi apa yang bisa dilakukan sebagai diaspora Indonesia di Inggris Raya dan Irlandia?
Menurut Pak Desra percaya, para diaspora Indonesia adalah the real ambassador of Indonesia. Karena mereka yang membawa nama Indonesia dimanapun berada selama menempuh pendidikan dan bekerja di luar negeri. Contohnya diaspora Indonesia yang telah membawa nama Indonesia di luar negeri seperti ilmuwan Carina Joe yang terlibat dalam pembuatan vaksin Vaksin AstraZeneca, dan banyak sekali nama diaspora Indonesia lain yang telah mengharumkan nama bangsa dalam keanekaragaman namun tetap satu Indonesia.
Bahkan beberapa etnis Indonesia di Inggris memiliki perkumpulannya masing-masing seperti di acara Banjar Bali yang meresmikan pura pertama di Inggris, perkumpulan etnis Batak di Inggris yang menggelar acara Bonapasogit, pendirian masjid di Inggris oleh Indonesian Islamic Centre (IIC), dan acara khas Indonesia lainnya. Adanya perkumpulan ini akan sangat membantu jika ada diaspora lain yang membutuhkan bantuan. Karena mereka akan saling bantu satu sama lain.
Dengan persatuan dan kesatuan multikultural yang dibawa oleh teman-teman diaspora Indonesia di Inggris, akan membuka mata penduduk setempat bagaimana ‘definisi’ dari Indonesia itu sendiri. Ini sangat berdampak pada citra Indonesia di kacamata dunia.
Pesan Dari Desra Percaya Untuk Para Pelajar Indonesia
Pak Desra Percaya merasa sangat beruntuk mendapatkan banyak kesempatan untuk kuliah di luar negeri. “Kuliah di luar negeri itu yang penting bukan ijazahnya, ya. Tapi portfolio, expertise, skill, network, dan pola sistematika berpikir akan penting sekali. Kalau sudah sekolah di luar negeri, semestinya memiliki kemampuan untuk menyederhanakan permasalahan yang kompleks. Bukan hanya bangga ijazah S2 dan S3 tapi dibuktikan dalam skill.” ungkapnya.
Perbedaan pola belajar mengajar antara Indonesia dan Inggris pun menjadi sorotan. Pelajar di Inggris sangat dimudahkan jika ingin berkonsultasi dengan dosen ataupun supervisor. Dan mereka pun bisa berdiskusi dengan nyaman karena budaya yang lebih egaliter. Hal ini mulai ditularkan ke sistem pendidikan di Indonesia.
Memupuk respek dan rasa hormat kepada para pendidik memang penting, namun jika dipadukan dengan gaya egaliter, maka akan tercipta ruang diskusi yang nyaman dan aman untuk para pelajar. Para pelajar Indonesia pun sebaiknya mulai menanamkan cara berpikir sistematis. Yakni dengan pendekatan ilmiah untuk mempelajari masalah.
Pak Desra Percaya juga menekankan agar para pelajar Indonesia harus bisa membuktikan ucapannya jika berhadapan dengan suatu masalah. “Kalo ngomong, jangan asal ngomong. It has to be based on evidence. Ini sangat penting sekali. Jangan bergantung pada ‘pokoknya-pokoknya’. Bagaimana bisa berdebat dengan sehat kalau begitu? Base on strong argument, argument base on evidence. Itu yang bisa dipelajari disini.”
Kedisiplinan juga menjadi hal penting jika para pelajar Indonesia ingin maju. Pelajar akan dihadapkan dengan banyak deadline, sangat penting untuk menyelesaikan apa yang diminta sebelum deadline berakhir. Jika pelajar tidak bisa patuh dengan satu deadline saja, maka akan berdampak besar terhadap deadline yang lainnya. Hal ini akan berpengaruh dengan bagaimana para pelajar menjaga networking.
Walaupun kuliah di Inggris memiliki banyak manfaat untuk pelajar Indonesia, namun ternyata untuk berkarir di Inggris tidak harus selalu lulusan universitas di Inggris. Terbukti saat Pak Desra Percaya melakukan kunjungan ke kantor Meta di Inggris, disana ada perkumpulan karyawan dari Indonesia sebanyak 18 orang, ternyata tidak semuanya berkuliah di Inggris. Namun ada putra-putri Indonesia yang berasal dari universitas di Indonesia. Ini membuktikan jika di luar negeri sangat penting untuk menunjukan skill yang dimiliki daripada hanya berbangga-bangga dengan ijazah yang ada.
Jadi semua tergantung dari pribadi masing-masing pelajar. Jika kita mampu mengembangkan diri dengan berpikir sistematis dan kritis maka semua pelajar akan bisa berkembang dimanapun mereka menimba ilmu. “Saya selalu percaya, a diamond will always be a diamond dimanapun dia berada,” ucap Pak Desra Percaya. Sangat penting pelajar Indonesia untuk memiliki beberapa karakter seperti:
-
Agile: kemampuan beradaptasi secara lebih aktif dan lincah, sifat agile akan mendorong seseorang untuk selalu mencari cara yang paling sederhana dalam mencari solusi atas suatu masalah.
-
Adaptive: yakni kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
-
Anticipative: cara berpikir untuk mempertimbangkan kemungkinan yang mungkin terjadi dalam pengambilan keputusan atau dalam suatu masalah.
Wah, cerita tentang perjalanan karir Pak Desra Percaya ini bikin makin semangat untuk kuliah di luar negeri gak sih? Terbukti ya jika kita mau membuka wawasan lebih luas lagi, maka kesempatan kita untuk mendapatkan prospek karir yang lebih menjanjikan pun akan terbuka lebar.
Pengen nonton langsung obrolan Pak Desra Percaya dengan tim Hotcourses Indonesia? Kamu bisa cek video berikut ini ya:
Jadi, udah siap untuk merencanakan pendidikan di luar negeri sekarang? Klik banner dibawah ini untuk konsultasi gratis agar sukses mempersiapkan kuliah di luar negeri.