Mengambil langkah besar untuk studi di luar negeri merupakan keputusan yang tidak hanya membawa perubahan dalam karier akademik, tetapi juga pengalaman hidup yang tak terlupakan. Seperti pengalaman berharga yang dialami oleh Nursidah Abdullah, atau yang biasa disapa Nida, seorang mahasiswa Indonesia yang memilih untuk mengejar gelar di bidang Kesehatan Masyarakat (Public Health) di Swansea University, Inggris.
Lewat artikel ini, kita akan mengenal lebih dekat perjalanan Nursidah, mulai dari alasan memilih Swansea University, tantangan yang dihadapi, hingga bagaimana pengalaman ini membentuk dirinya secara profesional dan personal. Mari kita selami kisah inspiratif Nursidah dan temukan insight berharga bagi kamu yang juga bermimpi untuk menuntut ilmu di luar negeri.
Apa yang dibahas dalam artikel ini?
Alasan Nida mengambil kuliah jurusan Public Health
Nida mengakui bahwa sebenarnya pendidikan S1 yang pernah ia tempuh di Universitas Hasanuddin, Makassar, sangat berbeda dengan S2 yang ia ambil ketika kuliah di luar negeri. S1 yang Nida selesaikan di tanah air adalah jurusan Komunikasi, sedangkan S2 yang ia ambil di Swansea University adalah Public Health. Wah, dua jurusan yang sangat berbeda nih, HotCrazers! Kira-kira ada cerita menarik apa ya di baliknya?
Ternyata selesai lulus pendidikan S1, Nida diterima di salah satu instansi pemerintahan dalam bidang Kesehatan Masyarakat hingga bergelut selama 10 tahun. Ketika itu, pekerjaan yang sering Nida temui otomatis selalu berkaitan seputar kesehatan, reproduksi, serta pemberdayaan masyarakat. Hal ini membuat Nida harus selalu mengupdate pengetahuan seputar teori kesehatan yang ada di masyarakat agar bisa memberi edukasi dengan baik. Tuntutan karir inilah yang membuat Nida merasa perlu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di bidang Kesehatan Masyarakat atau Public Health.
Mengenal jurusan Public Health (Kesehatan Masyarakat)
Jurusan Public Health atau Kesehatan Masyarakat sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang kesehatan masyarakat secara menyeluruh, meliputi promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengendalian penyakit, dan manajemen kesehatan masyarakat. Program studi Public Health bertujuan untuk mempersiapkan para ahli kesehatan masyarakat yang mampu merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi program-program kesehatan masyarakat. Siswa juga diberikan kesempatan untuk mengikuti magang atau menjadi sukarelawan, yang akan memberi mereka pengalaman langsung dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari kuliah.
Apa aja sih yang dipelajari dalam jurusan Public Health? Pilihan konsentrasi yang tersedia di Inggris untuk jurusan ini sangat banyak, Hal ini karena sistem pendidikan di Inggris menggabungkan jurusan Kesehatan dengan Social Science. Menurut data yang diambil dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, program studi Public Health di Indonesia memiliki kurikulum yang lebih fokus pada bidang ilmu kedokteran dan kesehatan, sedangkan di luar negeri lebih fokus pada bidang kesehatan masyarakat dan ilmu sosial.
Swansea University sendiri menawarkan program studi Public Health yang sangat berkualitas, mengakomodasi kebutuhan mahasiswa dengan berbagai pilihan, termasuk PhD dan MPhil. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman riset yang mendalam dengan fokus pada kontribusi terhadap kesehatan, kesejahteraan sosial, dan kemakmuran komunitas baik di Wales Selatan maupun secara global. Selain itu, Swansea University juga menyediakan jalur Pre-Master dalam Public Health and Management, menawarkan kesempatan untuk mengejar gelar Master seperti Healthcare Management MSc, Public Health and Health Promotion MSc, serta Health Informatics MSc. Program ini dirancang untuk memperkuat keterampilan akademis dan komunikasi, mempersiapkan mahasiswa untuk tantangan studi pascasarjana.
Kenapa Nida memilih Swansea University?
Ketika melanjutkan pendidikan S2 Public Health di Swansea University, Nida mengambil konsentrasi Public Health & Health Promotion. Alasan Nida memutuskan untuk kuliah di Swansea University karena, universitas ini termasuk kedalam jajaran 10 besar universitas terbaik dunia untuk jurusan Public Health & Health Promotion. Selain itu, ada satu modul yakni Public Health Practice yang membuat Nida tertarik karena jika telah menyelesaikan modul tersebut, maka siswa bisa langsung mengikuti ujian menjadi Public Health Profesional di Inggris. Kesempatan inilah yang tidak Nida temukan di universitas lain di Inggris.
Selain pertimbangan kualitas universitas, alasan lain Nida memilih Swansea University adalah karena universitas ini terletak di kota Swansea, Wales yang lebih tenang dibanding kota besar di Inggris. Dengan lokasi pinggir pantai yang jauh dari hiruk pikuk kota, sangat cocok untuk mengistirahatkan pikiran dari tuntutan tugas kuliah yang cukup menyita waktu. Meskipun jarak tempuh ke kota London cukup jauh, kurang lebih 3 jam, namun ini malah menjadi nilai tambah buat Nida.
“Menurutku Swansea itu kayak Bali-nya Indonesia. Kota kecil, kalem, penduduknya ramah, kemana-mana bisa naik sepeda. Kemana-mana tuh deket, pulang malem juga aman. Apalagi disana tuh makanan halal dan masjid juga banyak, bahkan bulan Ramadhan aku gak pernah beli makan karena kampus menyediakan sahur dan buka puasa,” ujar Nida.
Wah, keren banget ya HotCrazers!
Kuliah di Swansea University Dengan Beasiswa
Gimana sih caranya bisa kuliah di Swansea University? Banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk mengejar mimpi kuliah di luar negeri. Salah satunya adalah dengan mengikuti beragam beasiswa yang akan membantu finansial siswa internasional. Hal inilah yang dilakukan oleh Nida. Demi mewujudkan rencananya untuk kuliah di luar negeri, Nida mencari beasiswa yang cocok untuknya. Akhirnya Nida mendapatkan informasi seputar beasiswa Chevening yang tidak memiliki batasan umur untuk para pelamarnya. Tidak ragu lagi, Nida pun langsung mendaftar beasiswa ini.
Inggris memang menjadi negara tujuan Nida kala itu karena untuk jenjang post-graduate, siswa hanya membutuhkan waktu 1 tahun belajar. Ini sangat membantunya yang tidak bisa terlalu lama meninggalkan karirnya di Indonesia. Jadi beasiswa Chevening dirasa cocok untuk kebutuhannya saat itu.
Proses aplikasi beasiswa Chevening juga tidak rumit, karena awal pendaftaran tidak membutuhkan banyak administrasi. Hanya saja, jika kamu ingin mendaftar beasiswa ini, kamu harus yakin dan tahu apa alasanmu mendaftar ke universitas tersebut dan apa tujuannya. Karena ini menjadi salah satu penilaian.
Sayangnya ketika Nida mendapat panggilan untuk interview, pandemi Covid 19 muncul melanda seluruh dunia. Akhirnya wawancara beasiswa dilakukan secara online, selang 1 bulan setelah itu, Nida pun mendapatkan notifikasi jika ia berhasil lulus tahap wawancara beasiswa tersebut. Namun, kendala kembali terjadi ketika Nida harus mengumpulkan sertifikat IELTS. Dengan kondisi Covid 19 masih melanda, tidak ada tempat ujian yang beroperasi. Untungnya, pihak Chevening dan Swansea University mau memaklumi kondisi tersebut. Nida pun tidak henti membangun komunikasi dengan mereka. Ketika itu, hampir seluruh penerima beasiswa Chevening di tahun tersebut tidak bisa mengumpulkan sertifikat IELTS yang dibutuhkan, hingga akhirnya pihak universitas memberikan sebuah solusi yaitu dengan mengikuti The Swansea University English Language Test (SWELT). Proses test ini berlangsung cepat, sekitar 2 hari. Ketika hasil test sudah keluar, dengan cepat Nida langsung submit sertifikat yang dibutuhkan agar bisa berangkat ke Inggris untuk menjalani beasiswa Chevening di Swansea University.
“Aku berangkat tepat 1 bulan sebelum UK totaly lockdown,” ungkap Nisa dalam sesi wawancara dengan tim Hotcourses Indonesia. Waah, pengalaman yang menarik banget ya, HotCrazers!
Perlu diingat, kebijakan kampus dalam menghadapi situasi tak terduga tentu berbeda-beda ya HotCrazers. Jadi memang sangat penting membangun komunikasi yang baik dengan pihak universitas dan pemberi beasiswa seperti apa yang dilakukan Nida.
Pengalaman Unik Selama Kuliah di Swansea University
Berangkat menempuh pendidikan di tengah pandemi yang melanda dunia tentu adalah semua pengalaman langka dan cukup menegangkan. Namun ternyata hal ini justru menguntungkan Nida sebagai siswa Public Health. Karena karena pandemi itulah, Nida jadi belajar bagaimana Inggris menjadi negara pertama yang mengambil keputusan untuk menyebar vaksin Covid 19. Jadi dari permasalahan dunia itu, Nida belajar bagaimana Inggris mengambil langkah-langkah cepat dan tepat untuk mengatasi krisis dan pandemi.
Di awal pandemi, perkuliahan tentu dilakukan secara online. Namun karena Inggris memiliki penanganan yang cepat terhadap krisis dan pandemi, jadi ketika masuk semester kedua siswa sudah bisa merasakan kelas offline.
Memutuskan untuk kuliah di Inggris sebenarnya bukan hal yang mudah bagi Nida. Karena ditengah pandemi tentu daya juang siswa internasional akan sangat ditempa. Dalam kondisi biasa tanpa pandemi saja kuliah di luar negeri dengan berbagai kesibukan dan adaptasi sudah cukup melelahkan siswa internasional, apalagi di tengah kondisi dan krisis dunia seperti itu.
“Aku berangkat kuliah ke Inggris dengan seribu satu macam pertanyaan dan kekhawatiran. Apalagi takut banget kalo sampai kuliahnya gak selesai,” kenang Nida. Namun ketika sudah tiba disana, ternyata ada sesi orientasi di kampus yang menjabarkan seluruh kegiatan akademik dan kurikulum yang akan dijalani siswa. Hal ini membuat Nida merasa ia akan bisa menjalani kegiatan perkuliahan dengan baik. Pihak kampus pun memberikan keyakinan kepada siswanya untuk mengikuti jadwal dan arahan kampus dengan baik agar bisa lulus tepat waktu.
Tidak hanya itu, berbagai departemen di kampus pun siap membantu mahasiswa dalam proses belajar mengajar. Karena Swansea University memiliki layanan untuk membantu siswa yang kesulitan dalam belajar. Ada lembaga konsultasi di kampus yang bisa membantu siswa yang merasa kesulitan dalam menyelesaikan tugas atau belum bisa beradaptasi di awal perkuliahan.
“Selama kita mengikuti modul handbook nya mereka, kita mengikuti jadwal dari mereka, tidak menunda kumpul tugas, bebannya akan terasa jauh lebih terukur.” ucap Nida yang pada akhirnya merasa terbantu dengan sistem yang telah disiapkan oleh Swansea University untuk siswa mereka.
Sekarang setelah lulus kuliah, Nida tentu mencoba untuk mengimplementasikan apa yang telah ia pelajari di Inggris kedalam lingkup kerja di institusi yang sekarang ia geluti. Kebetulan di institusi tempat Nida bekerja, memang ada tuntutan untuk mempresentasikan hasil belajar yang dia lakukan selama di luar negeri. Diawali dengan lingkup internal institusi, hingga akhirnya Nida diberikan kesempatan untuk membagi ilmunya di Konferensi Populasi Internasional. Indonesia kini sedang digalakan besar-besaran pencegahan stunting pada 1000 hari pertama kehidupan pada anak, berbekal ilmu yang Nida miliki, Nida mencoba untuk membuat proyek beberapa kebijakan seperti dukungan konsultasi berpasangan antara suami dan istri dan persiapan menjadi orang tua terutama untuk para ayah, hal ini akan berpengaruh untuk pencegahan stunting pada anak di Indonesia. Terutama untuk pasangan-pasangan muda yang menjadi kelompok rentan karena kurangnya pengetahuan tentang upaya penurunan resiko stunting pada anak. Proyek ini Nida lakukan di tempat ia bekerja sekarang di Kalimantan Utara, berdasarkan rekomendasi dari disertasi yang telah ia selesaikan.
Keahlian Yang Terasah Selama Kuliah di Luar Negeri
Kuliah di luar negeri memang banyak memberikan pengalaman tersendiri untuk siswa internasional. Tidak hanya mengejar kemampuan akademis, namun keahlian lain pun akan terasah ketika kamu kuliah di luar negeri. Seperti yang dialami oleh Nida, selama kuliah di luar negeri ada beberapa kemampuan yang semakin berkembang seperti public speaking dan writing. Karena kedua hal itu adalah kemampuan dasar yang harus terus dikembangkan ketika kamu ingin kuliah di luar negeri.
Selain itu, kuliah S2 di Inggris sangat mempengaruhi perkembangan karir Nida sebagai seorang profesional Public Health. Tidak hanya jenjang karir di kantor saja, pendidikan S2 di Inggris juga membantu personal branding secara profesional di luar kantor. Contohnya saja, Inggris akan membiayai beberapa global health research dari negara-negara berkembang dalam International Funding Global Health Research, dalam kegiatan ini Nida terpilih menjadi committee member yang menyeleksi semua proposal yang masuk dari seluruh dunia. Jadi walau sekarang Nida fokus dengan pekerjaannya sebagai seorang ASN, namun kesempatan emas menjadi committee member tersebut juga datang dan bisa menambah pengalaman Nida dalam bidang public health.
Gimana caranya sih bisa dilirik oleh institusi internasional seperti Nida? Berikut tips yang bisa Nida berikan:
“Jadi aku tuh memang ambis banget, aku tau passion aku disini, jadi itu yang membuat aku terus mencari kesempatan baik,”
Ketika kuliah, Nida gak cuma sekedar kuliah biasa aja nih HotCrazers, namun ia juga bekerja sebagai Student Ambassador. Nah, dengan hubungan baik yang dijalin ketika masih kuliah hingga sekarang menjadi alumni, jadi ketika pihak Swansea University memiliki kesempatan emas untuk bisa mengembangkan diri di ranah global, Nida langsung mendapat informasi-informasi tersebut baik dari mailing list sebagai alumni atau dari sosial media kampus. Nida juga tergabung dalam komunitas alumni Swansea University yang sering berbagi informasi tentang kesempatan emas di luar negeri. Bahkan Swansea University juga memberikan bantuan kepada para alumni yang membutuhkan bantuan dana membangun start up atau membutuhkan bantuan melamar kerja disana. Biasanya hingga 2 tahun setelah lulus, pihak kampus masih aktif memberikan berbagai informasi untuk para alumninya.
Wah, ini menjadi bukti bahwa kuliah di luar negeri dan aktif selama masa perkuliahan bisa membuka jejaring internasional untuk pengembangan diri dan karir ya, HotCrazers!
Kini Nida sedang ingin mendalami kemampuan untuk menjadi peneliti. Karena ia merasa isu tentang kesehatan di Indonesia dan di dunia sangat banyak dan belum banyak terekspos di Indonesia. Seperti hubungan kesehatan dengan faktor iklim, lalu kesehatan dan kelompok rentan khususnya para penyandang disabilitas. Dengan mimpinya ini, Nida berencana meneruskan pendidikan S3 nya agar kesempatan menjadi peneliti semakin terbuka lebar.
Tonton wawancara Hotcourses dengan Nida dan pengalamannya apply Beasiswa Chevening!
Tips Menentukan Kuliah di Luar Negeri
Bagi HotCrazers yang ingin kuliah di luar negeri tapi masih bimbang dalam menentukan jurusan kuliah, tips dari Nida berikut bisa membantu kamu nih!
-
Tentukan minat terlebih dahulu, dengan mengetahui minat dan bakat yang kamu miliki, maka kamu bisa melakukan riset yang mengerucut tentang jurusan kuliah yang mendekati minat dan bakat yang kamu miliki.
-
Bandingkan satu negara dengan yang lain, jika kamu sudah menemukan minat jurusan yang akan kamu tuju, langkah selanjutnya adalah mencari negara mana yang paling unggul dalam jurusan tersebut. Seperti Nida yang memilih Inggris karena negara tersebut sangat unggul dalam bidang kesehatan.
-
Cari sistem pendidikan yang membuka jalan peluang karir yang lebih baik, misalnya saja di Inggris hanya membutuhkan waktu 1 tahun untuk menyelesaikan S2, tentu ini akan sangat menguntungkan siswa karena bisa kembali lagi bekerja setelah selesai menempuh pendidikan.
-
Cari negara yang paling kamu kuasai bahasanya. Dengan begitu, kamu akan lebih mudah dalam melakukan riset berbagai universitas yang tersedia.
Wah, menyimak pengalaman Nida, kayaknya menarik banget gak sih kuliah di Swansea University? Nah, buat kamu yang ingin mendaftar atau mencari lebih lanjut tentang universitas ini, bisa langsung aja nih hubungi konsultan pendidikan Hotcourses Indonesia untuk membantu mu mempersiapkan rencana pendidikan ke luar negeri.
Daftar konsultasi untuk kuliah ke Inggris atau negara lainnya dengan IDP Education sekarang juga!