Kamu sedang tertarik kuliah S2 di Inggris dan mengambil jurusan yang tidak linier dengan program S1? Bisa banget! Salah seorang mahasiswa asal Indonesia, yakni Mita Mita Andary yang akrab disapa Mita adalah salah satu yang sukses diterima di kampus ternama di Inggris lewat beasiswa LPDP.
Bagaimana perjalanan Mita hingga bisa meneruskan studi ke jenjang Master of Letters dalam bidang Environment, Culture, and Communication di University of Glasgow? Yuk simak pengalaman Mita di artikel ini!
1. Perjalanan Mencari Jurusan Studi S2 Impian
Bagi banyak orang, memilih jurusan kuliah adalah sebuah keputusan besar yang akan menentukan jalan hidup mereka. Begitu juga bagi Mita, yang menginginkan sebuah jurusan yang bisa menggabungkan berbagai disiplin ilmu.
"Di Indonesia, jurusan yang menggabungkan isu lingkungan, budaya, dan komunikasi itu jarang sekali ditemukan. Biasanya, masing-masing bidang itu terpisah, misalnya studi lingkungan dengan jurusan lingkungan, budaya dengan antropologi, dan komunikasi dengan jurnalistik," jelas Mita.
Mita merasa bahwa dia butuh sesuatu yang lebih multidisipliner karena minatnya yang luas. Sebagai lulusan di bidang kehutanan, dia menyadari bahwa untuk menangani isu-isu lingkungan yang semakin kompleks, perlu ada pendekatan yang melibatkan berbagai aspek, termasuk budaya dan komunikasi.
"Saya ingin mempelajari bagaimana cara mengkomunikasikan isu-isu besar seperti perubahan iklim dan kerusakan lingkungan agar bisa dipahami oleh orang banyak. Terkadang, masalah lingkungan disampaikan dengan bahasa yang sangat teknis dan susah dimengerti orang awam. Itu yang saya ingin perbaiki," tambahnya.
2. Motivasi yang Mendorongnya Memilih Program Master of Letters
Mita mengungkapkan bahwa salah satu tujuan besar dari melanjutkan studi adalah untuk mempelajari cara menyampaikan informasi tentang isu lingkungan yang mudah dipahami oleh masyarakat luas.
"Di Indonesia, banyak orang yang tidak paham dengan istilah-istilah teknis dalam isu lingkungan. Saya ingin belajar cara yang lebih sederhana untuk menjelaskan masalah-masalah ini," ujarnya.
Mita juga merasa bahwa dia bisa lebih berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya pelestarian alam. Pengalaman bekerja sebagai asisten peneliti di Universitas Hasanuddin membuatnya semakin percaya bahwa komunikasi adalah kunci untuk menyampaikan penelitian ilmiah ke masyarakat luas, tidak hanya di kalangan akademis.
3. Mengapa Memilih University of Glasgow?
Saat ditanya mengapa memilih University of Glasgow, Mita menjelaskan bahwa awalnya dia juga mempertimbangkan beberapa universitas lain di Eropa dan UK, termasuk sebuah universitas di Swedia. Namun, ada beberapa kendala terkait timeline pendaftaran dan beasiswa yang membuatnya batal melanjutkan rencana tersebut.
"Saya sempat daftar di Swedia, tapi ada masalah dengan waktu yang tidak cocok dengan pekerjaan saya, dan beasiswanya juga belum tersedia waktu itu," katanya.
Mita kemudian mencari program yang lebih sesuai dengan tujuannya. Banyak universitas di UK menawarkan program serupa, namun mereka lebih terfokus pada satu disiplin ilmu yang sangat spesifik, seperti komunikasi sains atau komunikasi medis.
"Program-program itu lebih cocok untuk mereka yang ingin mendalami komunikasi dalam konteks medis atau kesehatan, sedangkan saya ingin jurusan yang lebih luas dan bisa mencakup isu-isu sosial dan lingkungan," jelasnya.
Akhirnya, Mita menemukan bahwa University of Glasgow menawarkan School of Interdisciplinary Studies, yang memberikan program studi yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu.
"Itu yang saya cari. Mereka punya program yang menggabungkan lingkungan, budaya, dan komunikasi dalam satu program studi," katanya.
Meskipun nama sekolah tersebut kemudian berubah menjadi School of Social and Environmental Sustainability, Mita tetap merasa bahwa program ini adalah pilihan yang tepat untuknya. "Modul-modul yang mereka tawarkan sangat menarik dan sesuai dengan apa yang saya ingin pelajari," tambahnya.
Highlight tentang University of Glasgow
-
Tahun Didirikan: 1451
-
Lokasi: Glasgow, Skotlandia
-
Anggota Universitas 21: Jaringan institusi penelitian internasional
-
Peringkat Dunia:
-
ARWU 2024: Peringkat 101
-
QS 2025: Peringkat 78
-
THE 2025: Peringkat 87
-
-
Program Studi: Lebih dari 600 program (S1, S2, S3)
-
Lulusan: 95,9% diterima bekerja atau melanjutkan pendidikan dalam waktu 12 bulan setelah kelulusan
-
Biaya Kuliah per Tahun:
-
S1: £20.552
-
S2/S3: £26.472
-
-
Biaya Hidup dan akomodasi:
-
Biaya Hidup: £12.580 per tahun
-
Biaya Tinggal di Kampus: £4.993 per tahun
-
-
Beasiswa:
-
Undergraduate Excellence Scholarship: Potongan £5.000 per tahun untuk mahasiswa internasional dengan prestasi tinggi.
-
University International Leadership Scholarship: Potongan £10.000 untuk mahasiswa S2 internasional dengan prestasi akademik tinggi.
-
4. Proses Pendaftaran yang Lancar dengan Bantuan IDP
Proses pendaftaran kuliah di luar negeri memang bisa jadi sangat rumit, apalagi jika kamu sibuk bekerja dan tidak punya banyak waktu. Namun, bagi Mita, bantuan dari IDP Indonesia sangat memudahkan proses pendaftaran ke University of Glasgow.
"Saya merasa sangat terbantu dengan adanya IDP. Mereka membantu banyak dalam proses administrasi, dari pendaftaran, tes IELTS, hingga penerjemahan transkrip dan ijazah," ungkapnya.
Namun, meskipun dia mendapatkan bantuan dari IDP, Mita tetap mengurus sebagian besar pendaftaran secara langsung. "Saya tetap ingin mengurus personal statement dan beberapa persyaratan lainnya sendiri. Saya merasa itu adalah bagian penting dari proses," katanya.
Salah satu langkah ekstra yang dilakukan Mita adalah mengirim email langsung ke koordinator program di University of Glasgow. "Saya merasa ini sangat penting. Saya ceritakan latar belakang saya, kenapa saya memilih program ini, dan tujuan saya. Dua minggu kemudian saya mendapat balasan yang mengonfirmasi bahwa aplikasi saya diterima," katanya.
5. Tantangan Mendapatkan Beasiswa: LPDP sebagai Kunci
Salah satu tantangan terbesar dalam melanjutkan studi ke luar negeri adalah masalah pendanaan. Mita berbagi pengalamannya mendapatkan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).
"Sebenarnya, saya gagal pada percobaan pertama. Namun, saya tidak menyerah dan mendaftar lagi pada kesempatan kedua. Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil mendapatkan beasiswa LPDP," ujarnya.
Mita memberi tips penting bagi mereka yang ingin mendapatkan beasiswa, "Jika kamu sudah mendapat Letter of Offer (LOE) dari universitas, itu akan sangat membantu dalam proses pendaftaran beasiswa. Dengan LOE, kamu bisa lebih fokus saat wawancara beasiswa tanpa khawatir soal pengurusan dokumen-dokumen lainnya."
6. Tantangan Budaya dan Sistem Pendidikan di UK
Begitu tiba di UK, Mita merasakan perubahan yang cukup signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan Indonesia yang selalu ramai, suasana di Dumfries benar-benar memberikan culture shock bagi Mita.
"Saya tinggal di Dumfries, yang jauh lebih sepi dibandingkan dengan Glasgow yang ramai dan multikultural. Di Dumfries, jam 8 malam saja sudah sangat sepi. Semua toko tutup dan orang-orang sudah beristirahat," ceritanya.
Selain perbedaan gaya hidup, Mita juga menghadapi perubahan besar dalam sistem pendidikan. "Di banyak kampus luar negeri, tugas yang diberikan biasanya berupa esai, tetapi di Glasgow saya juga mendapat tugas kreatif seperti membuat film atau pameran seni. Ini jauh lebih menarik dan menantang," katanya.
Selain itu, Mita juga merasakan betapa transparannya sistem penilaian di UK. "Dosen selalu memberikan feedback yang sangat rinci. Jadi, saya tahu dengan jelas apa yang perlu saya perbaiki," ujarnya. Walaupun ada perbedaan dalam cara pengajaran, Mita merasa sistem ini membantunya lebih berkembang.
7. Tantangan Bahasa dan Aksen Skotlandia
Tantangan lain yang dihadapi Mita adalah perbedaan aksen antara bahasa Inggris yang digunakan di UK dengan bahasa Inggris yang biasa didengar di Indonesia. "Aksen Skotlandia itu cukup berbeda. Kadang, kata-kata yang saya dengar tidak sesuai dengan yang saya bayangkan, dan itu membuat saya agak bingung," ungkapnya.
Untuk mengatasi tantangan ini, Mita dan teman-teman internasional lainnya sering meminta dosen untuk berbicara lebih pelan dan jelas. "Walaupun kami sudah mempersiapkan materi sebelumnya, kadang tetap ada momen di mana kami merasa kehilangan konteks," katanya.
8. Pesan Mita untuk Calon Mahasiswa Internasional
Melalui semua tantangan tersebut, Mita merasa bahwa pengalaman kuliah di luar negeri sangat memperkaya dirinya. "Saya belajar banyak tentang diri saya sendiri dan tentang cara melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Adaptasi memang tidak mudah, tapi itu yang membuat saya semakin berkembang," ujarnya.
Mita pun memberikan pesan penting bagi calon mahasiswa internasional yang merasa ragu atau khawatir: "Jangan takut untuk beradaptasi dan jangan ragu untuk bertanya. Walaupun awalnya sulit, pengalaman ini akan membuat kita lebih kuat dan siap menghadapi tantangan yang lebih besar."
Penutup
Perjalanan Mita Andary menunjukkan bagaimana dengan tekad, kesiapan untuk belajar, dan semangat untuk terus beradaptasi, berbagai tantangan kuliah di luar negeri bisa dilalui dengan baik. Dari memilih jurusan yang tepat, mengatasi perbedaan budaya, hingga mendapatkan beasiswa, Mita terus berusaha dan berkembang. Siapa tahu, kisah inspiratif ini bisa menjadi motivasi untuk kamu yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri!
Ingin mengikuti jejak Mita kuliah S2 di Inggris? Yuk baca berbagai panduan persiapan studi ke luar negeri dan dapatkan bimbinginan dari konselor kami!