Informasi penting
Study abroad: Kehidupan Pelajar

Dari Flores ke Singapura: Menemukan Rumah Kedua

share image
81

Perkenalkan Inggrid, peneliti muda asal Flores yang menemukan passion nya melalui 7 tahun petualangan mengelilingi dunia (Thailand, Singapura, Inggris). Doa dan usaha membantu Inggrid menggapai cita-cita. Inggrid adalah ASEAN Scholar yang sekarang sedang menempuh studi di Nanyang Technological University (NTU) dan sedang melaksanakan program penelitian di London dengan CN Yang Scholars Program. Berikut Inggrid dengan ceritanya — Pengalaman sekolah di Singapura selama tujuh tahun: menemukan rumah kedua.

 

Namaku Inggrid, saat ini aku menduduki tahun ketiga di Nanyang Technological University di program studi Environmental Earth Systems Science. Melalui tulisan ini aku ingin berbagi cerita dan pengalaman aku bersekolah di Singapura selama tujuh tahun. Selamat membaca!

 

 

Aku lahir di Ruteng, sebuah kota kecil di Flores, Nusa Tenggara Timur. Setelah tamat SD di Ruteng, aku pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan SMP. Menjelang ujian nasional SMP, aku kebetulan melihat iklan di koran mengenai ASEAN Scholarships: sebuah program beasiswa untuk siswa tamat SMP yang mau belajar di Singapura selama 2 tahun di secondary school dan 2 tahun di Junior College (lucunya, sekarang foto aku dipakai untuk iklan beasiswa ini). Awalnya aku dan beberapa teman iseng mendaftar. Tanpa disangka, kami lolos seleksi tingkat pertama. Kami lalu diundang untuk mengikuti tes seleksi lebih lanjut yang mencakup aptitude test, Bahasa Inggris, matematika, serta wawancara. Saat aku mendapat kabar bahwa aku berhasil mendapatkan beasiswa ini, aku awalnya ragu. Saat itu usia aku sekitar 15 tahun – apakah aku mampu hidup jauh dari keluarga di negara orang di usia semuda ini? Pindah dari Flores ke Yogyakarta saja sudah cukup menakutkan. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk menerima beasiswa ini – dan di sinilah petualangan aku dimulai.

Di Singapura aku mulai belajar di CHIJ Secondary School, sebuah sekolah putri. Ini pertama kalinya aku belajar di sekolah putri – awalnya aneh tapi lama-kelamaan seru juga (and the uniform is so cute!). Saat itu aku tinggal di asrama bersama teman-teman dari negara ASEAN lainnya. Kehidupan di asrama ternyata sangat asyik – makan mie instan bareng di tengah malam, merayakan ulang tahun satu sama lain, curhat sepanjang malam, dan belajar bersama tentunya. Teman sekamar aku saat itu berasal dari Thailand, maka aku harus selalu menggunakan Bahasa Inggris. Sebelumnya aku hampir tidak pernah menggunakan Bahasa Inggris, kecuali saat mata pelajaran Bahasa Inggris di SMP yang tentu saja tidak cukup. Oleh karena itu, pengalaman sekamar bersama orang asing benar-benar melatih kemampuan Bahasa Inggris aku yang saat itu masih amburadul. Meskipun Bahasa Inggris aku semakin membaik, aku tetap mengalami kesulitan dalam mempelajari materi sekolah yang membutuhkan critical thinking. Contohnya, dalam mata pelajaran social studies kami harus mengkritik dan menganalisa agenda politik artikel berita – hal yang baru dan sukar bagi aku.

 

Maria Irene Inggrid Pengalaman Sekolah di Singapura 1

Bersama teman-teman di CHIJ

 

Selain dari tantangan akademis, aku juga mengalami culture shock dan homesickness. Sering kali aku menyesali keputusan aku untuk bersekolah di Singapura. aku juga mulai rindu makanan dan jajanan Indonesia (nothing beats the heavenly martabak!). Untungnya ada banyak teman senasib yang berbagi pengalaman ini. Di tengah tangisan putus asa, teman-teman aku memberikan dukungan dan motivasi untuk berjuang di negara singa.

 

 

Dua tahun di CHIJ adalah dua tahun terberat aku di Singapura dengan berbagai tantangan baru apalagi di usia yang sangat muda. Setelah lulus dari CHIJ, aku bersekolah di Catholic Junior College. Di sinilah aku menemukan ketertarikan aku pada ilmu geografi yang membuat aku memutuskan untuk mengambil program studi Environmental Earth Systems Science (EESS). Di sini jugalah aku makin merasa betah di Singapura karena kebanyakan teman sekolah aku adalah orang Singapura. Homesickness aku juga semakin berkurang (walaupun rindu aku kepada martabak masih belum berkurang).

Setelah tamat dari Catholic Junior College, aku dihadapi pilihan untuk melanjutkan kuliah di Singapura, di negara lain, atau kembali ke Indonesia. aku memutuskan untuk tetap di Singapura karena selain aku merasa semakin ¬attached dengan negara ini, aku juga berhasil mendapat beasiswa ASEAN Undergraduate Scholarship di Nanyang Technological University (NTU). Beasiswa ini menanggung biaya kuliah secara penuh untuk mahasiswa dari negara ASEAN. Selain itu, aku sangat tertarik kepada program studi EESS di NTU khususnya spesialisasi geoscience. Di sini aku tidak hanya belajar tentang batu (surprise, surprise!) tapi juga aspek bumi lainnya seperti iklim, air, tanah, ekologi, dan bahkan sosiologi. Melalui program studi ini aku menemukan banyak like-minded individuals. Karena jumlah pelajarnya juga sangat sedikit – angkatan aku hanya ada 32 orang – kami juga menjadi sangat akrab. Belajar di sini meyakinkan aku tentang passion aku dalam ilmu geoscience.

 

Maria Irene Inggrid Pengalaman Sekolah di Singapura

Karyawisata geoscience ke Gunung Batur

 

 

aku juga mengikuti program CN Yang Scholars Programme. Berkat program ini, aku diberikan kesempatan untuk mendalami dunia riset. Selain mendapat pelatihan tentang cara menulis academic paper, aku juga mendapat kesempatan untuk menjalani research attachment di mana aku melakukan riset secara mandiri di bawah bimbingan seorang profesor. Program ini juga memberikan kesempatan untuk melakukan final year project (FYP) di luar negeri. Saat aku menulis artikel ini, aku sedang menjalani riset di London di bawah bimbingan seorang profesor dari Birkbeck, University of London.

Di NTU aku tinggal di salah satu dari 24 asrama di NTU bernama Pioneer Hall. Kehidupan di asrama walaupun ada dukanya (inconsiderate neighbours alert!) tapi banyak juga sukanya. Di asrama ini aku mengikuti grup a capella dan tim basket putri. Di asrama ini aku bertemu sahabat-sahabat aku and we have loads of fun dari masak dan makan bersama, main boardgames, hingga sleepover!

 

 

Ini adalah tahun ketiga aku di NTU, yang artinya sudah tujuh tahun aku meninggalkan Indonesia untuk tinggal di Singapura. Di negara inilah aku berkembang dan belajar tentang diri aku sendiri. Di negara inilah aku belajar dan menemukan passion aku. Di negara inilah aku menemukan persahabatan. Tujuh tahun yang sungguh cepat. Tujuh tahun yang penuh berkat.

 

IMG-20181221-WA0055

Foto di Peak District National Park, United Kingdom

 

Akhir kata, aku sangat bersyukur telah tinggal di Singapura selama ini. aku bukan lagi betah di negara ini – Singapura sudah menjadi rumah kedua aku. Para diaspora lainnya mungkin bisa relate dengan pengalaman aku. aku harap kisah aku ini telah menghibur dan bermanfaat bagi para pembaca yang mungkin tertarik untuk belajar di luar negeri.

 

BACA JUGA

10 UNIVERSITAS TERBAIK DI SINGAPURA

BIAYA KULIAH DI SINGAPURA

3 UNIVERSITAS INTERNASIOANL TERBAIK DI UK

KULIAH TEKNIK LINGKUNGAN DI CINA DENGAN BAHASA INGGRIS

 

Source:

Article originally published in www.indonesiamengglobal.com 'A non-profit website for Indonesians aspiring to study and or pursue professional opportunities abroad'.

 

Mencari jurusan

Pilih negara
JenjangPendidikan*
TENTANG PENULIS

author image

Misi kami adalah untuk membantu pelajar Indonesia meraih mimpi kuliah ke luar negeri melalui artikel-artikel informatif dan layanan konsultasi gratis dari IDP. Come say hi to our social media!