Informasi penting
Study abroad: Kehidupan Pelajar

KULIAH S2 DI USIA 40 - TIDAK KATA TERLAMBAT UNTUK MENUNTUT ILMU

share image
285

Di awal perjalanan S2 nya di Nanyang Technological University, In Singapore, Imanuddin Razak menghadapi beberapa kendala menyesuaikan kehidupan kembali menjadi mahasiswa. Namun dengan pengalaman profesional dan kemahirannya dalam ber-networking ia mampu kembali fokus dalam mengejar impian bertahun-tahun ini.

 

Sebenarnya tidak ada yang super spesial dengan cerita bagaimana saya mendapatkan gelar sarjana S2. Cerita saya lebih ke bagaimana pria paruh baya mantan jurnalis dari koran Bahasa Inggris The Jakarta Post yang berbasis di Jakarta- mendapatkan kesempatan untuk menjalani S2 dengan jurusan Strategic Studies at the S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Program ini hanya satu tahun saja, berbeda dengan jurusan lain yang biasanya memakan waktu 1,5 sampai 2 tahun.

 

 

Pada awalnya saya berhasil terdaftar untuk menjadi mahasiswa NTU untuk program tersebut setelah dinyatakan lulus dari beberapa persyaratan di awal tahun akademis 2013 untuk menjalani program periode tahun 2013-2014. Namun ternyata saya dan istri saya bisa berangkat haji ke Mekkah pada bulan September tahun itu. Karena itu saya memutuskan untuk menunda program sarjana S2 ini sampai tahun berikutnya, dan saya bersyukur permintaan ini diperbolehkan oleh RSIS.

 

My job as a journalist allows me to meet and interview many people, including Minister of Marine Affairs and Fisheries Susi Pudjiastuti

Pekerjaan saya sebagai jurnalis memberikan saya kesempatan untuk bertemu dan mewawancarai banyak orang termasuk Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, ibu Susi Pudjiastuti

 

Awal yang Sulit

Cerita mengenai perjalanan sarjana S2 saya membuktikan bahwa tidak ada proses yang mulus atau mudah karena banyaknya rintangan yang saya hadapi. Dua minggu sebelum saya terbang ke Singapura, saya masuk rumah sakit karena demam berdarah. Padahal saat itu saya harus menyelesaikan urusan administrasi ke NTU dan RSIS sebelum memulai kelas pada Agustus 2014. Saya baru bisa terbang ke Singapura akhir Juli 2014 walaupun sebenarnya saya masih dalam kondisi pemulihan. Sulit rasanya menyelesaikan segala keperluan administratif yang memerlukan saya berpindah tempat dari satu area ke area lain di kampus NTU yang terbilang tidak dekat satu sama lain apalagi untuk orang yang baru saja keluar dari rumah sakit. Semua proses saya lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Apalagi saya juga belum familiar dengan kampus NTU karena saat itu saya belum sempat melakukan kampus tur sebelumnya. Hari itu lah pertama kalinya saya ke kampus dan harus menyelesaikan seluruh kewajiban administrasi.

Berada dalam situasi seperti ini, mengingatkan pada satu peribahasa Malu bertanya, sesat di jalan. Jadilah saya bertanya arah ke semua orang baik mahasiswa, staf, bahkan orang asing yang sekiranya tahu tentang area kampus.

Selain itu juga salah satu masalah lain adalah mencari tempat tinggal diluar kampus NTU selama satu tahun ajaran karena saya sudah terlambat untuk mendapatkan akomodasi mahasiswa.

Untungnya saya punya teman orang Indonesia yang sedang bekerja di Singapura, yang kebetulan dulunya adalah teman kerja di perusahaan Jepang di pulau Batam dekat dengan Singapura. Dia yang memberi tahu ada kamar yang masih available untuk disewa.

 

 

Singkatnya saya berhasil menyelesaikan kewajiban administratif dan juga mendapatkan akomodasi sebelum periode semester dimulai. Namun, tantangan sebenarnya baru dimulai. Tidaklah mudah menjadi mahasiswa internasional untuk beradaptasi dengan sistem pengajaran di minggu-minggu awal.

 

Menjadi Mahasiswa Sekali Lagi

Saya belum terbiasa dengan kehidupan kampus di Singapura, terutama di NTU atau RSIS. Saya memerlukan beberapa minggu untuk akhirnya bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Umur juga bisa dibilang salah satu tantangan selanjutnya: Saya sudah menginjak 40 tahun saat memulai semester pertama di RSIS dan tidak bisa dipungkiri bahwa daya tangkap saya dalam memahami program the Strategic Studies lebih lambat dibanding teman-teman sekelas yang seumuran dengan anak laki-laki bungsu saya.

Namun jika dibandingkan dengan yang lain,  saya memiliki pengalaman bekerja jauh lebih banyak dari mereka. Nilai lebih inilah yang membantu saya untuk memahami semua topik pengajaran.

Kembali ke The Jakarta Post

Tanpa disadari satu tahun telah berlalu dan program master telah selesai. Saya merasa beruntung untuk dapat menyelesaikannya tepat waktu disamping kekurangan yang saya miliki.

Setelah kelulusan pada bulan Agustus 2015, saya langsung kembali ke Indonesia untuk meneruskan posisi lama saya di The Jakarta Post yang merupakan bagian dari persetujuan menjalankan program S2 dengan mereka. Tentunya juga karena saya mencintai pekerjaan saya sebagai seorang jurnalis.

Subjek yang saya pelajari dari program the Strategic Studies pada akhirnya membantu pekerjaan saya

khususnya dalam pelaporan dan penulisan tentang politik Indonesia, serta masalah keamanan dan pertahanan.

 

 

BACA JUGA:

 

10 UNIVERSITAS TERBAIK DI SINGAPURA

BIAYA KULIAH DI SINGAPURA

TIPS MERENCANAKAN KARIR SEBELUM LULUS KULIAH

SEMUA YANG PERLU KAMU KETAHUI UNTUK KULIAH DI SINGAPURA

 

 

Source:

Artikel asli di publikasikan oleh www.indonesiamengglobal.com,

'a non-profit website for Indonesians aspiring to study and or pursue professional opportunities abroad'.

Mencari jurusan

Pilih negara
JenjangPendidikan*
TENTANG PENULIS

author image