Bulan Ramadan adalah bulan yang dinanti-nanti oleh umat Islam di seluruh dunia, termasuk teman-teman kita yang sedang kuliah di luar negeri. Walaupun begitu, menjalani puasa pada masa pandemi di negara asing tentu membawa tantangan-tantangan baru untuk mereka.
Kali ini, kolumnis Indonesia Mengglobal, Dini Putri Saraswati, berkesempatan mewawancarai Nuril Munfaridah mengenai pengalamannya berpuasa saat kuliah di Belanda pada masa-masa awal pandemi. Yuk, simak kisahnya untuk tahu keseharian Nuril dalam menjalankan ibadah puasa di luar negeri saat pandemi COVID-19.
Hai, Nuril! Sebelum mulai wawancaranya, mungkin kamu bisa memperkenalkan diri secara singkat ke pembaca Hotcourses Indonesia?
Halo, saya Nuril Munfaridah, biasa dipanggil Nuril atau Nunu. Saya adalah salah satu pengajar program studi Pendidikan Fisika di Universitas Negeri Malang, Indonesia. Saya mengambil S3 Science Education di University of Groningen, Belanda sejak September 2017 dan alhamdulillah berhasil mendapatkan gelar PhD pada awal 2022.
Pada waktu dunia dinyatakan dalam situasi pandemi di tahun 2020, kamu tengah memasuki tahun ketiga perkuliahan di Belanda. Bagaimana sih situasi di Groningen saat bulan puasa waktu itu?
Alhamdulillah saat itu kondisinya mulai membaik, walaupun protokol kesehatan covid-19 tetap diberlakukan - misalnya harus tetap menggunakan masker saat berada di luar rumah, menjaga kebersihan, dan tentunya melakukan physical distancing.
Kampus University of Groningen sendiri belum sepenuhnya dibuka untuk kegiatan belajar mengajar, tetapi laboratorium sudah dibuka untuk melakukan kegiatan penelitian.
Selain pandemi, kamu juga harus menghadapi waktu puasa di Belanda yang lebih lama dibanding dengan waktu berpuasa di Indonesia. Bagaimana cara kamu menjalankan ibadah di bulan suci pada waktu itu?
Jujur saja, Ramadan pada tahun 2020 sungguh berkesan bagi saya karena adanya pandemi COVID-19 yang mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya. Namun kondisi tersebut tidak menghalangi saya untuk tetap menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan.
Waktu berpuasa di Belanda jauh lebih panjang dibanding di Indonesia, kurang lebih 17 jam. Waktu subuh sekitar pukul 03.40 dan waktu magrib sekitar pukul 21.30. Cukup berat memang, apalagi di tengah musim panas. Selain itu, situasi pandemi memaksa saya untuk work from home (WFH), sehingga hari terasa sedikit lebih lama dibanding hari-hari biasa saat masih bisa beraktivitas di luar rumah.
Karena terlalu lama berada di rumah, terkadang saya merasa bosan dan cenderung lebih cepat lapar. Saya mengakalinya dengan cara mengobrol dengan para housemate saya untuk mengisi waktu sekaligus mengalihkan rasa lapar.
Kami juga sering melakukan berbagai macam kegiatan ngabuburit bersama - misalnya memasak bersama untuk berbuka puasa, pergi ke toko untuk berbelanja keperluan sehari-hari, dan berjalan-jalan di taman yang terletak di sekitar rumah untuk menghirup udara segar.
Bagaimana dengan stok bahan makanan pada waktu itu di Groningen? Apakah kamu merasa kesulitan mendapatkan makanan halal di sana?
Jujur saja, pada awal pandemi kami cukup kesulitan mendapatkan bahan makanan pokok, seperti beras dan tepung terigu, karena banyak toko yang kehabisan stok. Namun lama-kelamaan kondisi berangsur membaik, jadi kami tidak kesulitan lagi mendapatkan bahan makanan pokok. Hanya saja, kami tetap harus mengantre sebelum masuk ke toko-toko karena ada pembatasan jumlah pengunjung untuk membendung penyebaran COVID-19.
Terkait makanan halal, saya sangat bersyukur karena Belanda merupakan salah satu negara di Eropa yang cukup ramah terhadap kaum muslim. Jadi toko atau restoran yang menyediakan makanan halal dengan harga terjangkau sangat mudah ditemukan .
Tak hanya itu, saya juga bisa mendapatkan masakan Indonesia yang terjamin kehalalannya dengan harga yang cukup terjangkau. Setiap hari Senin – Sabtu, ada sekelompok ibu-ibu (para istri dari teman-teman pelajar Indonesia) yang berjualan berbagai macam masakan Indonesia dengan harga sekitar 5 – 7 Euro per porsi.
Menurut saya porsinya cukup besar untuk satu orang, sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif untuk menu sahur sekaligus berbuka puasa. Jasa boga ini sungguh membantu kami yang terkadang tidak sempat memasak atau sekadar rindu dengan masakan Indonesia.
Kegiatan apa saja yang kamu lakukan di bulan Ramadan saat pandemi? Apakah ada yang berubah dibanding bulan Ramadan di tahun-tahun sebelumnya?
Kebetulan saya waktu itu tinggal bersama dengan empat orang Indonesia dan semuanya beragama Islam, sehingga kami sering melakukan sembahyang bersama. Kami biasa melakukan kegiatan santap sahur bersama setiap pagi menjelang waktu subuh dan berbuka puasa bersama pada saat magrib.
Setelah berbuka puasa, kami melakukan salat magrib, isya, dan tarawih berjamaah di rumah. Hal yang mungkin agak berbeda dibanding sebelumnya adalah salat yang biasanya dilakukan di masjid secara berjamaah kami lakukan di rumah saja.
BTW, ada juga komunitas muslim di Groningen, lho! Namanya DeGromiest. Biasanya saya dan para anggota DeGromiest melakukan acara pengajian rutin mingguan sebagai sarana untuk menyambung tali silaturahmi.
Sayangnya, pengajian tersebut hanya dilakukan di rumah masing-masing melalui conference call di masa pandemi. Agar tidak bosan, kami juga melakukan permainan kuis online yang dimulai sekitar pukul 18.30 sembari menunggu azan magrib. Walaupun rasanya agak berbeda karena tidak bertemu langsung dengan teman-teman, syukurlah pengajian berjalan dengan cukup khidmat dan menyenangkan.
Oh iya, acara pengajian rutin yang diselenggarakan oleh DeGromiest ini tidak hanya diikuti oleh dewasa saja. Ada juga pengajian khusus untuk anak-anak. Berhubung waktu itu kami harus tetap di rumah, pengajian untuk anak-anak juga dilakukan secara online.
Supaya lebih seru, diadakan kegiatan prakarya yang dilakukan anak-anak di sela-sela kegiatan pengajian. Melihat adik-adik membuat kerajinan tangan cukup menghibur, apalagi di tengah kebosanan yang melanda selama WFH.
Selain itu, karena saya dan para housemate saya tidak dapat mengadakan acara buka puasa bersama di rumah, kami berinisiatif memasak bersama dan membagikan masakan kami kepada teman-teman untuk berbuka puasa. Rasanya menyenangkan sekali dapat tetap berbagi di bulan suci di tengah pandemi!
Walaupun bulan puasa tahun 2020 banyak tantangannya, kamu terlihat cukup ceria dan bersemangat pada waktu itu. Apa rahasianya?
Karena waktu berpuasa yang cukup panjang, saya mengatur waktu bekerja dan beristirahat sebaik mungkin agar tetap bugar, apalagi di tengah pandemi.
Saya memilih untuk tidak tidur setelah berbuka puasa dan mengganti jam tidur menjadi pukul 04.00 – 10.00 agar waktu tidur tidak terganggu oleh sahur dan berbuka puasa. Selain pada waktu-waktu tersebut, saya beraktivitas seperti biasa. Saya berusaha memaksimalkan waktu saya untuk bekerja sebagai pengalihan dari rasa lapar yang melanda, sekaligus menjaga produktivitas walaupun lebih banyak berada di rumah.
Selain itu, saya juga selalu menjaga asupan makanan dengan mengonsumsi air mineral, buah, dan sayur yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh. Kemudian, yang tidak kalah penting adalah tetap berusaha untuk berpikir positif sambil melakukan hal-hal yang saya sukai. Karena bagaimanapun juga, pikiran yang sehat akan membentuk tubuh yang sehat pula.
Adakah pesan yang ingin kamu sampaikan kepada teman-teman lain yang saat ini sedang menjalankan ibadah puasa?
Bagi teman-teman yang sedang berpuasa, saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga amal ibadah kita dapat diterima oleh Allah SWT dan pandemi ini dapat cepat berlalu. Stay healthy!
***
Suka dengan wawancara di atas? Coba simak artikel-artikel lain mengenai studi di Belanda yang menyediakan panduan lengkap kuliah di sana dan informasi mengenai beasiswa ke luar negeri.
Bila kamu ingin mendapatkan berita pendidikan internasional terbaru dan informasi terkini dari berbagai universitas di Belanda, pastikan kamu follow semua kanal media sosial Hotcourses Indonesia ya!
Ingin kuliah di luar negeri seperti Nuril? Langsung saja daftar untuk konsultasi GRATIS dengan konselor IDP yang siap membantumu mendaftar dan kuliah di berbagai universitas unggulan di mancanegara.
BACA JUGA:
-
KULIAH DI MASA PANDEMI: CERITA STUDI CLAUDIA DI BRISTOL DENGAN BEASISWA CHEVENING
-
JENIS-JENIS KETERAMPILAN YANG AKAN BANYAK DICARI PASCA PANDEMI
Profil penulis:
Dini adalah dosen HI di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur & Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Dini meraih gelar Master of Arts in International Relations and International Organisations dari University of Groningen di tahun 2018. Dini sangat peduli dengan International Studies karena fokus utamanya adalah International Security dan Development Studies. Saat akhir pekan, Dini biasanya menghabiskan waktu dengan membaca buku atau berolahraga di gym. Dini bisa dihubungi via email di dps.dini@gmail.com.
Sumber:
Artikel asli dipublikasikan oleh IndonesiaMengglobal.com
'A non-profit website for Indonesians aspiring to study and or pursue professional opportunities abroad'.
Sumber foto:
Dok. pribadi Nuril M.