Semenjak diluncurkan pada bulan Juli 2021, graduate visa telah membantu banyak pelajar internasional untuk tinggal lebih lama di Inggris dan mendapatkan pekerjaan setelah masa studi berakhir.
Sutan Ashari Mufti, atau yang akrab dipanggil Sutan, adalah salah satu pelajar dari Indonesia yang sukses mendapatkan pekerjaan di Inggris sebagai seorang engineer di sebuah perusahaan energi terbarukan dengan menggunakan graduate visa setelah menyelesaikan studi S2 di University College London (UCL). Dalam artikel ini, Sutan akan berbagi cerita mengenai pengalamannya mendapatkan pekerjaan di Inggris dengan graduate visa.
Ketertarikan Terhadap Bidang Infrastruktur
Sebelum melanjutkan studinya ke Inggris, Sutan berhasil menyelesaikan studi S1 di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Perencanaan Wilayah Kota. Ketika mendalami studinya di ITB inilah Sutan menemukan ketertarikan terhadap bidang perencanaan dan pembangunan infrastruktur. Menurutnya, ada banyak hal yang bisa ia pelajari dan kuasai. Tidak hanya ilmu eksak, Sutan juga mempelajari bidang sosial seperti hukum, ekonomi, sosiologi, pengembangan komunitas, dan sebagainya. Melihat ada potensi diri dan prospek karir di masa depan yang cukup menjanjikan, Sutan memutuskan untuk mendalami bidang infrastruktur lebih lanjut.
Setelah lulus S1 dari ITB, Sutan sempat bekerja sebagai perencana kota di suatu perusahaan rancang kota di Bandung. Karena masih memiliki semangat belajar yang tinggi, Sutan pun melanjutkan studinya mengambil S2 di University College London jurusan MSc Infrastructure Planning, Appraisal and Development. UCL menjadi pilihan Sutan karena reputasi pendidikannya yang dikenal bagus di tingkat dunia dan memiliki jurusan spesialisasi di bidang infrastruktur.
Selama menempuh pendidikan di UCL, Sutan menyadari bahwa negara maju seperti Inggris masih berkembang dalam bidang infrastruktur. Berbeda dengan Indonesia, perencanaan infrastruktur di Inggris lebih terbuka terhadap pendapat masyarakat sekitar. Selain itu, pembangunan infrastruktur di Inggris juga lebih bervariasi sehingga banyak yang bisa dipelajari dari segi perencanaan. Karena alasan itulah, Sutan memilih untuk berkarir di Inggris setelah menyelesaikan studi S2-nya.
Bekerja di Inggris Sebagai Spatial Data Engineer
Saat ini, Sutan bekerja sebagai Spatial Data Engineer di sebuah perusahaan di London yang mengembangkan solar farm di Inggris. Solar farm merupakan sumber energi yang cukup populer di Inggris dan peminatnya meningkat seiring dengan situasi global yang mempengaruhi pasokan energi Inggris dan kesadaran masyarakat akan dampak dari penggunaan bahan bakar fosil terhadap lingkungan.
Sebagai seorang Spatial Data Engineer, Sutan bertugas untuk membangun infrastruktur data yang berkaitan dengan data geografis dan perpetaan dari berbagai sumber serta melakukan analisa untuk pengembangan solar farm. Berbekal ilmu yang dipelajarinya selama S2, Sutan dapat menyajikan data khusus yang dibutuhkan infrastruktur tertentu dan dapat memberikan rekomendasi yang tepat sasaran. Selain itu, Sutan juga bekerja untuk melakukan otomatisasi sistem yang sudah ada sehingga bisa berjalan dengan lebih efisien dan produktif.
Bekerja di Inggris menjadi suatu pengalaman yang sangat berharga bagi Sutan. Selain mendapatkan banyak ilmu baru dan relasi, kemampuan bahasa Inggris Sutan jadi meningkat karena sering berinteraksi dengan orang-orang di kantor yang sebagian besar adalah warga asli Inggris. Bahasa merupakan satu hal yang diakui Sutan menjadi tantangan di masa-masa awal Sutan bekerja. Akan tetapi, karena orang-orang di kantor yang toleran dan paham bahwa bahasa Inggris bukan merupakan bahasa pertama Sutan, membuat Sutan jadi bersemangat untuk belajar dan memperbaiki bahasa Inggrisnya agar dapat berkomunikasi lebih lancar. Selain itu, pimpinan perusahaan yang ramah dan terbuka juga membuat Sutan mudah beradaptasi dengan budaya kerja di Inggris.
Sutan di depan kampus University College London
Pengalaman Mencari Kerja di Inggris
Menurut Sutan, proses mencari kerja di Inggris tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Sutan mendapatkan informasi lowongan kerja di Inggris dari situs pencarian kerja yang ada di internet, seperti Linkedin. Sutan mengirim lamaran pekerjaan ke sekitar 40 perusahaan dan beberapa diantaranya lanjut ke tahap berikutnya. Sejak proses awal melamar pekerjaan, Sutan selalu terbuka ke setiap perusahaan bahwa ia menggunakan graduate visa yang hanya berlaku selama 2 tahun dan membutuhkan sponsored visa agar bisa tinggal lebih lama setelah masa visa berakhir.
Dengan perusahaan yang sekarang, Sutan harus melalui 2 tahap interview sebelum berhasil mendapatkan pekerjaannya. Interview pertama dilakukan secara online dengan direktur utama perusahaan. Interview berikutnya dilakukan di kantor dan menguji kemampuan Sutan untuk menyelesaikan masalah yang ada. Tidak lama setelah itu, Sutan mendapatkan pengumuman bahwa ia berhasil diterima di perusahaan tersebut.
Proses mencari kerja di Inggris bagi Sutan cukup memakan waktu. Sembari menunggu, Sutan bekerja part time sebagai barista di toko kopi di London dan freelance di suatu bank pembangunan internasional. Menurutnya, pengalaman menjadi barista dan freelancer mengasah kemampuan soft skill yang sangat berguna bagi pekerjaannya yang sekarang.
Saran Bagi Pencari Kerja
Agar bisa sukses mendapatkan pekerjaan di Inggris, ada beberapa saran yang Sutan berikan.
Yang pertama, latihan untuk self branding yang menarik dalam bahasa Inggris. Tentunya kamu harus percaya diri dan yakin dengan kemampuan yang kamu miliki. Jika kamu dihadapkan dengan suatu hal yang tidak kamu ketahui, tunjukkan bahwa kamu dengan antusias akan mempelajarinya.
Kemudian, bangun portofolio dalam bahasa Inggris. Menurut Sutan, perusahaan di Inggris sangat melihat pengalaman kerjamu. Ada baiknya kamu memiliki pengalaman kerja – baik itu magang, freelance, atau lainnya – yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang akan kamu lamar.
BACA JUGA:
8 Skill Yang Paling Dibutuhkan Dunia Kerja Tahun 2023
Keterampilan Yang Diperlukan Oleh Para Mahasiswa Di Abad 21
10 Bahasa Yang Paling Dicari Di Pasar Kerja Internasional