Nama Nisa Sri Wahyuni adalah salah satu nama yang kini trending di media sosial. Beberapa waktu lalu, salah satu tulisan Nisa di LinkedIn mengenai perjalanannya kuliah S2 di Imperial College London serta latar belakang keluarganya menjadi viral dan menginspirasi banyak orang.
Dalam tulisan tersebut, Nisa membagikan foto favoritnya bersama sang ayah yang memakai jaket ojol. Ia juga menekankan bahwa terlepas dari latar belakang keluarga, kesuksesan bisa diraih siapa saja yang mau bekerja keras.
Untuk mengulik rahasia di balik kesuksesan Nisa, Hotcourses Indonesia berbincang santai dengan Nisa mengenai strateginya untuk mewujudkan cita-citanya berkuliah di luar negeri. Yuk, simak cuplikan perbincangannya berikut ini.
Q: Hai, Nisa! Kisah kamu kan lagi viral banget nih. Bisa cerita sedikit nggak tentang keputusan kamu untuk berbagi kisah ini di dunia maya?
A: Jadi aku orangnya memang suka menulis. Sebelumnya aku sudah suka membuat tulisan di Whatsapp pribadi, tapi belum pernah aku share. Lalu suatu hari aku ingin mengangkat satu value dalam hidupku untuk dibagikan di LinkedIn yang menurutku merupakan media sosial profesional.
Dalam tulisanku di LinkedIn memang ada fotoku bersama Bapak yang sedang memakai jaket ojol, tapi aku tidak terlalu ingin meng-highlight mengenai latar belakang ekonomi keluargaku. Meskipun kedua orang tuaku latar belakang pendidikannya hanya sampai SD, tapi mereka berdua adalah sosok inspiratif yang mengajarkanku bahwa kerja keras akan terbayarkan dan kita bisa percaya pada proses. Pada intinya, aku ingin membagikan value bahwa jika kita konsisten, maka kita bisa mencapai hal yang kita inginkan.
Pada saat aku upload tulisan itu, aku sama sekali tidak menyangka akan viral. Aku terharu banget saat membaca komentar-komentarnya, terutama komentar menyentuh dari seorang ayah yang mengatakan ia jadi tambah semangat membesarkan anak-anaknya setelah membaca tulisanku. Jadi ternyata tulisanku tidak hanya menginspirasi anak muda, tapi juga para orang tua.
Q: Wah, jadi kesuksesan Nisa mengambil S2 di Inggris tidak terlepas dari dukungan dan inspirasi dari orang tua ya. Tapi sebenarnya apa sih yang membuat kamu tertarik untuk kuliah di luar negeri, khususnya di Imperial College London?
A: Aku sebenarnya dulu ingin kuliah kedokteran. Namun karena khawatir masalah biaya, akhirnya aku nurut dengan orang tua dan memilih masuk Fakultas Kesehatan Masyarakat di UI. Nah, di awal-awal kuliah aku nggak tahu Kesehatan Masyarakat itu apa.
Untungnya, aku bertemu dengan beberapa pembicara di masa orientasi kuliah yang menginspirasiku. Dari cerita-cerita mereka, aku jadi tahu bahwa ada keilmuan yang namanya Epidemiologi.
Selama kuliah S1, aku mencoba mendalami Epidemiologi. Masalahnya, aku kuliah 3,5 tahun dan jatah waktu untuk mempelajari ilmu ini hanya 3 semester. Jujur aku merasa 3 semester terlalu pendek dan aku ingin tahu lebih dalam lagi mengenai Epidemiologi. Akhirnya mulai saat itu aku bercita-cita untuk kuliah di luar negeri.
Setelah aku mulai bekerja, aku merasa ada knowledge gap yang bisa aku isi dengan kuliah S2 di luar negeri. Jadi aku mulai melihat-lihat silabus jurusan-jurusan kuliah S2 Epidemiologi di luar negeri. Dari situ, aku makin yakin bahwa Epidemiologi adalah program studi yang tepat untukku.
Pilihanku jatuh pada 2 program di Inggris, yaitu MSc Epidemiology di Imperial College London dan MSc Epidemiology di London School of Hygiene & Tropical Medicine (LSHTM). Namun aku akhirnya lebih memilih Imperial - yang memang sudah aku incar dari awal - berhubung persyaratan di LSHTM agak lebih berat.
Q: Berarti kamu risetnya cukup terperinci sebelum kuliah ke luar negeri ya. Bisa di-share nggak proses atau langkah-langkah yang kamu ambil untuk akhirnya bisa kuliah di luar negeri?
A: Aku orangnya tipe planner dan aku juga suka belajar dari kisah-kisah orang lain. Seperti yang aku ceritakan tadi, aku memang sudah ingin kuliah ke luar negeri sejak sebelum lulus kuliah. Namun motivasiku bertambah kuat sejak aku kerja dan juga mencari tahu info dari senior-senior.
Dari saat itu aku mulai mencari sumber-sumber beasiswa. Karena aku planner, jadi aku mencari beasiswa yang paling dekat pendaftarannya. dan pada waktu itu yang paling dekat adalah beasiswa LPDP. Sayangnya, aku gagal mendapatkan beasiswa LPDP.
Sehabis itu, aku tetap berniat mencari beasiswa karena aku tahu ada banyak sumber beasiswa lain - seperti beasiswa dari Pemerintah Negara destinasi studi atau beasiswa dari pihak universitas.
Jadi tiap kali aku gagal mendapatkan beasiswa, aku langsung membuat rencana untuk mendaftar beasiswa lainnya. Dalam kata lain, aku selalu punya back-up plan kalau aku gagal.
Setelah 2 tahun dan 7 kali ditolak, aku akhirnya berhasil menjadi awardee beasiswa LPDP Afirmasi.
Q: Gimana perasaan kamu waktu akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa?
A: Pada waktu itu kan aku sudah ditolak 7 kali. To be honest, aku waktu itu sudah di titik pasrah. Kalau lolos alhamdulillah dan kalau tidak lolos mungkin Allah punya rezeki lain untukku.
Ketika aku dapat beasiswa, aku memang bersyukur tapi nggak yang senang banget. Aku bahkan nggak nge-post beritanya. Aku merasa ketika kita di titik di mana kita benar-benar pasrah kepada Tuhan, kita akan langsung mendapatkan hal yang kita butuhkan.
Q: Setelah dapat beasiswa, bisa dibilang perjalan kamu menuju Imperial College London baru dimulai karena institusi yang satu ini terkenal ketat seleksi masuknya. Boleh cerita sedikit proses atau perencanaan yang kamu lakukan sampai bisa kuliah di sana?
A: Waktu itu aku dapat conditional offer letter (surat penerimaan bersyarat) dari Imperial karena belum memenuhi syarat skor IELTS. Masalahnya pada waktu itu skor IELTS-ku 6, tapi skor yang dibutuhkan untuk masuk Imperial adalah 7.
Akhirnya aku mengikuti tes IELTS lagi, namun hasilnya belum sesuai syarat masuk. Lalu aku mengikuti pengayaan bahasa Inggris intensif di Yogyakarta. Setelah itu, aku kembali mengikuti tes IELTS pada akhir Juli 2019. Walaupun begitu, skor yang aku terima masih di angka 6.
Karena perkuliahan di Imperial dimulai pada bulan September, aku cuma punya waktu 1 bulan di Agustus 2019 untuk mempersiapkan skor IELTS. Jadi akhir bulan Agustus aku memutuskan untuk totalitas dan berangkat ke Surabaya demi mengikuti tes IELTS lagi untuk yang kelima kalinya. Setelah keluar hasilnya, ternyata skor yang aku terima adalah 6.5.
Aku terus berkomunikasi dengan pihak Imperial sepanjang proses itu dan aku ternyata menemukan kalau di fakultasku ada pengecualian khusus untuk calon mahasiswa yang memiliki kontribusi yang signifikan di bidang kerjanya.
Nah, dulu aku sempat menjalankan program penanganan kanker di Indonesia yang benar-benar dari awal sampai ada beberapa pasien. Aku kemudian meminta rekomendasi dari supervisor-ku di program tersebut. Rekomendasi itu aku kirimkan ke pihak Imperial bersama dengan skor IELTS-ku yang terakhir untuk mengajukan pengecualian.
Alhamdulillah, setelah beberapa hari, pengajuan pengecualian itu diterima.
Q: Cerita kamu ini bisa banget jadi tips buat pembaca Hotcourses Indonesia ya. Saat memilih universitas di luar negeri, ada baiknya persyaratan masuknya diteliti selengkap mungkin. Karena di luar skor tes bahasa Inggris, pengalaman karir dan kontribusi saat kerja juga bisa menjadi nilai tambah untuk kasus-kasus khusus.
A: Untuk masalah kerja ini, aku juga banyak menerima pertanyaan tentang sebaiknya kerja dulu atau langsung S2.
Q: Nah, itu juga sering banget ditanyakan ke tim Hotcourses Indonesia! Kalau menurut pengalaman Nisa gimana?
A: Dulu orangtuaku meminta kalau bisa ilmu yang sudah aku dapatkan setelah 3,5 tahun kuliah diaplikasikan dulu. Ternyata ada hikmahnya aku menuruti permintaan orangtua untuk bekerja dulu, karena yang membawa aku masuk ke Imperial ternyata adalah hasil kerjaku.
Q: Ngomong-ngomong, Imperial College London kan masuk dalam peringkat 10 besar sedunia nih. Bisa digambarkan perasaan kamu waktu akhirnya berhasil melewati semua kesulitan dan masuk ke perguruan tinggi yang bergengsi ini?
A: Masyaallah. Waktu masuk kampusnya aku sampai nangis. Aku nggak percaya aku bisa diterima, tapi Allah memberikan kesempatan. Dari awalnya aku yang nggak bisa bahasa Inggris, ternyata malah bisa kuliah di Inggris dan di perguruan tinggi yang masuk ranking top 10. Jadi aku benar-benar bersyukur.
Aku merasa ini bukan pencapaianku pribadi saja. Ini juga merupakan pencapaian orangtuaku, keluargaku, dan orang-orang lain yang menjadi support system-ku.
Q: Dalam pandangan banyak orang, keberhasilan Nisa kuliah di luar negeri sudah membuktikan bahwa apa yang terkesan impossible ternyata possible banget asal tahu strateginya. Apakah kamu punya tips untuk para pelajar yang ingin keluar negeri tapi nggak ada resources ataupun ide untuk mengambil langkah pertama menuju ke sana?
Yang ingin aku tekankan buat teman-teman Hotcourses Indonesia yang membaca artikel ini adalah kita semua sama dan kita punya Tuhan yang maha besar. Mungkin di luar sana ada yang punya privilege berupa kondisi ekonomi yang lebih baik dari kalian dan sebagainya, tapi itu nggak bisa men-define kalian sampai kalian harus menyerah karena kondisi ekonomi. Kuncinya adalah kalian harus mengubah mindset kalian.
Misalnya kalian punya keterbatasan dalam belajar bahasa Inggris. Ya udah, mindest kalian harus diubah. Kalau kalian tahu kekurangan kalian, kalian harus cari tahu solusinya. Jadi jangan fokus ke masalahnya, tapi fokuslah ke mencari solusi dengan resources yang ada.
Kalau kalian bingung cara mendapatkan resources, kita sebenarnya punya privilege berupa teknologi dunia saat ini. Kemudahan mengakses internet adalah privilege paling besar untuk anak muda jaman sekarang.
Pertama-tama, kalian bisa menggunakan internet untuk mencari orang-orang yang sukses kuliah di luar negeri. Cari tahu langkah-langkah yang mereka ambil agar kalian bisa belajar dari mereka. Kalian juga bisa memanfaatkan Google untuk mencari beasiswa.
Aku juga pernah baca komentar "No Excuses!". Pokoknya, orang-orang hebat itu nggak pernah bikin excuse atau alasan dalam hidupnya. Jadi jangan mencari-cari celah untuk berkata "Kayaknya nggak bisa deh!"
Start your plan and don't give up. Karena it's only about time.
Mungkin kalian pernah membandingkan diri dengan orang lain dan bertanya-tanya kenapa dia sudah mencapai titik finish-nya tapi kalian belum. Padahal kalian mungkin nggak tahu kalau cerita perjuangannya dua kali lipat dibanding kalian.
Fokuslah pada diri kalian sendiri. Jadi kalau melihat orang hebat, ambil sisi yang bisa kalian pelajari dan jangan membanding-bandingkan diri kalian dengan orang tersebut.
***
Sudah terinspirasi untuk kuliah di Inggris setelah membaca wawancara dengan Nisa? Langsung saja telusuri direktori beasiswa untuk kuliah di luar negeri dan simak panduan lengkap untuk kuliah di Inggris yang telah disusun oleh tim Hotcourses indonesia.
Bila kamu ingin mendapatkan berita pendidikan internasional terbaru dan informasi terkini dari berbagai universitas di Inggris, pastikan kamu follow semua kanal media sosial Hotcourses Indonesia ya!
Ingin kuliah di Inggris seperti Nisa? Langsung saja daftar untuk konsultasi GRATIS dengan konselor IDP yang siap membantumu mendaftar dan kuliah di berbagai universitas unggulan di Inggris.
BACA JUGA:
-
BUKAN HANYA LONDON, INI PILIHAN KOTA LAIN UNTUK KULIAH DI INGGRIS
-
JENIS-JENIS KETERAMPILAN YANG AKAN BANYAK DICARI PASCA PANDEMI
-
PILIHAN KARIR YANG BISA KAMU AMBIL SETELAH LULUS KULIAH DI UK